Pernikahan Karena Hutang Budi

Pernikahan Karena Hutang Budi
Bab 39


__ADS_3

Tanpa pikir panjang lagi. Lia menganggukkan kepalanya sambil menangis bahagia.


"Iya. Iya aku mau mas," kata Lia sambil mengambil buket bunga yang Rama pegang sejak tadi.


Rama bangun dari jongkoknya lalu memeluk Lia erat-erat. Sorakan dan teriakan bahagia yang datang dari mereka yang penuh harap sejak tadi, menambah meriahnya pelukan Rama dan Lia saat ini. Terlihat jelas kebahagiaan di wajah semuanya.


"Yuhu ... ada orang nih di sini," kata Bram ketika melihat Rama dan Lia terus saja berpelukan dan mengabaikan mereka semua.


"Ada yang syirik nih kayaknya," kata mama Dewi.


"Gak syirik kok tan. Hanya merasa di abaikan aja sedikit," kata Bram mengelak.


"Tapi kamu ada benarnya juga, Bram. Masa mereka pelukan lama-lama di depan kita. Ini jelas kalau mereka anggap kita gak ada nih," kata papa ikut bicara.


"Yah ... papa juga ikut syirik ternyata," kata mama.


"Papa bukan syirik, mama. Hanya saja, papa gak bisa lama-lama melihat hal yang seperti itu. Berasa kembali muda jadinya," kata papa yang disambut tawa dan sorakan riuh dari yang lainnya.


Lia dan Rama juga menyoraki papa. Papa sukses membuat Rama dan Lia berhenti berpelukan. Bik Asih datang membawa kue ulang tahun untuk Lia. Acaranya berlanjut satu persatu. Sampai pada Lia yang menyuapi Rama kue potongan pertama. Sorakan kembali terdengar riuh.

__ADS_1


Yang paling heboh adalah, papa dan mama. Papa menyuapi mama kue, dan mama melakoni jadi Rama dan Lia saat Rama menyatakan cintanya pada Lia. Malam ini adalah malam yang paling membahagiakan bagi Lia.


Ulang tahunnya yang kedua puluh satu, penuh dengan kejutan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Meskipun hatinya sempat sedih karena tidak ada sosok ayah di saat bahagia seperti ini. Tapi kakaknya membisikkan sebuah kata padanya. Kalau Lia tidak boleh bersedih malam ini. Yakinlah kalau ayah juga ikut menyaksikan kebahagiaan mereka sekarang. Dan yang paling penting, jangan buat bunda sedih dengan mengingat ayah.


Setelah acara potong kue dan suap-suapan selesai. Lia teringat kembali bagaimana ia merasa takut saat dikerjain habis-habisan oleh semuanya. Ternyata, bunda juga ikut ambil andil dalam usaha untuk membuat kejutan ini.


Bunda sengaja mengarang cerita yang tidak ada sama sekali. Demi rencana Rama ingin bikin kejutan yang tidak akan pernah Lia lupakan. Bunda pun siap membantu dengan menjadi pengarang cerita yang tidak nyata.


Mobil yang mereka kendarai saat pulang sebenarnya tidaklah rusak. Hanya saja, untuk memastikan rencana berjalan lancar, mang Bahar bekerja sama dengan orang bengkel tempat ia memperbaiki mobil mereka.


Tidak hanya itu, mang Bahar sengaja menghilang dan muncul lagi sebagai pembawa lilin dengan wajah tertutup. Sedangkan Bram, ia bertugas sebagai penculik Lia dan membawanya menuju taman belakang. Dan tugas Rama pula, ia adalah biang dari semua ide-ide gila yang membuat jantung Lia hampir copot akibat takut.


"Ampun, ampun sayang," ucap Rama memasang wajah kesakitan yang di buat-buat.


"Kamu ya mas," kata Lia cemberut.


"Tapi kamu suka kan?"


"Gak."

__ADS_1


"Cieee ... pasangan terhangat saat ini. Terus aja terus bermesraan nya," kata Bram.


"Kamu ya Bram. Jangan jadi pengganggu kenapa?" tanya mama Dewi.


"Yah tante, pasangan yang lagi hangat seperti mereka berdua itu harus ada cobaan tan. Biar makin berasa geregetan nya."


"Ah, bilang aja kamu syirik."


"Gak kok tan, aku itu awalnya mau pamit pulang. Tapi pasangan satu ini malah gak ngeh gitu sama kehadiran aku. Ya bikin kesal kan?"


"Apaan sih kak. Kak Bram aja baru datang kesini langsung ngomel. Gimana caranya gak ngeh coba," kata Lia tak terima.


Bram hanya tersenyum menangapi perkataan adiknya. Ia memang dari jauh sudah ngomel saat melihat Rama dan Lia sibuk bermesraan. Ia sebenarnya sangat bahagia dengan kebahagiaan yang Lia rasakan saat ini. Pernikahan yang ayah bilang karena hutang budi ini, ternyata bisa membawa kebahagiaan bagi adiknya.


"Lia, Rama, kakak pamit pulang dulu ya. Ini ada sesuatu untuk kamu Lia. Ya emang harganya tidak seberapa, tapi kakak harap kamu suka," kata Bram sambil memberikan kado kecil berwarna hijau tua.


"Makasih kak Bram," ucap Lia sambil menerima kado dari Bram.


"Kamu gak nginap di sini, Bram?" tanya Rama.

__ADS_1


"Iya, kak Bram gak nginap di sini aja. Besok pagi pulang."


__ADS_2