Pernikahan Karena Hutang Budi

Pernikahan Karena Hutang Budi
Bab 41


__ADS_3

"Mas Rama ... ini ... ini .... " Lia tidak bisa melanjutkan perkataannya saat ini. Tiba-tiba saja, air mata turun perlahan melintasi pipinya.


"Ada apa Lia? Apa kamu tidak suka dengan hadiah yang aku berikan?" tanya Rama tiba-tiba merasa cemas dan segera menghapus air mata Lia dengan ibu jarinya.


"Gak mas. Ini sangat indah sekali. Aku sangat menyukainya. Dari mana kamu tahu kalau aku suka warna hijau? Dan dari mana kamu tahu, kalau aku sangat menginginkan cincin ini mas?" kata Lia sambil tersenyum lalu menghapus air mata bahagianya.


"Jangan tanyakan hal itu Lia. Kamu tidak tahu bagaimana usaha suamimu ini untuk mendapatkan apa yang membuat kamu bahagia," kata Rama sambil memeluk Lia.


"Cup ... cup ... cup. Jangan menangis lagi ya. Selagi aku bisa membuat kamu bahagia, maka akan aku lakukan hal itu."


"Terima kasih banyak mas Rama. Terima kasih untuk segalanya, bukan hanya untuk kado yang kamu berikan padaku."


"Tidak perlu seperti itu Lia. Kamu adalah istriku. Bahagia mu adalah bahagia ku."


"Sudah ya, jangan menangis lagi. Mau langsung istirahat, atau buka kado yang lain lagi?" tanya Rama sambil melihat wajah Lia.


"Istirahat aja kali ya. Tapi mas, aku penasaran dengan kado-kado itu," kata Lia dengan manja.


"Ya sudah. Kita buka aja sekarang. Dari pada tidur kamu nanti gak nyenyak."


"Mas Rama ih. Ya udah deh, buka kado aja dulu."


Lia dan Rama membuka satu persatu kado itu dengan hati-hati. Kado dari bik Imah, mang Bahar, dan bik Asih, isinya adalah perlengkapan bayi.

__ADS_1


"Ini kok pada ngasih aku perlengkapan bayi gini sih? Apa maksudnya coba?" tanya Lia bingung.


"Mereka ingin kita cepat-cepat punya anak kali, Lia," kata Rama sambil tersenyum genit pada Lia.


"Apaan sih mas. Kamu ini ya," kata Lia memasang wajah cemberut.


"Iya deh iya, aku tahu kamu belum siap dan masih butuh waktu."


Mereka melanjutkan membuka kado dari Bram. Isi kado kecil itu adalah gantungan kunci yang bertuliskan nama Lia dan Rama.


"Itu dari kak Bram kan?"


"Iya."


"Apa isinya Lia?"


"Aku yakin, ini pasti buatan tangan kak Bram sendiri," kata Lia sambil melihat gantungan kunci itu.


"Benarkah? Ini sangat indah Lia. Jika benar ini adalah karya tangan Bram. Hasilnya sangat luar biasa," kata Rama memuji gantungan kunci itu.


"Iya, kak Bram memang punya niat jadi pelukis dan pengukir. Hanya saja, mimpinya harus kandas karena tidak punya biaya yang cukup. Setiap kali aku ulang tahun, kak Bram biasanya selalu memberikan hadiah hasil karya tangannya sendiri padaku. Dia bilang, hasil karya sendiri lebih berarti di bandingkan mengeluarkan uang untuk membeli."


"Luar biasa."

__ADS_1


"Apanya yang luar biasa mas?"


"Pendapat dan karya kakakmu sangat luar biasa Lia. Mungkin Bram harus mencoba berbisnis sendiri. Aku yakin ia akan berhasil dengan menjual hasil karya tangannya sendiri."


"Tidak mudah untuk mewujudkan hal itu mas. Butuh dana dan usaha yang keras jika ingin membuka usaha sendiri kan?"


"Kalau soal dana, itu urusan gampang Lia. Aku bisa bantu Bram untuk mengeluarkan dana. Tapi kalau soal usaha, aku gak bisa. Aku gak tahu caranya membuat karya. Tapi kalo buat ...."


"Buat apa mas?"


"Tidak ada, ayo kita lanjutkan buka kado berikutnya. Aku jadi penasaran untuk melihat apa isi dari kado mama dan papa," kata Rama mengalihkan pembicaraan mereka.


Lia membuka kado dari mama dan papa. Kado yang paling ringan di antara kado-kado yang lainnya. Bungkusannya juga sederhana.


"Apa isinya Lia?"


"Tiket mas," kata Lia sambil melihat wajah Rama.


"Tiket?"


"Iya, dua tiket dan selembar kertas," kata Lia sambil mengeluarkan tiket itu dari tempatnya.


Rama membuka kertas yang terselip di atara dua tiket yang mama dan papa berikan. Mereka sama-sama membaca isi tulisan yang ada di atas kertas itu.

__ADS_1


__ADS_2