
"Mau apa ibu bertemu dengan Cucu ku, bukankah anak ibu sendiri pun tidak mengakui bahwa itu anaknya. "
"Halah kamu ini gak usah polos jar," Ucap ibu dengan melipatkan kedua tangannya.
"Maksud ibu apa? Polos apanya. "
"Heh jar, kamu dengar dia itu cucu kandung saya sedangkan kamu siapa. Kamu itu hanya orang lain. "
"Dengar ya bu, Caca putri kandungku sendiri. Saya tahu ibu adalah Nenek nya Caca, tapism saya tidak akan pernah mengijinkan ibu dekat-dekat dengan anak saya. "
"Seyakin apa kamu bahwa dia putri mu sendiri hah? "
"Saya sangat begitu yakin. Karena saya telah melakukan tes dna, ibu jangan coba-coba menghasut saya supaya saya benci pada putri saya sendiri.. "
"Buat apa saya menghasut kamu.. Haha,, ternyata kamu itu memang masih bod*oh ya jar, baru segitu aja kamu sudah percaya. "
Nijar yang tak ingin mengambil pusing soal ibu mertuanya itu langsung pergi meninggalkannya begitu saja.
"Nijar kamu ingat, saya akan membawa cucu saya, asal kamu tahu tes dna itu telah di palsukan oleh istrimu sendiri dan kamu tahu itu. Istrimu mengetahui semua kebenarannya. Kamu camkan ucapan saya. "
Di ujung toko ada Fitri yang sedang mengawasi mereka berdua, ternyata misi nya telah berhasil. Tapi dirinya sendiri pun bingung siapa ayah biologisnya anak itu jiga bukan Nijar.
Satu persatu kehancuran akan mendekati mu Mas.Dan kamu Vira lihat saja permainanku sudah sangat berjalan dengan mulus*Ucap Fitri tersenyum puas.
Fitri yang langsung bergegas memasuki toko pakaian, karena tak ingin membuat suaminya itu curiga.
Nijar yang mendengar penuturan ibu Henna itu langsung berbalik badan.
"Maksud ibu apa? Ibu mau menfitnah Vira juga,aku tidak akan pernah termakan omongan siapa pun lagi. Mau sekerras apa pun orang berkata. "
"Hahahha... Nijar- Nijar kalau punya o*tak itu di pake dong, masa kamu gak pernah menyadari semua ini.. Saya akan membawa Cucu saya titik! Mau kamu percaya atau tidak tapi iti kenyataannya.. "
"Dasaar anehh.. "
"Kamu lihat kertas ini.. " Ibu yang mengeluarkan amplop dari dalam tas nya.
"Disini bisa di lihat sangat jelas bahwa kamu bukan ayah biologis nya Abisha, kamu telah di bohongi oleh istri, sahabat dan anak saya juga. "
"Sebenarnya mau ibu apa sih? Kenapa ibu harus melakukan kebohongan seperti ini hah? "
"Saya hanya ingin Cucu saya, dar*ah daging saya sendiri. "
Nijar yang melihat kertas itu sangat gemetar tangannya, karena di sana tertulis dengan begutu jelas bahwa dirinya tidak cocok dengan Caca.
Entah sebuah kenyataan apa saat ini yang jelas saat ini dirinya begitu marah dan kecewa pada Istrinya Vira..
Dia yang langsung pergi begitu saja dari mall, meninggalkan Fitri.
"Kemana mas Nijar? *Tanya Fitri yang mencari-cari keberadaan suaminya.
Kenapa malah aku yang di tinggal sih.. *
Kurang ajar kamu mas,Ninggalin aku sendirian disini. Mana aku tak bawa uang sama sekali lagi* Gerutu fitri.
__ADS_1
Masa iya aku harus telpon kake tua itu sih.
Dengan sangat terpaksa, Fitri menelpon pamannya Nijar.
[Hai sayang? Kamu bisa datang kesini gak? Aku sedang berada di mall ni.. ]Ujar Fitri manja.
[Maaf beebb, saat ini aku gak bisa. Aku lagi bersama istriku tercinta.. ]
Fitri pun langsung mematikan telponnya merasa kesal dengan respon kekasihnya itu, padahal dia sangat berharap si kake tua bisa datang dan jemputnya.
...Masa iya aku sudah dandan cantik begini harus naik angkot su, gengsi amat aku.....
