
"Ada yang aneh ya mas?" tanya Lia saat merasa ia di tatap oleh Rama.
"Gak ada sayang. Tapi tumben lho, kamu bertanya soal aku bisa keluar atau gak. Sore-sore lagi."
"Ya aku sedang ingin keluar aja mas. Kalau kamu bisa, aku akan bahagia. Kalau gak, ya gak papa."
"Di situ ada sebuah pemaksaan deh kayaknya. pada kata-kata, akan bahagia."
"Gak ah. Aku gak maksa, kalau bisa ya ayok. Kalau gak, ya udah." Lia memasang wajah cemberut karena Rama bilang ia memaksa. Padahal emang ia dia sedang memaksa Rama buat pergi.
"Ye ... gitu aja ngambek kamu sayang. Aku kan hanya bercanda, sayang. Ya udah, kamu tunggu sini sebentar ya. Biar suamimu ini dandan dulu sebelum kita keluar," kata Rama sambil mencubit gemes pipi Lia. Lia tersenyum bahagia.
"Gak capek mas?"
"Gak lah, sayang."
"Yakin?"
"Iya, yakin banget malahan. Kalo sama kamu mah gak akan capek," ucap Rama sambil menggoda Lia.
"Ih ... apaan sih. Genit aja. Ya udah, cepetan mas Rama mandi terus dandan sana," kata Lia sambil mendorong Rama.
"Gak mau ikut buat bantuin?"
"Gak."
__ADS_1
"Biar cepat lho."
"Mas." Lia memandang Rama dengan tatapan mata yang melotot.
"Iya deh iya. Tunggu disini, biar suamimu mandi dulu," kata Rama sambil berjalan menuju kamar.
Lia hanya tersenyum melihat punggung Rama yang berjalan menjauhinya. Lia duduk di sofa sambil melihat ponselnya untuk menunggu Rama selesai siap-siap. Lia membuka WA nya. Ia melihat pesan singkat dari mama yang mengatakan, kalau semuanya sudah siap. Lia tersenyum sambil membalas pesan mama dengan ucapan terima kasih banyak.
Beberapa menit kemudian, Rama keluar dari kamar dengan wajah segar. Ia memakai kaos dan celana jins yang membuat ia terlihat sangat tampan. Rama akan terlihat berbeda saat ia ingin keluar jalan bersama Lia.
Jika ia terlihat seperti om-om saat ia sedang bekerja. Berbeda dengan ia di rumah bersama Lia atau ingin jalan bersama Lia. Ia lebih terlihat seperti pasangan yang seumuran. Padahal jarak umur mereka tergolong lumayan jauh.
Mungkin, saat bekerja, Rama menggunakan kemeja dan kaca mata. Sedangkan saat jalan, ia tidak menggunakan kaca matanya. Tapi pada dasarnya, Rama memang memiliki wajah yang tampan dan selalu terlihat awet muda.
Untuk sesaat, Lia tertegun mengagumi Rama. Lia selalu begitu saat melihat Rama yang baru saja selesai mandi setelah pulang kerja. Padahal, ia sudah sering melihat wajah Rama dari jauh maupun dekat.
"Ya jadilah. Ayok!"
***
Mobil melaju melintasi jalan raya yang sangat ramai. Maklum, inikan masih sore. Masih banyak para pekerja yang baru pulang dari tempat mereka bekerja.
"Kita mau jalan kemana sayang?"
"Mas Rama ikut aja, nanti juga tahu."
__ADS_1
"Hmz ... udah pandai main rahasia-rahasiaan ya sekarang."
"Hmz," ucap Lia sambil mengangkat kedua belah bahunya.
Mobil berhenti tepat di depan halaman sebuah hotel termegah di kota ini. Rama terlihat bingung saat Lia mengajaknya untuk turun dari mobil. Walaupun begitu, ia tetap mengikuti langkah Lia dengan tenang.
Lia terus masuk kedalam, bertemu dengan resepsionis untuk mengambil kunci kamar. Hal itu semakin membuat Rama bertambah bingung lagi. Benaknya penuh dengan rasa penasaran sekarang.
"Sayang, kok .... "
"Aku akan jelaskan apa tujuan kita kesini mas. Tapi gak di luar juga kan. Kita masuk sekarang ya," kata Lia sambil membuka pintu kamar.
Rama menuruti apa yang Lia katakan. Saat pintu kamar terbuka, ia mengikuti langkah kaki Lia masuk kedalam. Mata Rama melebar saat melihat isi kamar itu. Kamar itu tidak seperti kamar hotel biasa.
Kamar hotelnya sangat indah, dihiasi dengan bunga-bunga di dalam kamar itu. Di atas ranjang tersusun kelopak mawar merah yang masih segar membentuk sebuah love utuh.
"Sayang ... ini .... " Rama tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Ia hanya melihat Lia dengan tatapan minta Lia menjelaskan maksud dari semua ini.
"Mas Rama bilang, kita gak bisa bulan madu keluar negeri bukan? Dan tidak seharusnya juga bulan madu harus di luar negeri kan mas."
"Lia. Apa itu artinya, kita sedang bulan madu sekarang?"
Lia menganggukkan kepalanya sambil memperlihatkan senyum terbaik yang ia miliki. Rama berjalan mendekat kearah Lia yang berada agak jauh darinya.
"Itu tandanya, kamu sudah siap untuk .... "
__ADS_1
Rama tidak melanjutkan perkataannya. Hanya saja, tangannya dengan cepat menyentuh bahu Lia. Meskipun merasakan sedikit kengerian akan sikap Rama saat ini. Lia memaksakan diri untuk tetap bertahan.