
Astagfirullohh..!
Aku lupa akan menjemput Abisha di rumah ibu, ternyata aku terbangun terlambat. Terik sinar mentari pagi sudah mulai panas, aku tidur begitu sangat pulasnya sampai tak sadar begini.
Bergegas aku bersiap-siap ke rumah ibu untuk menjemput Abisha, sesampainya disana rumah ibu terlihat begitu sangat sepi gordeng rumah pun masih tertutup begitu rapat. Apa mungkin ibu masih tidur?
Tok tok tok..
To tok tok...
Tok tok tok...
Berulang kali aku mengetup pintu rumah ibu namun tak kunjung juga di buka.
"Buuu...? "
"Assalamu'alikum bu...? " Nihil tak ada sautan juga.
Hingga aku menunggu beberapa jam ibu tak kunjung keluar rumah juga, kemana ibu sebenarnya. Abishaa papah rindu sayang, kamu kemana bersama nenek mu?
"Ibuuuu..? " Ku lihat ibu dari kejauhan sembari menggendong Abisha.
"Ngapain kamu kesini? " tanya ibu ketus padaku.
"Aku mau menjemput Abisha bu, semalam aku ketiduran."
"Halaah.. Palingan juga itu hanya alasanmu saja Jar, kemarin ibu kerumahmu dan Abisha kamu titipkan pada nenek tua itu lagi. Kalau kamu gak bisa mengurus Abisha dengan baik jangan coba pergi-pergi jauh. Main sampe lupa anak. "
"Buu kedatangan Nijar kesini mau membawa Abisha pulang, terserah jika ibu mau berpikir apapun tentang Nijar. Tapi, Nijar tak ingin ribut dengan ibu. "
"Biar Abisha tinggal sama ibu saja. "
"Buu,, Abisha anakku, aku yang lebih berhak menjaga nya. "
"Saya juga berhak Nijar, saya neneknya. "
"Nijar tahu buu,, tapi ini sudah tugas Nijar untuk menjaga Abisha. "
"Kamu fokus saja urusin toko mu itu sama nenek tua itu. "
"Ibu kenapa bilang seperti itu? "
"Mulut-mulut saya, terserah dong saya mau berucap apapun. "
"Abishaaa sayaaangg sini sama papah yu? " ajakku pada abisha yang berada di gendongan Ibu.
Abisha merespon apa yang aku katakan dia memberontak dan nangis ingin lepas dari gendongan neneknya.
"Sinii sayaangg anak papah? "
"Buu,, tolong berikan Abisha padaku, apa ibu tidak kasian dia sudah menangis begitu? " ucapku pada ibu.
Dengan sangat terpaksa ibu memberikan Abisha padaku "Niihhh."
"Jaga baik-baik cucu saya." Timpalnya sembari meninggalkan aku, ia langsung masuk kedalam rumah dan membanting pintu sedikit agak keras yang membuat Abisha spontan kaget.
"Aanak papa.. Maafin papa yah kemarin papa ninggalin kamu nya lama sayang. "
"Maamaaamm... "
"Abisha pengen mimi iya? "
__ADS_1
"Yaa yaaa... "
Aku pun pulang membawa Abisha, sifat ibu yang seperti ini membuat aku ragu untuk menitipkan Abisha sewaktu-waktu, walau mungkin ini adalah rasa sayang dan khawatirnya ibu pada cucu nya sendiri.
Siang harinya aku mendapatkan panggilan telpon dari rumah sakit yang mengabarkan Wildan sudah sadar, aku pun bergegas pergi kerumah sakit bersama Abisha tak lupa juga mengajak bude supaya nanti Abisha bisa di jaga bude, karena tak mungkin kan aku membawa Abisha masuk ke ruangan rawat.
"Budee hari ini mau gak temanin Abisha ke rumah sakit ? "
"Memangnya Abisha kenapa duk, apa dia sakit? " tanya bude penuh kekhawatiran.
"Engga bude, Nijar mau membesuk teman Nijar yang sakit tapi sambil mau bawa Abisha,"
"Ohh ya sudah budee mau temanin kamu duk, tapi kan bude sudah tua duk bagaimana bisa bude naik motor duk? "
"Bude tenang aja, kita gak bakalan naik motor ko, tak apa kan jika Nijar bawa bude naik angkot? "
"Ndak apa lah duk,, yang penting itu bude bisa temanin Abisha. "
Kami sudah sampai di rumah sakit, aku langsung memberikan Abisha pada bude. Bude tak ikut masuk ke rumah sakit dia hanya menunggu di taman rumah sakit saja, katanya supaya Abisha gak kesal dan nangis.
"Wiiilll,, syukurlah bro lu udah sadar. " ucap ku sembari memu**kul tangannya pelan.
"Aaawww,, sakit Jar. "
"Ya elah lebay amat sih lo wil cuman segitu aja gak keras. "
"Iyaaa.. Iyaaa sorry deh gue. " timpalku lagi.
