
Awalnya, Lia marah, mengapa ia tidak langsung di kabarkan saat ayah sakit. Mengapa ayah tidak di bawa ke rumah sakit? Tapi penjelasan bunda membuat hatinya merasa semakin rapuh sekarang.
Bunda bilang, ayah tidak ingin mengabari anak-anaknya kalau ia sedang sakit, terutama Lia. Ia tidak ingin Lia merasa sedih dan terganggu karena kabar sakit ayah ini. Lagi pula, ayah sudah merasakan kalau ia tidak akan lama lagi. Ayah tidak ingin anaknya melihat saat ia sedang sekarat.
Mendengar semua ini adalah permintaan ayah, Lia tidak bisa apa-apa. Mau marah juga tidak mungkin. Jika ingin marah, ia mau marah dengan siapa coba. Lia terpaksa hanya bisa menahan hatinya yang sedih bercampur marah ini.
*
__ADS_1
Sampai di rumah, Rama membuka amplop abu-abu yang tertera jelas namanya di atas amplop abu-abu itu. Setelah Rama buka, ini dari amplop itu adalah selembar kertas yang terlipat sangat rapi. Rama membaca tulisan tangan yang ada di atas kertas putih itu dengan pelan.
Rama menantuku, ayah jodohkan Thalia dengan kamu, karena ayah tahu, kamu adalah anak baik, Rama. Ayah tahu kamu mampu menjaga Lia dengan baik ketika ayah sudah tiada lagi di dunia ini. Ayah titip putri kesayangan ayah padamu, nak. Jaga dia, sayangi dia, dan cintai dia sama seperti kamu mencintai istrimu yang telah tiada. Bimbinglah Lia untuk menjadi istri yang baik. Karena ayah tahu, Lia adalah anak yang baik, yang selalu menuruti apa yang orang tuanya inginkan. Lia juga pasti bisa menjadi istri yang baik yang seperti kamu harapkan. Doa ayah selalu menyertai kalian berdua.
Rama menarik napas dalam-dalam setelah membaca pesan singkat ayah mertuanya. Ia melihat sekeliling kamarnya yang masih tetap sama. Masih tetap terpajang dengan jelas foto-foto Melati di setiap tembok kamarnya. Lalu, Rama berjalan mendekati salah satu foto.
"Melati, aku sayang sama kamu. Aku tidak akan melupakan kamu dan rasa cinta kita. Aku akan menyimpan kamu dalam hatiku untuk selamanya. Dan maafkan aku, sekarang aku telah membagi tempat di hatiku untuk Lia juga. Tanpa menggeser kamu sedikitpun dari hatiku, aku menempatkan Lia juga di sana. Sekarang, dalam hatiku ada kalian berdua."
__ADS_1
"Aku yakin Melati, kamu pasti bisa mengerti dan memahami apa yang aku rasakan saat ini. Kamu juga akan mendukung keputusanku bukan? Aku tahu itu," kata Rama sambil tersenyum.
Rama seperti orang yang tidak waras saja saat bicara dengan foto. Tapi itulah yang ia lakukan selama bertahun-tahun. Kebiasaan itu berubah seiring dengan hadirnya Lia dalam kehidupan Rama. Hingga pada akhirnya, Rama mampu merubah kebiasaan yang telah ia lakukan selama bertahun-tahun lamanya.
*
Lia sedang duduk di tempat biasa ayah duduk saat ia masih tinggal serumah dengan ayah. Kursi itu kini jadi kenangan pengobat rindu saat sosok ayah telah tiada lagi di rumah ini.
__ADS_1
Lia membuka amplop abu-abu yang tertera namanya di amplop itu. Sama halnya dengan milik Rama. Amplop abu-abu milik Lia juga selembar kertas yang dilipat rapi. Lia membuka dan membaca tulisan tangan ayah yang ada di atas kertas tersebut.
Lia sayangku, ayah tahu kamu tidak suka dengan perjodohan antara kamu dan Rama. Ayah tahu kamu melakukan permintaan ayah dengan terpaksa. Tapi sayang, harus kamu tahu satu hal. Ayah menjodohkan Rama dengan kamu bukan hanya karena ayah merasa berhutang budi pada Rama dan keluarganya. Ayah menjodohkan kamu dengan Rama karena ayah tahu kalau Rama adalah laki-laki yang baik. Terlepas dari masa lalunya yang kelam dan menyedihkan. Rama adalah laki-laki yang terbaik untuk kamu. Hanya saja, kamu harus sabar dan selalu menjadi wanita yang baik, agar kamu bisa menjadi istri terbaik buat Rama, suamimu. Harapan ayah adalah, kamu bahagia bersama Rama. Doa ayah selalu menyertai kalian anak-anakku.