
Rumah sakit
Stevan terbangun dengan kebingungan di wajahnya ia memegang kepalanya yang terasa sakit, dan kenapa ia bisa berada di rumah sakit dlia menoleh dan menemukan papa dan mamanya
"Ma" panggil Stevan dengan suara parunya. Sedangkan nyonya Sanjaya yang mendengar panggilan itu menoleh
"Sayang kamu sudah sadar" seru nyonya Sanjaya dengan bahagianya berjalan menghampiri bed tempat tidur putranya
"Kamu baik-baik saja ka, ada yang sakit, mau mama panggilkan dokter" tanya sanjaya tanpa menjeda ucapannya
"Ma sudah, aku baik-baik saja, dan aku ingin minum" jawab Stevan
"Maaf mama kawatir sama kamu" ucap nyonya Sanjaya dan mulai mengambil gelas yang berisi air dan memberikannya kepada Stevan
"Nggak papa ma aku tau kok mama kawatir" jawab Stevan setelah menyelesaikan minumnya dan memberikan gelas tersebut kepada mamanya.
"Lain kali jangan gini ya, mama takut tau" kawatir nyonya Sanjaya
"Iya ma" jawab Stevan
"Clara....dimana dia?" Stevan yang akan turun dari bednya di hentikan oleh nyonya Sanjaya
"Sayang kamu istirahat dulu nanti setelah kamu sembuh baru kita cari Clara ya" nyonya Sanjaya menenangkan putranya
"Tapi ma, Clara menghilang dan kita tidak tau bahwa dia baik-baiks aja atau tidak" Stevan yang keras kepala
"Tapi bagaimana ha, kamu sedang sakit mau bikin mama jantungan" marah nyonya Sanjaya
"Oke, sehat baru aku cari Clara" putus Stevan
__ADS_1
"Kalau gitu kamu makan dulu mama suapin setelah itu minum obat agar kamu cepat sembuh" ucap nyonya Sanjaya
"Ma aku bukan anak kecil biar aku makan saja sendiri" bantah Stevan
"Apa, mau" nyonya Sanjaya menatap Stevan dengan tatapan bahwa jangan di bantah kalau tidak
"Oke fine" pasrah Stevan
Nyonya Sanjaya yang melihat itu mulai menyuapi Stevan dan Stevan hanya menerimanya dengan pasrah
"Bos kalau gitu saya kembali ke kantor ya, cepat sembuh bos" ucap Reno
"Iya, urusan kantor kamu yang urus" jawab Stevan
"Baik bos, om Tante aku pamit" ucap Reno
"Iya hati-hati ya nak Reno" jawab Nyonya Sanjaya
Ceklek
Kaget Reno karena Clarisa berdiri di hadapannya tepat di depan pintu
"Astaga bang Reno bikin kaget aja" Clarisa mengusap dadanya
"Kamu yang bikin kaget, berdiri kok didepan pintu" kata Reno
"Harusnya bang Reno itu kalau mau buka pintu itu pakai isarat dong" Clarisa tidak mau disalahkan
"Iya, aku yang salah" Reno harus banyak sabar menghadapi kelakuan bos dan adiknya ini
__ADS_1
"Gitu dong, apalagi minggir" ucap Clarisa
"Clarisa jangan gitu nggak sopan" tegur Nyonya Sanjaya
"Abisnya bang Reno bikin jantungan kalau aku kena serangan jantung gimana" jawab Clarisa dengan dramatis
"Tinggal periksa, kan sudah di rumah sakit" sahut Stevan dengan santai tanpa memandang ke arah Clarisa
"Kak stevan" teriak Clarisa
"Sudah, sudah kalian ini kamu juga Stevan istirahat sana dan clarisa Abang kamu lagi sakit jangan teriak ini rumah sakit" tegur nyonya Sanjaya
"Maaf ma" jawab kedua adik Kaka itu secara bersamaan
"Om Tante bos saya pamit" pamit Reno sekali lagi
"Astaga iya, sampai lupa hati-hati nak Reno" jawab nyonya Sanjaya
Reno berjalan meninggalkan ruangan Stevan
"Bisa sakit juga" ucap Clarisa tanpa memandang siapa pun
"Emangnya kamu kira saya patung, nggak bisa sakit" ketus Stevan
"Lah siapa yang ngomong sama situ" jawab Clarisa
"Stop" teriak Nyonya Sanjaya menghentikan ucapan Stevan yang akan membalas Clarisa
"Kamu Stevan istirahat" perintah nyonya Sanjaya tanpa pengen di bantah
__ADS_1
"Dan clarisa duduk dengan tenang" perintah lagi Nyonya Sanjaya, Stevan dan clarisa melakukan apa yang di perintahkan oleh Kanjeng ratu mereka