
Dalam perjalanan pulangnya, Rama tiba-tiba melihat sebuah dress. Saat melihat dress itu, ingatan Rama dengan cepat menangkap sosok Lia.
"Mang Bahar, bisa mundurkan mobilnya sedikit?"
"Mundur mas? Bisa."
Mang Bahar pun melakukan apa yang Rama katakan. Ia memundurkan mobil yang ia kendarai sampai suara Rama menghentikannya.
"Berhenti mang! Parkir di sini saja," kata Rama saat mereka tepat berada di depan butik.
"Kita berhenti di depan butik ini untuk apa mas?" tanya mang Bahar tidak mengerti.
"Ada deh mang. Lihat aja apa yang akan aku lakukan," ucap Rama sambil turun dari mobil.
"Mang Bahar tunggu aja di mobil. Biar aku sendirian aja yang masuk, mang."
"Baik mas," kata mang Bahar sambil menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, Rama keluar dari butik sambil membawa paper bag di tangannya. Mang Bahar merasa penasaran dengan majikannya ini. Rama keluar dari butik sambil menjinjing paper bag di lengkapi dengan sebuah senyum lagi di bibirnya. Hati mang Bahar yang merasa penasaran, tidak bisa ia sembunyikan.
"Mas Rama kok bahagia banget kayaknya. Habis beli apaan sih mas?"
"Beli dress, mang."
"Dress?" tanya mang Bahar seakan tak percaya.
"Iya, aku baru aja beli dress. Tadi itu aku lihat ada dress yang sangat cocok untuk Lia. Makanya, aku minta mang Bahar supaya mundur lagi," kata Rama menjelaskan apa yang membuat sopirnya ini merasa penasaran.
"Oh, pantesan bahagia. Ternyata baru habis beli sesuatu buat si non," kata mang Bahar.
Sampai di rumah, Rama bergegas keluar dari mobilnya. Ia berharap Lia lah yang menyambutnya di depan pintu. Harapan Rama jadi kenyataan. Yang menyambutnya pulang memanglah Lia.
"Lia, ini ada sesuatu untuk mu. Aku harap kamu suka dengan isinya," kata Rama sambil menyerahkan paper bag yang ia bawa.
"Apa-apa ini mas?" tanya Lia dengan nada canggung, bingung, dan ragu.
__ADS_1
"Buka aja Lia. Kamu pasti akan tahu apa isinya jika kamu melihatnya sendiri."
Karena rasa penasaran, Lia langsung membuka paper bag itu tanpa menunggu lama lagi. Ia merasa kaget saat melihat isi dari paper bag yang Rama berikan. Seketika, pikirannya kembali memutar pada saat Rama mencengkram kedua bahunya akibat ia memakai dress milik Melati.
"Lia, semoga kamu suka dengan dress yang aku berikan. Itu adalah tanda permintaan maaf ku padamu. Semoga saja kamu mau memaafkan aku yang telah salah kemarin."
Seakan tahu apa yang Lia rasakan. Rama segera menyampaikan apa maksudnya membelikan Lia sebuah dress. Rama berharap, Lia memaafkan kesalahan yang telah ia perbuat kemarin. Kesalahan yang seharusnya tidak ia perbuat sama sekali.
Lia menatap lekat wajah Rama. Ia tidak tahu harus berkata apa pada Rama saat ini. Jujur dari lubuk hatinya yang paling dalam, ia masih belum bisa melupakan apa yang Rama lakukan pada waktu itu. Hatinya masih terasa sakit akibat perlakuan Rama. Masa hanya karena sebuah dress yang sudah dibuang, Rama bisa bersikap begitu menakutkan.
Tapi bagaimanapun, Lia bukanlah wanita yang pendendam. Lia juga bukan wanita yang selalu menunjukkan secara langsung apa yang hatinya rasakan.
"Te-terima kasih mas Rama," ucap Lia sambil berusaha menghindar tatapan mata Rama.
"Sama-sama Lia. Semoga kamu suka dengan dress itu."
***
__ADS_1
Semakin hari, Rama semakin merubah sikapnya. Ia semakin hangat dan semakin menunjukkan kalau ia sangat peduli dengan Lia. Rama terlihat jauh berbeda dari sebelumnya. Ia jadi perhatian dan selalu tersenyum, apalagi pada Lia. Rama juga sudah sangat jarang berada di kamarnya. Ia berada di kamarnya hanya saat mandi dan ganti baju saja. Sedangkan untuk tidur, ia mengungsi tidur di kamar Lia. Saat di tanya kenapa masih tidur di kamarnya, oleh Lia. Rama selalu menjawab dengan berbagai alasan yang terdengar sedikit tidak masuk akal. Termasuk alasan takut Lia sakit lagi di malam hari.