
Tapi bunda tidak ingin memikirkan hal itu terlebih dahulu. Ia memilih menikmati kebahagiaan yang baru saja ia dengar dari Lia. Ia bahagia dengan apa yang Lia katakan. Kalau rumah tangganya sekarang baik-baik saja.
Bunda mengambil foto ayah yang ada di atas meja. Bunda tersenyum sambil melihat bingkai foto ayah.
"Ayah harus bahagia di sana sekarang. Ayah tahu tidak, pilihan ayah untuk Lia mungkin memang benar pilihan yang terbaik. Jika saja ayah ada di sini, ayah pasti akan bangga dengan keberhasilan ayah dalam memilih menantu buat anak kita," kata bunda sambil perlahan menjatuhkan buliran bening dari matanya.
Memang benar, ayah Lia suka memilih jodoh untuk anaknya. Waktu Bram belum menikah juga, ayah telah pilihkan jodoh buat Bram. Tapi sayangnya, Bram menolak mentah-mentah permintaan ayah.
Bram beranggapan, kalau pernikahan yang di jodohkan tidak akan bahagia. Alasannya, ya karena menyatukan dua insan yang tidak saling mencintai dalam sebuah ikatan yang sakral. Menikah itu adalah penyatuan dua insan yang saling mencintai untuk hidup bersama. Bukan yang tidak ingin bersatu yang di satukan.
Maka dari itu, Bram menolak keras perjodohan yang ayahnya buat dengan gadis yang bernama Mirna. Bram pergi dari rumah, lalu menikah dengan gadis pilihannya. Gadis yang menurutnya paling tepat untuk menjadi istri, dan yang paling penting, ia mencintai gadis itu dan gadis itu mencintainya.
Bram merasa bangga bisa menikah dengan wanita yang ia pilih. Walau tanpa restu dari ayah, ia tetap saja menikah dengan wanita itu.
__ADS_1
Sebulan pernikahan, ia dan istrinya langsung pindah dari rumah mertua. Karena tidak tahan mendengarkan omelan mertuanya setiap hari. Bram pun menyewa rumah yang tergolong lumayan kecil. Hanya ada satu kamar dan satu kamar mandi yang letaknya di luar kamar.
Saat itu, ia merasakan kalau perubahan sikap istrinya semakin jelas terasa. Istri yang ia pilih ternyata bukan wanita yang penyabar dan lembut. Istrinya tak ubah seperti mama mertuanya yang suka ngomel. Bukan hanya itu, istrinya juga punya sifat pendendam. Hingga sekarang, ia tidak pernah menginjakkan kaki ke rumah orang tua Bram. Sampai ayah meninggal pun, istri Bram tidak ingin datang. Padahal, kejadian itu sudah lama. Sudah lewat bertahun-tahun pula.
Ketika melihat bagaimana hubungan Lia dan Rama. Bram jadi merasa iri dan menyesal dengan penolakannya waktu itu. Apalagi saat ingat bagaimana sikap wanita yang ayahnya pilih. Hal itu semakin menimbulkan rasa sesal di hati Bram.
Mirna yang ayahnya jodohkan masih belum menikah saat ini. Ia adalah gadis yang sangat mandiri. Ia gadis yang berhati lembut dan sangat ramah. Jika saja Bram punya kesempatan untuk mengulang masa lalu, maka akan ia lakukan hal itu. Tapi pada kenyataannya hal itu tidak mungkin. Karena saat ini, ia sudah punya anak dan istri yang harus ia jaga. Walaupun istrinya tidak seperti yang ia inginkan. Tapi setidaknya, ia harus bertahan demi anak perempuannya yang masih butuh kasih sayang dari orang tua.
Sudah dua hari Lia tinggal di rumah bunda. Selama itu juga, Rama selalu datang untuk melihat bagaimana kabar Lia di rumah bunda. Ia akan mampir sebelum dan setelah pulang kerja.
Rama akan datang membawa sarapan buat Lia dan bunda. Ia juga akan mengantarkan makan malam buat Lia. Rama sebenarnya ingin bunda ikut tinggal di rumahnya, agar bunda tidak kesepian dan Lia punya teman ngobrol.
Niatnya itu ia sampaikan saat ia mengantarkan makan malam untuk Lia dan bunda. Lia setuju dengan niat Rama itu. Lia bahkan sangat mendukung dan senang sekali dengan maksud Rama.
__ADS_1
Tapi bunda tidak ingin meninggalkan rumahnya. Ia ingin tetap tinggal di rumah itu hingga ajal datang. Bunda tidak ingin berpisah dengan rumah yang ayah bangun dengan jerih payah ayah untuk bunda.
Lia terlihat sedih saat bunda menolak untuk tinggal bersamanya. Tapi Rama dengan bijak memberikan pengertian pada Lia. Kalau bunda tidak boleh di paksa. Di mana ia merasa nyaman, biarkan saja. Karena tidak baik untuk memisahkan bunda dengan apa yang membuat bunda nyaman. Itu akan membuat bunda merasa tertekan dan sedih.
"Tapi mas, Lia gak ingin bunda tinggal sendirian di sini. Bunda pasti akan kesepian," kata Lia saat mereka bicara berdua di kamar.
"Bagaimana kalau kita carikan seseorang yang bisa menjaga bunda di sini?"
"Maksud mas Rama?"
"Seseorang yang bekerja sekaligus menemani bunda agar tidak kesepian. Seperti bik Asih," kata Rama menjelaskan.
Mata Lia tiba-tiba berbinar mendengarkan apa yang Rama katakan. Itu adalah hal yang bisa membuat hatinya senang sekarang. Karena ia punya jalan keluar untuk kekhawatirannya akan bunda yang kesepian.
__ADS_1