Pernikahan Karena Hutang Budi

Pernikahan Karena Hutang Budi
Bab 22


__ADS_3

"Baguslah kalau tidak ada. Sekarang kamu harus makan dulu biar cepat sembuh."


"Aku tidak lapar."


"Lia, kamu tidak makan dari kemarin. Ayolah makan sedikit saja," kata Rama sambil mengarahkan sendok ke mulut Lia.


Lia tidak bisa menolak perlakuan Rama yang begitu lembut dan manis. Itu seperti sebuah mimpi yang sedang ia lalui di alam bawah sadarnya.


Hati Lia berkata, "Apakah aku sedang bermimpi saat ini? Benarkah yang ada di hadapanku ini mas Rama?"


Rama terus menyuapi bubur hangat kedalam mulut Lia. Sedangkan Lia, ia terus menatap Rama lekat-lekat. Hatinya masih ragu dengan apa yang sedang terjadi saat ini. Ia masih tidak percaya kalau yang ada di hadapannya saat ini adalah orang yang sama dengan yang bersamanya beberapa bulan yang lalu.


"Mas Rama, apa aku sedang mimpi sekarang?" tanya Lia tanpa bisa menahan rasa penasarannya lagi.

__ADS_1


"Mimpi? Mimpi apa?" tanya Rama bingung.


"Apa aku sedang tidur sekarang? Ataukah aku tidak sehat akibat kelamaan berada di bawah hujan lebat?"


"Apa yang kamu katakan Lia? Aku tidak mengerti dengan apa yang kamu bicarakan," kata Rama sambil terus melanjutkan menyuapi bubur untuk Lia.


"Kenapa sikapmu berubah padaku mas? Apakah karena aku sakit, dan kamu menyalahkan dirimu?"


"Jika itu alasan kamu bersikap baik padaku, kamu tidak perlu melakukannya dengan berlebihan mas. Kamu bisa lihat kan, kalau aku baik-baik saja. Dan satu hal yang ingin sekali aku katakan padamu. Mas Rama, cobalah jangan menyalahkan dirimu atas apa yang terjadi pada orang lain. Karena apa yang terjadi pada orang lain, itu karena sudah tertulis dalam suratan takdir, bukan atas mau mu dan mau orang itu," kata Lia menjelaskan panjang lebar.


Kini, ia ingin membuka mata Rama lebar-lebat, agar lelaki itu tidak hanya bisa menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi pada istrinya hang telah tiada. Kali ini, Lia akan terima apapun resikonya. Ia tidak peduli lagi dengan hati Rama yang mungkin akan marah padanya. Atau juga, mungkin akan lebih bersikap kasar dari yang kemarin.


"Satu lagi mas Rama. Kamu harus ingat, kalau kita ini manusia yang tidak punya daya apa-apa. Semua yang terjadi di atas muka bumi ini tidak pernah luput dari kehendak yang maha kuasa. Kita tidak akan tahu apa yang akan terjadi kedepannya. Karena tugas kita hanya menjalani hidup ini. Apa yang akan terjadi, hanya yang maha kuasa yang tahu," kata Lia lagi.

__ADS_1


Lia bicara panjang lebar, tak ubah seperti seorang ustadzah yang sedang berceramah. Apa yang ada dalam pikiran dan hatinya, kini ia keluarkan semua tanpa mau ia tahan-tahan lagi. Karena Lia sudah tidak kuat untuk melihat Rama yang tidak bisa bangkit dan selalu menyalahkan dirinya atas ala yang terjadi. Padahal, semua yang terjadi adalah kehendak yang maha kuasa. Dan kejadian itu sudah berlalu lebih dari tiga tahun lamanya.


Rama menatap Lia lekat-lekat. Ia tidak berniat untuk menyela atau memotong apa yang wanita itu katakan. Wanita yang berstatus sebagai istri sahnya ini memang terhitung lebih muda delapan tahun darinya. Tapi kata-katanya, mungkin lebih tua dari umurnya.


"Apakah tidak ada kata-kata yang ingin kamu sampaikan lagi padaku, Lia?" tanya Rama saat melihat Lia diam.


"Aku rasa sudah cukup, mas Rama. Jika kamu ingin mendengarkan dan memikirkan apa yang aku katakan barusan, mungkin aku tidak perlu menambah kata-kataku lagi."


"Lia ... kamu tidak merasakan ada di posisi aku. Jika kamu merasakannya, mungkin kamu akan bersikap sama seperti aku."


"Mas Rama. Aku memang tidak ada di posisi kamu. Aku juga tidak pernah merasakan apa yang kamu rasakan. Tapi kamu harus ingat satu hal. Apa yang ada di dunia ini, semuanya tiada yang abadi. Harta, keluarga, dan semua yang kamu miliki ini hanyalah titipan belaka."


"Pikirkan saja satu hal. Jika kamu di titipkan barang sama seseorang. Cepat atau lambat, pemilik barang itu akan datang untuk mengambil barangnya. Walaupun saat itu, kamu sudah sangat menyayangi barang tersebut. Tapi kamu harus tetap mengembalikannya. Karena itu bukan milikmu, bukan hak kamu," kata Lia lagi.

__ADS_1


__ADS_2