Pernikahan Karena Hutang Budi

Pernikahan Karena Hutang Budi
Bab 16


__ADS_3

Kebetulan sekali, hari ini Rama tidak masuk kerja. Ia sedang duduk manis di kamarnya. Tapi karena dokumen yang ia butuhkan berada di dalam mobil, ia harus keluar untuk mengambilnya.


Saat itu, Lia sedang berada di luar untuk membeli bakso pada Adit. Rama melihat kedekatan antara Adit dan Lia. Ia menatap dengan tatapan tidak suka. Apalagi saat ia keluar, Lia sama sekali tidak menyadari keberadaan dirinya. Lia malah sibuk bercanda tawa dengan Adit di depan gerbang.


"Neng Lia, apa itu suami kamu, neng?" tanya Adit saat melihat Rama yang memberikan tatapan tak bersahabat padanya.


Dengan cepat, Lia membalikkan pandangan kearah rumah. Benar saja, di sana, tak jauh dari garasi mobil, Rama sedang berdiri tegak.


"Iy-iya kang. Itu mas Rama."


"Oh, namanya Rama atuh neng. Pantesan orangnya tampan dan sangat berkharisma."


"Apa-apaan sih kang Adit bisa aja."


"Ya sudah. Maaf ya kang, Lia harus masuk sekarang."


"Iya neng Lia. Salam atuh buat mas Rama nya."


"Insyaallah kang. Tapi gak janji ya," kata Lia sambil beranjak pergi.


Saat Lia masuk, Rama sudah tidak ada lagi di tempatnya. Mungkin ia sudah masuk duluan. Tapi dalam hati, Lia merasa ada yang tidak beres dari tatapan Rama barusan. Tatapan itu seperti tatapan orang yang sedang terbakar api cemburu. Tapi pikiran itu, dengan cepat Lia tepis.


Lia tahu, kalau Rama tidak mungkin merasa cemburu padanya. Secara, Rama tidak pernah bisa melupakan istrinya yang telah tiada. Bagaimana pula ia bisa cemburu pada Lia?


***

__ADS_1


Rama tidak menanyakan apapun soal tadi siang pada Lia. Rama bersikap seakan tidak terjadi apa-apa saat mereka makan malam bersama. Padahal, dalam hati Lia sangat ingin tahu apa yang Rama rasakan saat ini.


Setidaknya, Lia akan tahu apa maksud dari tatapan Rama tadi siang, ketika Rama menanyakan siapa Adit. Atau paling tidak, Lia bisa merasakan sesuatu dari tatapan Rama, jika Rama sedikit saja membicarakan perihal apa yang terjadi tadi siang.


Tapi kenyataannya, Rama tidak menyingung sedikit pun soal apa yang terjadi siang tadi. Ia malah seakan telah melupakan apa yang ia lihat. Rama bersikap biasa saja. Seolah-olah, tidak ada yang terjadi siang tadi.


Setelah makan, Lia memilih masuk kedalam kamar. Ia membaringkan tubuhnya di atas ranjang yang lebar. Pikirannya terus memikirkan apa yang telah terjadi tadi siang.


"Kenapa aku begitu berharap mas Rama cemburu padaku? Itukan hal yang tidak mungkin," kata Lia pada dirinya sendiri.


"Lia Lia ... apa yang kamu pikirkan sebenarnya? Kenapa kamu begitu naif sekali sih?" ucap Lia sambil mengetuk pelan kepalanya.


Lia tersenyum dengan pikiran bodoh yang membuat hatinya merasa geli. Ntah mengapa ia bisa berharap Rama punya rasa cemburu padanya. Padahal, ia tahu kalau Rama sangat mencintai istrinya yang telah tiada.


***


Musim penghujan memang akan selalu turun hujan. Kapan saja bisa turun hujan. Cahaya matahari juga sulit untuk di rasakan.


Setelah mandi, Lia bingung ketika melihat lemarinya tidak ada baju satu helai pun. Ia segera keluar dari kamarnya. Sambil masih memakai handuk mandi yang menutupi tubuhnya.


"Bik, apa tadi bik Asih sudah mencuci semua baju Lia?"


"Sudah non. Tapi sayangnya, bibik belum sempat jemur bajunya non. Soalnya, keburu hujan turun."


"Yah ... kalau gitu Lia gak punya baju kering dong mau di pakai."

__ADS_1


"Apa baju non Lia sudah kotor semua?"


"Iya bik. Lia udah gak punya baju satu pun lagi sekarang."


"Apa Lia pakai baju yang baru bik Asih cuci aja? Itukan juga udah kering," kata Lia lagi.


"Lho, jangan dong non. Mana boleh pakai baju yang masih lembab gitu. Inikan musim hujan, bisa-bisa non Lia masuk angin."


"Yah, tapikan gak mungkin juga Lia pakai handuk gini terus menerus bik. Mana sebentar lagi mas Rama pulang."


"Gimana yah? Apa bibik keluar aja non, beli baju buat non Lia? Kan gak mungkin kalo non Lia pakai baju bibik," kata bik Asih memberi saran.


"Eh jangan bik. Itu di luar hujannya deras banget. Masa iya bibik keluar buat beli baju Lia sih. Toko baju itu jaraknya jauh banget. Jangan ah."


Bik Asih dan Lia terdiam untuk beberapa saat. Sampai akhirnya, bik Asih sepertinya punya jalan keluar untuk masalah yang sedang Lia hadapi.


"Oh iya," ucap bik Asih tiba-tiba sambil tersenyum.


"Ada apa sih bik?" tanya Lia sedikit kaget.


"Non Lia tunggu di sini sebentar ya. Bibik punya sesuatu yang bisa menyelesaikan masalah non Lia," ucap bik Asih sambil meninggalkan Lia.


Lia hanya bisa menatap bik Asih yang berjalan meninggalkan dirinya. Bukannya menjawab apa yang ia tanya, bik Asih malah pergi darinya.


Bik Asih kembali dari kamarnya sambil membawa sesuatu berwarna biru tua. Itu tak lain adalah sehelai dress yang sangat indah.

__ADS_1


__ADS_2