
"Vir,, maafin abang, abang gak ada maksud bicara seperti itu sama kamu. "
"Viiirr.. Tolong buka pintu kamarnya? "
Tak ada respon dari Vira,Vira yang hanya terdiam membisu di kamarnya, sembari sesekali mengusap air matanya.
"Viirr,,, apa kamu kenapa-kenapa? Maafkan abang sekali lagi, jika ini semua telah membuat hatimu terluka. "
"Kenapa sih kamu ini suami minta maaf malah di diamkam saja. Seharusnya kamu tak usah sakit hati, toh mereka juga bukan orang tua kamu yang sebenarnya kan? " teriak Nijar yang kesal terhadap istrinya, hingga melontarkan kat a-kata yang membuat Vira semakin sakit.
"Setidaknya mereka merawat aku dengan baik. " Ujar Vira merespon suaminya.
"Halaaahh,, kamu ini palingan juga mereka mau mengambil keuntungan dari kamu. Kamu kan sekarang sudah menikah dengan saya. " Tutur Nijar dengan begitu sombongnya.
"Kalau bukan karena mereka kamu takkan pernah bisa menikah dengan ku! "
Nijar membisu, ucapan Vira membuat nya kaget.
Nijar yang merasa lelah akhirnya pergi dari rumah, berkeluyuran di luaran sana,mencari ketenangan untuk dirinya.
Pikirannya kini seakan terbawa pada masa lalunya.Ya, saat dulu hidupnya bersama mantan istrinya Nabila, iya yang begitu sabar menghadapi sikap dirinya yang seperti ini. Ada rasa penyesalah yang begitu sangat besar pada Nijar. Namun semuanya sudah terjadi tak ada yang bisa aku lakukan.
"Bil kamu kenapa? "
"Aku tidak papa bang. " Timpal Nabila saat itu.
"Kamu mau kemana? "
"Aku lelah bang, aku mau beristirahat. Jika kamu mau makan aku sudah mempersiapkannya di meja makan. " Nabila yang dingin dan meninggalkan ku begitu saja.
"Apa ada sesuatu yang membuatmu seperti ini? " tanya Nijar.
"Aku tidak apa-apa bang, aku hanya ingin beristirahat. Semoga tak ada sesuatu yang kau sembunyikam dariku. "
Deegg..
Kenapa Nabila bisa berkata seperti itu, apa dia mengetahui tentang aku yang selalu pergi bersama Henna.
____
Ngapain sih jar kamu terua mikirin Nabila, dia sekarang sudah bahagia dengan orang lain bukan lu.
Seteguk kopi ku seruput, menemani hangatnya mulutku. Mata tertuju dan mata terfokus. Henna, Luki ? Ngapain mereka berduaan seperti itu, bukannya hubungan mereka sangat buruk setelah kasus dahulu.
"Kii..? " Panggilku.
Luki yanh menengok ke arahku, tanpa rasa kaget sedikit pun , mereka seperti biasa saja melihat ku. Luki dan Henna mendekatiku.
"Jar? Lu ngapain disini? "
"Lah lu sendiri ngapai disini sama perempuan mura*h*an."
__ADS_1
"Gue lagi ada perlu ki dan gue juga gak sengaja bertemu sama Henna."
Nijar yang seperti beruntung busa bertemu dengan Luki, karena ia ingin menanyakan tentang bude, yang ia rawat tapi tak memberi tahu dirinya.
"Oh ya ki, gue mau bicara sesuatu sama lu. "
"Tapi gue mau bicaranya secara empat mata, bukan enam mata! " ujarnya sewot pada Henna.
Henna juga yang mengerti dengan ucapan Nijar, langsung pura-pura tak paham dan malah duduk dengan sengaja.
"Ngapain lu duduk, pergi sana! " Usirnya pada Henna.
"Jar gak usah gitu. " ujar Luki.
"Ki gue pulang duluan aja ya, gak tahan rasanya sama cowo doyan. "Sindir Henna.
Nijar yang merasa tersinggung dengan ucapannya Henna.
" Maksud lu apa hah? Lu nyindir gue? "
Henna dengan sengaja nya berjalan angkuh pada Nijar, seakan-akan tak mendengarkan nya.
"Lu mau ngomongin soal apa sih jar, segitunya banget lu pengen ngomong empat mata? "
"Lu kenapa gak ngasih tau gue, kalau selama ini lu yang merawat bude? " Ujarnya langsung.
