
[Halloo wil? ].
[Ya ada apa Jar? Tumben lu telpon gue. ]
[Nanti malam bisa gak kita untuk bertemu? ]
[Ada apa nih broo, kayanya penting? sampe gak mau bicara di telpon. ]
Nijar pun bertemu dengan Wildan di caffe, pertemuan untuk pertama kali kembali dengan Wildan, karena sejak temannya itu memutuskan untuk pindah apalagi di tambah sekarang sudah menikah.
"Ada apa nih bro, sampe ngajak ketemuan gini? "
"Gini wil, menurut pandangan lu aja yah salah gak gue melakukan hal ini? "Nijar menjelaskan secara rinci semua kejadiannya.
" Apaa? gue gak salah dengar kan jar? Lu mau merebut Nabila dari Hakim sedangkan lu sekarang sudah menikah lagi? Gue gak abis fikir sama jalan pikir lu jar, "
"Gue hanya minta pendapat lu, lu malah tanya balik gue sih. "
"Ya pendapat gue, jelas lu salah jar, gue bener-bener gak ngerti sama jalan pikiran lu jar. "
"Terus gue harus bagaimana? "
"Bagaimana lu bilang jar? Lu lupa apa gimana? "
"Lu yang pernah menyia-nyiakan kepercayaan Nabila dulu, lu juga yang membuat pengkhianatan pada nya.Terus sekarang lu mau merebut Nabila dari Hakim setelah Hakim memberi kebahagiaan buat dia. "
"Lu ingat jat, saat lu tau bahwa Henna berselingkuh dengan Luki bagaimana marahnya lu kedia meskipun lu sudah menjatuhkan cerai padanya, terus sekarang lu gak pikirin bagaimana perasaan istri lu gitu?Bukannya lu sendiri yang memaksa dia buat nikah sama lu jar? "
Wildan merasa geram mendengar cerita yang Nijar katakan. Temannya ini serasa tak pernah bersyukur dengan apa yang ia miliki saat ini.
Ternyata memang benar kata pepatah ”buah jatuh tidak jauh dari pohonnya”. Itu hanya menurut pandangan wildan, tidak semuanya begitu.
Nijar hanya terdiam mendengar penuturan yang Wildan katakan. Dirinya tak terima dengan semua kata yang Wildan tuturkan.
"Jadi maksud lu apa yang gue lakukan itu salah? "
"Ya jelas salah jar, pengen lu benarkan?"
"Gini ya jar lebih baik lu pikirkan semuanya dengan baik. Jangan sampai yang lu lakuin ini merungikan diri lu sendiri."
"Gue sudah memikirkan nya Wil, apa lu ingat saat gue bilang bahwa Nabila meminta gue untuk berpoligami lalu apa susahnya sekarang hah? "
"Ternyata lu memang egois jar, lu tau saat ini lu ngelakuin kesalahan besar. Nabila itu sekarang udah punya keluarga dan lu tau kan suaminya itu Hakim sahabat lu sendiri. "
"Gue tau dan gue sadar Wil, makanya dari itu gue meminta lu datang kesini buat ngebantu gue bujuk Hakim untuk merelakan Nabila sama gue lagi. "
"Apaaa? Lu gila jar. Gue gak mau ikut campur masalah ini, gue hanya ingatkan lu jangan melakukan hal yang gegabah atau itu akan merugikan diri lu sendiri. "
Wildan pun meninggalkan Nijar sendirian.Di sepanjang jalan Dirinya benar-benar tak paham dengan yang di pikirkan sahabatnya itu.
***
Wildan pun menemui Hakim di rumahnya.
"Assalamualaikum Kimm...? "
"Wa'alaikummussalam.. "
Jawab seorang wanita di balik pintu.
"Nabilaaa ,,Hakim ada? "
Nabila tak menjawab dia meninggalkan Wildan yang tak lama kemudian di susul dengan kedatangan Hakim.
"Masuk Wildan. "
"Hey bro,, gimana kabarnya sehat? "
"Alhamdulillah sehat wal'afiyat, kamu sendiri gimana wil? "
__ADS_1
"Ya beginilah seperti apa yang lu lihat gue mah. "
Wildan pun langsung menceritakan semuanya tentang pertemuan nya dengan Nijar barusan dan Nijar yang menyuruh Hakim untuk melepaskan Nabila, respon Hakim mendengarkan penuturan dirinya terlihat sangat santai.
"Sebenarnya gue juga bingung Wil dengan si Nijar. Dia bahkan berani berbicara terang-terangan seperti itu di hadapan gue bahkan di hadapan istrinya juga. "
"Jadi lu sudah tau kim? "
"Yaa,, gue juga tahu dari istrinya, dia menyuruh gue untuk membawa pindah Nabila dari tempat mengajarnya saat ini, karena jika tidak maka Nijar akan semakin mencintai Nabila kembali. "
"Dan lu pasti pindahkan? "
"Entahlah Wil, gak mudah mencari tempat yang nyaman untuk anak-anak, terutama lingkungannya juga. "
"Iya juga sih.. "
***
Sedangkan di Caffe Nijar masih saja terdiam, tak terima dengan semuanya. Apalagi pendapat yang di berikan Wildan dan Bude nya sama persis, mereka' menyalahkan atas perbuatan yang di lakukannya. Tidak ada yang membela dan yang mendukung atas perbuatannya itu.