"Maafin gue bro, karen gue udah bohongin lu dan nyembunyiin kebenarannya? "
"Ya elahh,gak apa-apa juga kali, santai aja lagian kan sekarang gak ada yang perlu di sesali. "
"Iyaa... Tapi gue serasa orang paling begzo du dunia ini jar. "
"Gitu amat lu ama gue jar.Tapi gue bersyukur banget lu datang tolongin gue, kalau saja lu terlambat sedikit saja mungkin gue udah jadi butiran debu. "
"Ya kali butiran permata. "
"Si Hakik kemana jar, ko belum nongol? " tanya nya padaku.
"Mana gue tau Wil, gue aja di telpon sama suster,, "
"Cieee,, cieee Pdkt sama suster nih. "
"Apaan sih wil, jadi sakit gini masih saja bercanda. "
"Ya siapa tahu lu jodoh tu ma itu suster, bisa kali kalau jodoh, cariin buat gue juga. "
"Assalamu'alaikum? " ucap orang di balik pintu.
"Ehh kimm,, wa'alaikumsalam. "
"Bagaimana keadaannya wil sudah mendingan? " tanyanya pada Wildan.
"Ya seperti yang lu lihat gue sehat, yang gak sehat tuh dia, " tunjuk Wildan padaku.
"Apaan sihh lu Wil gue sehat begini. "
"Ya lu gak sehat hatinya, lagi terpotek-potek haaa.... haaa. "
"Lebay luu.. "
__ADS_1
"Ehh gimana keadaan lu kim baik kan? Gak ada yang terluka? "
"Alhamdulillah saya baik, cuma Luki berhasil melarikan diri. "
"Biarin lah dia mau melarikan diri kemana juga, palingan juga ke rumah Henna. "
"Apaa? " ucap Hakim kaget.
"Yaa seperti yang di ucapkan Luki kemarin lusa dia telah bersama Henna selama ini. "
"Jadi orang yang sering saya lihat di jalan selihan itu mereka berdua. "
" lu juga tau? "tanya ku memastikan.
" Gak juga sih tapi sering banget lihat, mereka keluar masuk Penginapan gitu, ya saya cuman lihat dari fostur tubuh belakang nya aja sih. "
"Nahh kan berarti gue juga gak salah. " balas Wildan penuh semangat.
"Lu ingat gak jar waktu gue ngajak ketemuan di rumah lu itu, gue mau ngasih lihat bukti tapi gue malah keburu di sekapp.. Ehh,, masih ada untungnya juga sih gue sudah sempat kirim vidio itu sama bininya, sebenarnya juga gue sudah tahu dari lama jar, waktu kejadian dulu saat lu beri tahu kita tentang kehamilan si Henna itu, dari situ gue selalu cari informasi tentang dia.Tapi gue suka gaya bini lu jarr hee hee. "
"Jadi lu juga menyukainya, " pu*kul ku pada wildan.
Semuanya telah terbongkar, Hakim pun sudah mengetahui tentang perceraianku dengan Henna. Hakim mendukung keputusanku dan ya sekarang aku telah meikhlaskan Nabila bersama Hakim,laki-laki yang baik untuknya.
____
Terharu rasanya perasaan baru kemarin Abisha masih kecil sekarang dia sudah pandai sekali berbicara.
"Papahh, nanti Caca pengen ketemu ibu? " ucapnya berulang kali setiap kali dia melihat anak seusianya bermain bersama ibunya.
"Iya sayangg, nanti papah anterin kamu ya. "
"Papahh boongg,,"
"Papah gak bohong sayang, nanti ya setelah papa selesai ini. "
"Asiiikkk,, caca sayangg sama papah. " ucapnya sembari memelukku.
Maafkan papah nak, berulang kali papah selalu membohongimu, air mataku tak dapat membohongi kesedihan dan kerinduan yang di rasakan Abisha yang begitu rindu pada sosok ibu.
Henna apa kamu tak ada rasa sedikit peri kemanusiaan pada anakku sendiri, di usia nya yanh sekarang Abisha begitu sangat memerlukan kamu?
"Paak...? "
"Paak...? "
"Aaah, iya ada apa fit? "ucap salah seoranh pegawai ku.Alhamdulillah sekarang toko ku sudah banyak pelanggannya dan kini aku sudah tak mengontrak lagi melainkan toko milik sendir.
" Bapa pasti habis menangis lagi yaahh? "
"Apaan sihh fit, engga saya tadi kelilipan. "
"Ohh, kenapa pak Nijar gak nikah lagi aja? "
"Kamu ini ngomong apa sih fit. "
"Ya saya hanya memberi saran aja pak, mana tau bapa mau menikah lagi tapi belum ada calonnya, saya mau pak. "
"Saya gak kepikiran mau nikah lagi fit, lagian sekarang ini saya hanya mau fokus sama caca aja. "
Ucapan fitri membuat aku kepikiran apa aku menikah lagi saja supaya Caca tak terus terusan bertanya tentang Ibunya.Aku harua tanyakan dulu ini semua pada Bude, siapa tahu bude punya solusi.
__ADS_1
Apakah Nijar akan menikah kembali atau kah meminta persetujuan dari budenya dulu?
...Bersambung...