"Lah, lu ko malah ngegas si jar, gue harus ngasih tahu lu pake apa? Selama satu bulan lamanya lu ngilang dan nomor lu gak aktif. "
"Jar, lu tau kan waktu lu telpon itu gue ada kerjaan yang gak bisa gue tinggalin. "
"Alesan aja lu, kenapa lu gak kirim pesan aja hah? "
"Percuma gue ngomong sama lu juga,"
"Terus gue mau tanya sama lu, kemana aja lu selama ini? Di saat bini lu berjuang untuk ingatannya lu malah ngilang. Beruntung banget Henna mau bantuin bini lu. "
"Jadi selama ini Vira di urus sama perempuan mura*han itu? "
"Lu kalau ngomong di jaga deh jar, jangan sampe ucapan lu itu bikin lu menyesal juga. "
"Ngapain ki lu bela perempuan itu. Pantas saja si Vira sekarang kurang ajar sama gue, ternyata di urus sama Henna. "
"Udah lah jar, Gue malas buat berantem sama lu.. " Tutur Luki dengan meninggalkan Nijar,saat ini Luki sangat tak ingin ngobrop lama dengan Nijar karena itu semua akan merusak dirinya.
[Aku tunggu kamu di parkiran Ki. ]Pesan masuk dari Henna.
"Ki, lu tau dimana Wildan gak? " Teriak Nijar.
"Gak.Lu kan sahabatan sama dia , masa lu gak tau kabar dia smaa sekali. "
"Kalau gue tau gue gak bakalan tanya sama lu ki. "
__ADS_1
Nijar yang merasa curiga dengan kelakuan Luki, akhirnya dia memutuskan untuk mengikutinya. Namun keberuntungan berpihak pada Luki.
[Ki, lebih baik lu naik taksi aja, Nijar ngikutin lu dari belakang. ]Henna memberi pesan pada Luki.
Luki pun yang tadinya sudah hampir sampai keparkiran.
”Aduuhh ! Ngapain gue kesini, kan gue gak bawa motor, be*go amat lu ki. Pikun kau bawa-bawa.Pesanan pak Juna lagi belum gue ambil. ”Ujar Luki dengan sengaja mengeraskan.
Pura-pura telponan dengan orang lain.
”Iya pak, sebentar lagi saya sampai kesana. Maaf pak jika saya agak sedikit telat, karena saya lupa tak memakai motor. Pesanannya sudah pak. Baik pak. ”
Luki pun akhirnya memesan satu Caremel latte.
Setelah selesai Luki yang bergegas langsung keluar dan menaiki taksi.
Nijar yang sungguh merasa begitu sangat curiga, mana mungkin malam-malam begini ia masih bekerja. Aah! Atau mungkin Luki sekarang kerja nya jadi driver?
Namun demi membuktika itu semua harus mengikuti Luki sampe ke tempat tujuannya.
****
Di tempat parkir Henna yang yakin bahwa Nijar tak akan semudah itu percaya, karena dulu juga ia pernah bekerja di kantor, tak ada pekerjaan seperti ini, jika pun ada itu pastinua lembur.
[Ki, lu pergi kealamat rumah ini, dia teman gue. ]
[Oke! Hen, gue akan kesana. ]
Kamu tidak akan berhasil jar, semuanya harus berjalam dengan mulus. Maaf karena kamu melakukan ini semua sama lu jar, gue dan Luki belum punya cukup bukti dan jika lu tahu itu pastinya lu tidak akan percaya.
Henna pun langsung mengikuti Nijar, ia mengendari motor milik Luki.
Luki yang kini sudah sampai di tempat yang aku berikan. Syukurlah tenyata om Iyan yang menerimanya.
Dari kejauhan ku lihat Nijar langsung membelokkan mobilnya, dia pergi begitu saja.
"Lukii..? "
"Luki... ?" Panggilku padanya.
"Amaan? " tanya Luki.
Aku mengacungkan jempolku, tanda situasi sudah amat.
"Aduuhh Hen! Gue hampir mau copot ja*ntung, ternyata si Nijar masih saja seperti itu. "
"Yang penting sekarang aman kan? Ya udah ayu kita pulang. " ajakku pada Luki.
"Tunggu dulu napa, gue belum bayar ongkos taksinya. "
...****************...
__ADS_1