Nijar *******-***** rambutnya, hingga ada seorang wanita yang mendekatinya.
"Butuh saya temani Maass..? " ucap seorang perempuan di telinganya.
"Jika Mas kesepian, saya akan menemani mas sampai mas tak merasa kesepian. "
"Fitriii.. "
Nijar yang kaget saat mengetahui wanita itu adalah fitri mantan pengawainya.
"Haii .. Pak bos Nijar... "
"Kaaamuuu..? "
"Gak usah begitu pak melihat saya, nanti terpesona lohh.. "
"Minggir, saya tak butuh di temani oleh perempuan seperti mu. "
Pikiran Nijar semakin kacau saat ini, saat melihat Fitri.. Bagaimna tidak malam ini Fitri terlihat begitu sangat berbeda.
Nijar memutuskan untuk tidak pulang ke rumah dia malah pergi ke bar.. Entah apa yang akan di lakukannya disana .Karena ini adalah pertaman kalinya ia pergi ketempat seperti ini.
Bukannya lebih baik tapi ini lebih buruk dari dugaannya, niat ingin menjernihkan pikiran malah harus bertemu dengan Henna. Wanita yang sangat ia benci karena tak mau mengakui putrinya sendiri.
"Wiiihhh,, ada okb kayanya.. "
Nijar tak menanggapinya.
"Sombong amat baru pertama kali kesini juga.. "
"Heeyy kalian semua nya lihat nihh, ada okb yang gayanya sombong sekali... "
Nijar memukul meja dengan begitu keras, hingga membuat Henna kaget.
"Lu ngapain ikut campur sama kehidupan gue, emangnya lu siapa hah? Kenal juga engga.. "
Henna kaget sekaligus malu dengan ucapan Nijar.
"Kalau gak kenal jangan begitu lah Hen, buat orang gak nyaman saja. "
Huuuhhh... Huuuhhh..
Sorakan orang membuat diri Henna sangat malu.
Henna pun Menarik tangan Nijar dan membawa nya keluar.
"Kamu apa-apaan Henna,, menarik tangan saya begitu? "
"Kamu sengaja mempermalukan aku seperti itu..? "
__ADS_1
"Haaa... haaa mempermalukan?emangnya apa yang saya lakukan pada kamu hah? "
"Perlakuan mu pada saya. "
"Perlakukan saya seperti apa memangnya hah? Bukankah itu anda sendiri yang memulai lalu anda seenaknya menyalahkan saya? "
Henna bungkam.
"Kamu dengar Henna, kamu itu bukan siapa-siapa saya dan kamu tau semenjak kamu menyakiti hati Putri ku, kamu tak jauh lebih buruk dari sam*pah."
Plaaakk..
"Jangan sembarangan kamu berbicara Nijar, kamu tidak tahu semuanya. "
"Haaa.. haaa... tidak tahu kalau kamu murahan begitu? "
"Cukuupp Nijaaar... "
"Menyesal saya dulu pernah menikah dengan wanita seperti mu. "
"Kamu ingat kata-kata saya Nijar, apa yang kamu lakukan ini mungkin takkan selamanya berlangsung jika kamu mengetahui kebenarannya. Jadi kamu janga merasa paling baik, karena saya yakin anda tak semudah itu menerimanya. "
Nijar meninggalkan tempat itu dalam keadaan badan sedikit ma**uk. Namun sedikit mengganggu pikirannya dengan ucapan Henna.
Sesampainya di rumah Nijar yang kaget bahwa putrinya Caca menunggunya.
"Papaaahhh....? "
"Papa dari mana aja sih? Caca khawatir sama papah, maba juga sangat khawatir karena papa tak pulang-pulang. "
"Maba? "
"Mamah baik paahhh.. "
Nijat mengangguk tanda mengerti dengan ucapan putrinya. Tapi Nijar tak banya berbicara pada Caca.
"Papah masuk dulu ya sayang, papah cape pengen istirahat. "
"Nene.. Papah kenapa jalannya sempoyongan seperti itu? "
Nenek yang paham bahwa Nijar sedang setengah sadar itu tak bilang pada putrinya.
"Papah pasti sangat lelah sekali nak, jadi jalannya seperti itu karena terlalu sangat mengantuk. "
"Begitu ya nek.. "
Caca mempraktekan cara jalan papahnya, hingga gelak tawa tercipta diantaranya.
"Kita masuk yu,, sudah sangat malam ini, lagian sekarang kan papah sudah pulang. "
"Ayoo nek.. "
***
Di kamar. Nijar langsung merebahkan badannya di kasur, tak terkecuali dengan Vira yang kaget melihat suaminya dalam keadaan seperti ini.
"Kamu ma**uk bang? "
"Hemmm... "
"Kenapa kamu melakukan itu semua bang? "
"Berisiiikkk... "
"Aku hanya bertanya bang."
"Saya bilang berisik.. "
Vira yang tak menyangka dengan suaminya itu masih saja melamun dan terdiam, apa ini sikap asli suaminya sekarang.
__ADS_1
Vira yang sesekali menghapus air matanya mencoba tak mengeluarkan suara sedikit pun. Sesakit itu kah yang Vira rasakan.
...****************...