Pernikahan Karena Hutang Budi

Pernikahan Karena Hutang Budi
bab 10


__ADS_3

Pagi ini, Lia sengaja bangun lebih awal di bandingkan hari biasanya. Ia mengatakan pada bik Asih tadi malam, kalau ia akan menyiapkan sarapan untuk Rama pagi ini. Awalnya, bik Asih tidak setuju, tapi Lia bersikeras untuk melakukannya.


Setelah selesai masak nasi goreng lengkap dengan telor dadarnya sekalian. Lia bergegas kembali ke kamarnya untuk mandi dan bersiap-siap.


Rama turun dari atas dengan baju kemejanya. Stelan biasa ia akan pergi ke rumah sakit seperti biasa. Ia melihat di meja makan sudah tersedia makanan, tapi tidak ada Lia di sana. Sedangkan di dapur hanya ada bik Asih yang sibuk dengan pekerjaannya.


"Di mana dia bik?" tanya Rama tidak kuat menahan rasa penasarannya.


"Dia? Non Lia maksudnya mas Rama? Non Lia di kamarnya mungkin mas."


Rama tidak menjawab. Ia langsung menyantap nasi goreng yang sudah tersedia di piringnya. Sendokan pertama masuk kedalam mulutnya. Rama menikmati secara perlahan nasi goreng itu. Ia bisa merasakan, kalau nasi goreng yang ia makan pagi ini berbeda dengan yang biasanya.


"Siapa yang masak nasi goreng ini bik?"


Bibik menghentikan pekerjaannya. Ia berjalan menuju meja makan.


"Non Lia yang menyediakan sarapan pagi ini mas. Apa ... apa rasanya tidak sesuai dengan yang mas Rama ingin," tanya bibik takut-takut.


"Tidak," jawab Rama singkat lalu melanjutkan makannya.


Bibik harap-harap cemas. Dalam hatinya merasa penasaran dengan masakan Lia. Mungkinkah rasanya enak atau malah sebaliknya. Sebenarnya, bibik sangat mengharapkan Rama mengatakan apa rasa dari masakan Lia. Tapi sayangnya, Rama hanya bilang satu patah kata saja. Satu kata yang tidak bisa diartikan maksudnya. Ntah itu tidak karena enak, atau tidak karena tidak enak.


"Selamat pagi mas Rama."


Lia datang dengan pakaian yang berbeda dari biasanya. Rama yang baru saja ingin menyendok kan nasi kedalam mulutnya, membatalkan niat. Rama tidak menjawab sapaan dari Lia, ia hanya menatap penuh pertanyaan pada wanita itu.


Lia yang sudah terbiasa dengan tatapan itu, tidak ingin ambil pusing. Ia juga sudah terbiasa di abaikan oleh Rama. Jadi rasanya seperti yah, biasa saja. Lia langsung duduk di kursi biasanya ia duduk.


"Mas Rama, bolehkah aku berkunjung ke rumah bunda hari ini?"


"Boleh."


"Kalo gitu, aku nebeng mas Rama ya."

__ADS_1


"Kenapa gak naik taksi aja?"


"Apa salahnya aku nebeng sama mas. Jalan ke rumah bunda kan sama dengan jalan yang mas Rama lewati untuk ke rumah sakit."


Rama tidak menjawab, ia hanya diam saja sambil terus melahap sarapannya hingga tanpa sisa.


"Enak ya mas?" tanya Lia lagi.


Tetap saja, Rama mengabaikan Lia. Ia sibuk dengan apa yang ia lakukan. Seakan-akan tidak mendengarkan apa yang Lia katakan. Jauh di hari Lia yang paling dalam, ia merasa kesal karena di abaikan. Tapi ia tetap tenang dan selalu mencoba keberuntungannya untuk mengahadapi bongkahan batu es itu.


"Mas, boleh gak nih aku nebeng sama kamu?" tanya Lia lagi.


"Boleh. Aku akan berangkat sekarang," kata Rama bangun dari duduknya.


"Lho, aku aja belum sarapan."


"Ya sudah, kamu sarapan aja. Nanti naik taksi ke rumah bunda."


"Aku harus berangkat sekarang."


"Ya sudah deh. Aku gak sarapan aja."


"Bik Asih."


"Ya mas."


"Bungkus sarapannya."


Tanpa banyak tanya, bik Asih melakukan apa yang Rama katakan. Meskipun dalam hatinya terdapat banyak pertanyaan, tapi tidak berani ia ungkapkan. Mengingat Rama yang jarang meminta sesuatu padanya sejak Rama bangun dari kecelakaan itu.


"Ini mas," kata bik Asih sambil memberikan makanan yang sudah ia bungkus rapi.


"Makasih bik."

__ADS_1


"Bik Asih, hari ini Lia mau berkunjung ke rumah bunda Lia. Lia pamit dulu ya," ucap Lia berpamitan pada bik Asih.


"Iya non. Hati-hati ya."


"Ya bik."


Sampai di mobil, Lia duduk di belakang, di samping Rama.


"Ini sarapan kamu. Makanlah," ucap Rama sambil menyerahkan nasi goreng yang bibik bungkus barusan.


"Lho, ini punya aku mas? Kamu tidak perlu melakukannya. Aku bisa sarapan di rumah bunda nanti."


"Apa kata ayah dan bunda mu nanti jika kamu belum sarapan. Nanti mereka bilang, aku tidak bisa menyediakan sarapan untuk mu."


Walaupun kata-katanya sedikit tidak enak di dengar, tapi Lia merasa bahagia dengan perlakuan Rama barusan. Lia merasakan itu adalah sebuah perhatian kecil.


Rumah orang tua Lia tidak berada di tengah-tengah jalan raya. Rumah orang tua Lia, letaknya seperti di area perkomplekan. Jalannya harus masuk kedalam gang. Barulah menemukan rumah orang tua Lia.


Saat sampai di gang menuju rumah Lia. Lia meminta mobil Rama berhenti di sana. Ia tidak ingin merepotkan Rama untuk mengantarkannya sampai depan rumah.


"Aku berhenti di depan aja mas," ucap Lia sambil menunjukkan gang rumahnya.


"Kenapa?"


"Tidak perlu masuk kedalam, nanti merepotkan mas Rama. Lagian, aku dengar tadi ada yang menghubungi mas Rama. Meminta mas Rama supaya cepat sampai ke rumah sakit."


"Aku rasa, aku masih punya waktu untuk mengantar kamu sampai depan rumah."


"Apa nanti kamu gak merasa tidak enak jika tidak menyapa ayah dan bundaku, mas?"


Rama berpikir sejenak. Apa yang Lia katakan ada benarnya. Walau bagaimanapun dinginnya dia. Ia tidak mungkin sombong dengan orang tua. Masalah dingin dan sombong itu adalah dua hal yang jauh berbeda.


"Baiklah."

__ADS_1


__ADS_2