
Lia tahu ini adalah hal yang sulit untuk ia katakan. Bagaimanapun, ia sudah menaruh hati pada Adit. Walau Adit tidak mengatakan cinta padanya, tapi ia mencintai Adit. Tapi mau bagaimana lagi, ia harus berkata jujur walau itu sangat menyakitkan.
Wajah kaget Adit terlihat jelas saat Lia mengakui kalau ia sudah menikah. Kebahagiaan Adit barusan, berubah jadi kesedihan. Mata Adit berkaca-kaca saat menatap Lia yang tertunduk lesu.
"Neng Lia sedang bercanda kan neng? Katakan sama akang, kalau neng Lia hanya bercanda saat ini," kata Adit berusaha menciptakan sebuah senyum di bibirnya.
"Maafkan Lia kang. Tapi apa yang Lia katakan adalah kenyataan yang sebenarnya. Lihatlah rumah yang ada di belakang Lia ini. Ini adalah rumah suami Lia."
"Neng Lia. Neng Lia kenapa tega sekali sama akang. Selama ini, neng Lia adalah penyemangat hidup akang," ucap Adit dengan nada sedih.
Air matanya jatuh perlahan melintasi pipi. Dengan cepat Adit menyapu air matanya. Lia merasa tidak tega melihat Adit yang terluka karena ulahnya. Tapi mau bagaimana lagi, terluka sekarang lebih baik di bandingkan terluka nanti.
Saat itu, taksi yang Lia tunggu datang. Lia terpaksa pamit pada Adit. Walau berat hati, ia tetap melangkah pergi meninggalkan Adit. Tapi sebelum pergi, Lia sempat meminta maaf pada Adit berkali-kali.
"Maafkan Lia kang. Lia tidak bermaksud menyakiti kang Adit."
"Maafkan Lia," ucap Lia berkali-kali dengan wajah sedih dan bersalah.
__ADS_1
"Gak papa Lia. Ini juga bukan salah kamu sepenuhnya atuh," kata Adit sambil menyeka air matanya dengan cepat.
Adit mencoba memaksakan senyum. Ia tahu, ini memang bukan salah Lia. Ia juga salah, karena tiba-tiba menghilang tanpa kabar. Dan yang paling penting, ia tidak pernah mengikat Lia dalam sebuah hubungan.
"Neng Lia gak salah. Tidak ada yang yang perlu di maafkan atuh neng. Mungkin sudah jalan takdirnya harus begini."
"Kang Adit .... "
"Udah, neng Lia tidak perlu memikirkan apapun. Anggap saja kita hanya berteman kemarin dan seterusnya."
"Oh ya, taksinya sudah lama menunggu neng Lia. Hati-hati di jalan neng Lia," kata Adit lagi.
Taksi yang Lia tumpangi telah meninggalkan Adit sendirian. Semakin taksi itu jauh berjalan, semakin sedih pula hati Adit mengingat Lia. Mata Adit kini menatap lekat kearah rumah megah berlantai dua yang ada di hadapannya.
"Semoga pilihan neng Lia yang terbaik. Akang doakan, semoga neng Lia bahagia bersama suami neng Lia."
Mengucapkan kata-kata itu, Adit kembali menjatuhkan air mata. Ia menyeka air matanya dengan cepat, lalu mendorong gerobak baksonya untuk meninggalkan rumah Lia.
__ADS_1
***
Ketika Rama pulang dari rumah sakit, ia hanya di sambut oleh bik Asih di depan pintu. Mata Rama dengan cepat menyapu seluruh ruangan di rumah itu. Ia mencari seseorang yang biasanya membukakan pintu untuknya.
Akhir-akhir ini, Rama sudah terbiasa dengan kehadiran Lia saat ia pulang kerja. Bik Asih yang mengerti akan maksud dari majikan, langsung angkat bicara.
"Non Lia sedang tidak ada di rumah, mas Rama. Ia bilang sama bibi, kalau ia pergi ke rumah kakaknya. Dan mungkin akan pulang agak malam."
"Oh," jawab Rama singkat.
"Non Lia juga menitipkan amplop pada bibi. Katanya, ia tidak sempat untuk memberikan amplopnya pada mas Rama."
Bik Asih memberikan amplop pada Rama. Tanpa banyak tanya, Rama mengambil amplop itu, lalu membawanya naik keatas.
Sampai di kamar, Rama langsung membuka amplop yang bik Asih berikan. Dalam amplop itu ia temukan riwayat sakit ayah Lia. Rama juga menemukan secarik kertas kecil yang Lia tuliskan untuknya.
Mas Rama, Lia minta maaf karena telah membuat mas Rama kesal. Lia tahu, Lia mungkin tidak sopan atau sungguh keterlaluan. Tapi Lia tidak sengaja melakukannya. Lia hanya ingin memberikan amplop yang ayah titipkan pada Lia untuk mas Rama. Lia harap mas Rama memaafkan Lia. Oh ya, maaf juga Lia yang pergi tidak izin dahulu pada mas Rama. Karena Lia tahu, mas Rama masih marah pada Lia hingga detik ini.
__ADS_1
Rama melipat kertas itu kembali. Lalu menyimpannya di salah satu laci mejanya. Ia melihat jam di tangan kirinya. Hari sudah sangat sore dan Lia masih belum pulang.
Ntah kenapa, ia jadi memikirkan Lia saat ini. Tangannya sejak tadi memainkan ponsel, namun niatnya untuk menghubungi Lia belum kunjung ia laksanakan.