Pernikahan Karena Hutang Budi

Pernikahan Karena Hutang Budi
Bab 38


__ADS_3

"Gini aja deh non, non Lia tunggu mang Bahar di depan, biar mang Bahar masuk kedalam dari pintu samping."


"Tapi mang ... ya udah deh. Lia tunggu disini. Mang Bahar jangan lama-lama, Lia takut gelap soalnya."


Mang Bahar berjalan cepat meninggalkan Lia. Ia menghilang dari pandangan Lia dalam kegelapan malam. Lia merasa sangat takut akan apa yang terjadi.


Beberapa menit setelah kepergian mang Bahar. Sekelebat bayangan menghampiri Lia dalam kegelapan. Lia semakin takut dan panik ketika melihat hal itu. Saat ia ingin memanggil mang Bahar, mulutnya ditutup oleh seseorang. Lalu, orang itu menyeret tubuh Lia kebelakang rumah. Lia sangat ketakutan, dadanya berdegup kencang.


Saat berada di taman belakang rumah. Ada setitik cahaya yang berasal dari sebuah lilin. Cahaya lilin itu dibawa oleh seseorang yang wajahnya tidak kelihatan karena tertutup masker.


Lia berdoa dalam hati, agar Tuhan melindungi dia dan menyelamatkannya dari apa yang akan terjadi. Cerita bunda kini jadi kenyataan pada dirinya. Baru tadi siang bunda bercerita dan memintanya untuk berhati-hati. Tapi kini, ia malah langsung berhadapan dengan apa yang bunda ceritakan.


Hati Lia tidak henti-hentinya berdoa kepala Tuhan agar ia di selamatkan. Ia berharap, Rama baik-baik saja saat ini. Dan berharap, Rama datang untuk menolongnya dari ancaman besar yang menakutkan ini.


Semakin dekat lilin itu dengannya, maka semakin deras pula air mata Lia yang jatuh dari pelupuk matanya. Dadanya semakin berdetak kencang saat ini. Tapi tiba-tiba, ada sebuah sentuhan lembut yang menyentuh bahu Lia. Sentuhan yang di barengi panggilan dari suara yang sangat Lia kenal dengan baik.

__ADS_1


"Sayang."


Berbarengan dengan panggilan itu, tangan yang memegang dan menyeret Lia sehingga ia berada dalam ketakutan sejak tadi, ikut melonggar. Lia pun terlepas dari pegangan itu. Lia menoleh kesamping untuk memastikan kalau yang memanggil ia barusan memang benar Rama.


"Mas. Mas Rama." Panggil Lia dengan nada takut.


"Iya Lia. Ini aku."


Mendengarkan hal itu, Lia langsung melompat kedalam pelukan Rama. Pelukan yang ia anggap sangat nyaman dan mampu menenangkan setiap rasa yang ia alami.


Nyanyian selamat ulang tahun dari suara-suara yang tidak asing lagi di telinga Lia, ikut bersama nyalanya semua lampu. Lia mengangkat kepala dan melonggarkan pelukan eratnya untuk melihat apa yang ada di sekelilingnya.


Di sana, semua keluarga sedang tersenyum pada Lia sambil terus menyanyikan lagu selamat ulang tahun. Semuanya ada di sana. Tidak terkecuali kakak, bunda dan bik Imah juga ada.


Kini Lia sadar, kalau ia sudah di kerjain habis-habisan oleh semuanya. Ia di buat takut oleh bunda dan dikecoh kan oleh mang Bahar.

__ADS_1


Lia berbalik untuk melihat wajah Rama. Ia yakin, biang usilnya sedang ada di belakang.


Tapi saat Lia berbalik. Rama sedang berjongkok sambil mengangkat sebuah buket bunga yang sangat indah. Buket mawar merah yang terlihat megah di bawah sinar lampu malam.


"Thalia. Aku mencintaimu dari lubuk hatiku yang paling dalam. Maukah kamu menjadi istri pendamping untuk menemani hidupku sampai maut memisahkan kita?" tanya Rama dengan wajah penuh harap.


Hal yang tidak pernah Lia duga selama ini. Rama sedang menyatakan cintanya dengan kata-kata di hadapan semua keluarga.


"Mau dong," kata mama Dewi jauh.


"Iya ... mau pastinya."


"Terima ... terima ... terima .... " Sorak bik Imah, bik Asih dan yang lainnya. Sedangkan bunda, ia hanya tersenyum penuh bahagia sambil mengangguk pada Lia.


Hati Lia yang awalnya kesal karena di kerjain oleh semuanya. Kini berubah haru. Tidak mungkin ia menolak pernyataan cinta yang Rama ucapkan di depan semua keluarga. Karena selama ini, Rama memang tidak mengatakan cintanya pada Lia dengan kata-kata. Tapi ia sudah menunjukkan rasa cintanya dengan berbagai perbuatan yang bisa membuat hati Lia berbunga-bunga.

__ADS_1


"Bagaimana Lia? Apakah kamu bersedia menjadi ratu di hatiku?" tanya Rama lagi.


__ADS_2