Pernikahan Karena Hutang Budi

Pernikahan Karena Hutang Budi
Bab 47


__ADS_3

"Sayang, mereka kan juga pernah muda. Jadi mereka tidak akan ambil pusing sama tanda merah itu," kata Rama sambil memeluk Lia dari belakang. Lia yang sedang melihat tanda itu dari kaca, hanya tersenyum saat.


"Tapi mas, aku gak enak kalau mereka melihatnya. Terlihat sekali kalo kamu itu sangat nakal dan galak."


"Biar ajalah. Orang aku nakal itu sama istri sendiri juga."


"Kamu enak ngomong. Lah yang ngerasa itukan aku mas. Nanti bik Asih pasti senyum-senyum ketika melihat tanda ini."


"Kamu sih nakal berlebihan. Kalo bikin di tempat tertutup kan gak ada yang tahu. Ini bikinnya di leher."


"Wuah, gak cukup ya tanda di tempat tertutupnya. Kalo gitu, aku mau bikin lagi ah. Ayo!" Rama menarik Lia menuju ranjang.


Lia tidak bisa menolak jika Rama langsung menyerangnya seperti ini. Diakan sangat lemah terhadap rangsangan yang tiba-tiba. Apalagi jika Rama tiba-tiba nakal tanpa ada aba-aba. Itu hal yang tidak mungkin Lia tolak lagi sekarang.


***

__ADS_1


Rama dan Lia merayakan ulang tahun pernikahan mereka di rumah. Taman belakang adalah tempat mereka mengadakan ulang tahun pernikahan yang pertama. Perayaan itu hanya sederhana saja. Cuma ada keluarga saja di sana.


Awalnya Rama mengusulkan acara yang super mewah untuk merayakan ulang tahun mereka yang pertama. Tapi Lia menolaknya. Karena hari ulang tahun pernikahan bertepatan dengan hari keseratus meninggalnya ayah Lia. Yang tidak mungkin Lia merayakan hari itu dengan pesta yang meriah. Karena itu adalah hari duka bagi Lia dan keluarga.


Jadinya, untuk memperingati hari pernikahan mereka ini. Rama memutuskan untuk mengundang kedua keluarga terdekat saja. Lia setuju dengan rencana makan-makan sederhana itu.


Semuanya telah siap. Bunda dan Bram berjanji akan datang setelah sholat maghrib. Sedangkan mama dan papa, mereka akan datang sore nanti.


Lia yang akhir-akhir ini merasakan kelelahan. Ia hanya melihat apa yang bik Imah dan bik Asih kerjakan saja. Ia tidak bisa membantu pekerjaan dapur. Karena ia merasa tidak enak badan untuk mengerjakan pekerjaan dapur. Sampai pada saat bik Asih menumis bawang merah. Lia tidak tahu kenapa, ia merasa isi perutnya seakan bergelombang.


"Non Lia, non Lia gak papa non?" tanya bik Imah cemas.


Lia tidak menjawab. Hanya saja, suara orang yang sedang mual terdengar jelas dari dalam kamar mandi itu. Lia seperti sedang berusaha mengeluarkan apa yang sudah ia makan sebelumnya.


"Ya Tuhan ... non Lia sakit non?"

__ADS_1


"Ada apa?" tanya bik Asih yang juga ikut menyusul.


"Gak tahu ini non Lia kenapa. Tapi sepertinya, ia sedang sakit sekarang."


"Kalau gitu, biarkan aku hubungi mas Rama. Kamu tunggu non Lia keluar."


Bik Imah mengangguk paham. Bik Asih berjalan cepat menuju telepon. Dengan cepat bik Asih menelpon Rama. Telpon terhubung, tapi tidak ada jawaban. Bik Asih mengulangi lagi untuk yang kedua kali. Masih tidak ada jawaban dari Rama. Bik Asih berusaha menghubungi Rama untuk yang ketiga kali. Telpon itu akhirnya di angkat oleh Rama.


"Ada apa bik?"


Bik Asih langsung mengatakan kalau Lia sedang sakit. Rama yang mendengarkan hal itu, langsung memutuskan untuk pulang ke rumah. Ia titipkan pasiennya pada suster untuk sementara waktu.


Saat melihat Lia yang berada di kamar. Rama mengerti akan tanda-tanda yang istrinya tunjukkan. Tapi untuk memastikan hal itu, ia membawa Lia ke rumah sakit untuk di periksa kebenaran dari tanda-tanda yang ia lihat.


Setelah Lia di periksa. Ternyata tanda-tanda yang Rama lihat itu benar adanya. Lia saat ini sedang hamil delapan minggu. Kehamilan yang masih sangat muda dan rentan. Dokter meminta Rama untuk berhati-hati karena Lia sedang hamil muda.

__ADS_1


Kebahagiaan terlihat sangat jelas di wajah Rama. Ia tersenyum lebar dan matanya berkaca-kaca. Rama memeluk erat tubuh Lia sambil mengucapkan kata terima kasih pada Lia. Berkali-kali, ia menjatuhkan ciuman pada Lia. Tidak peduli mereka sedang di lihat oleh orang lain. Rama tetap saja tidak merasa malu. Malunya telah dikalahkan oleh rasa bahagia.


__ADS_2