*****
Nijar yang baru sampai kerumah langsung masuk dan membentak-bentak Vira..
"Katakan yang sebenarnya padaku Vira, apa kamu juga mengetahui semua nya? "Tanya Nijar sembari melemparkan kertas hasil dna itu.
" Ini apa bang? "
"Kamu jawab saya, apa kamu juga ada di balik ini semua? "
"Jawaab? "
"Jawab Vira jangan diam saja. "
"Ini semuanya tidak benar bang, Caca anak kandung mu sendiri? "
Vira bengong dan kaget.
"Ooohh.. Jadi benar apa yang di katakan ibunya Henna, kamu juga ikut andil dalam hal ini?"Tanya Nijar dengan emosi
"Aku gak bermaksud melakukan itu bang.. "
"Gak usah ngelak lagi, Aku bener-bener gak nyangka ya kamu menyembunyikan identitas anak h*ram itu dari aku.. Mana anak itu sekarang? " Tanya kembali Nijar dengan emosinya yang sudah sangat berada di ujung puncaknya.
Vira hanya menangis, tak menyangka jika ternyata isi semua telah di ketahui suaminya.
"JAWAB Viraaa? "
"Ca-ca ada di kamar bang, aku mohon abang jangan marah sama Caca dia anak kecil bang. Dia belum tahu apa-apa. "
"Kamu diaaamm Vira."
Nijar yang langsung menuju kamar, membawa caca dengan paksa di saat Caca sedang tidur.
"Banguuunn .. "
"Banguunn Abishaa.. "
Caca yang takut melihat papah nya seperti itu langsung bangun.
"Aku mau di bawa kemana pah? Kenapa baju-baju aku papah masukan ke tas? " tanya anak ini dengan polosnya.
__ADS_1
"Kami diam, jangan banyak bicara dan satu lagi jangan pernah kamu panggil saya lagi Papah karena saya bukan papahmu.. "
"Baaanggg? " Teriak Vira..
"Kamu dia Vira atau kamu aku ceraikan.. "
"Bang Caca tak tahu apapun, aku mohon jangan bawa caca dari sini. Aku janji akan merawat Caca.. "
"Kamu dengar Vira, siapapun orang asing yang masuk kedalam rumahku takkan aku biarkan disini. Apalagi anak h*ram ini aku sungguh tak sudi.. "
"Dia bukan anak h*ram bang,tidak ada anak yang berdosan bang mereka semuanya suci.. "
"Tau apa kamu soal ini haaahhh? "
"Aku mohon bang,, jangan perlakukan caca seperti itu dia anak kecill.. "
Nijar yamg semakin erat memegang pergelangan tangannya Caca. Membuat Caca kesakitan.
"Aaawww pah sakitt.. "
"Baaanggg.. "
"Diam! Kamu tahu rasa sakit kamu tak sebanding dengan rasa sakit saya. "
"Paaapaaahhh... Huuhuuu.. " Caca menangis tersedu-sedu.
"Cukupp! Cukupp bang kamu memperlakukan Caca serendah itu, dia itu anak yang tak berdosa, kamu gak berhak dan gak pantas memperlakukan Caca seperti ini.. "
"Ohh jadi kamu sudah berani menantang saya dan membela anak ini. Ternyata kamu sama ibunya dia tak ada jauh bedanya. "
Plaaakk...
Vira yang spontan men*mpar Nijar.
"Kamu sudah berani kurang ajar lagi sama suami hah? Apa itu yang kamu bisa menangis dan mena*mpar hah? "
"Jika abang membawa Caca pergi dari sini, maka aku juga akan ikut pergi bersama caca.. "
"Ohh ya sudah silahkan, terserah kamu saya sudah tak perduli. Jika perlu kita berpisah saja. "
"Ternyata apa yang di katakan orang benar, kamu itu laki-laki yang mudah emosi dan mengambil keputusan secara emosial. "
"Jika itu mau kamu, aku setuju.. " Ujar Vira yang langsung membawa Caca.
"Kita pergi dari sini sayangg.. "
Caca mengangguk.
Nijar terpaku diam, saat lontaran Vira pada dirinya. Ya, aku laki-laki yang selalu memutuskan segala sesuatunya tanpa berpikir panjang.Nijar yang terdiam menyesalo perbuatannya, seharusnya dia tak mengucapkan kata itu..
Aaaarrrggghhh....
...****************...
__ADS_1