
"Mas Rama yakin ingin menemani aku pergi malam ini juga?" tanya Lia dengan nada sesenggukan.
"Lia, jika kamu ingin berangkat ke sana sekarang, tidak mungkin aku akan membiarkan kamu berangkat sendirian. Aku akan temani kamu pergi ke sana."
"Tapi ini sudah sangat malam mas Rama. Apa aku tidak akan merepotkan mu?"
"Lia, jangan berpikir yang tidak-tidak. Aku adalah suami kamu kan?"
Lia tidak menjawab. Perkataan Rama barusan bagaikan baru tersadar dari mimpi buruk. Tapi tetap saja, kata itu tidak mampu membuat rasa kehilangan yang ia rasakan, menjadi berkurang, apa lagi hilang.
Setelah ganti baju, Rama segera membantu Lia untuk berjalan. Setelah dapat kabar duka itu, Lia seakan tidak punya tenaga sama sekali. Ia tidak sanggup berdiri dengan kedua kakinya, jika tidak ada bantuan untuk menahan tubuhnya. Lia seakan kehilangan tenaga untuk berdiri di atas kakinya sendiri.
Mereka berangkat di tengah malam, menuju rumah orang tua Lia. Bik Asih juga ikut ke sana. Kabar duka pun di layangkan Rama pada mama dan papanya. Mereka berjanji akan datang besok pagi, pagi-pagi sekali.
Ketika sampai di depan pintu rumah, Lia yang masih harus di bantu Rama untuk berjalan itu di sambut bunda dan kakaknya sekaligus. Lia yang lemah tidak bisa berkata apa-apa. Ia hanya bisa menangis saat bunda dan kakaknya memeluk tubuh yang tidak punya tenaga sama sekali.
__ADS_1
Rama juga tidak bicara apa-apa. Ia hanya berdiri dengan sikap sigap menahan Lia dari belakang. Mana tahu, kalau-kalau tubuh istrinya ini tidak kuat lagi untuk bertahan dan tiba-tiba pingsan. Ia bisa menangkap tubuh Lia dengan cepat.
Usai pelukan sambil menangis dengan anaknya. Bunda Lia baru menyadari kalau di sana bukan hanya ada Lia, melainkan, ada mantunya juga di sana.
"Nak Rama, kamu juga datang kesini nak," kata bunda sambil menghapus air matanya.
"Iya bunda. Saya pasti datang menemani Lia."
Bunda merasa sedikit haru saat mendengarkan perkataan Rama. Bagaimanapun, bunda tahu seperti apa Rama dahulu. Bunda juga banyak mendengar cerita tentang hidup Rama dari orang tua Rama dan dari ayah. Keluarga mereka memang sangat dekat sejak lama. Tapi tidak terlalu dekat seperti pada umumnya. Mereka dekat hanya sebatas kenalan lama yang sebisa mungkin selalu menjaga silahturahim sesama teman lam.
"A ... yah." Panggil Lia dengan suaranya yang serak dan bergetar.
Sangat sulit untuk Lia mengucapkan satu kata itu. Tenggorokannya terasa tidak bisa mengeluarkan suara lagi saat ini. Hanya tangisan yang mewakili semua rasa kehilangan yang ia rasakan.
Setelah mencurahkan tangisannya, Lia merasa tubuhnya semakin tidak punya tenaga sama sekali. Tubuh Lia semakin melemah saja sekarang. Mungkin karena syok dan banyak air mata yang ia tumpahkan, ia kini merasa sangat capek.
__ADS_1
Rama yang selalu berada di samping Lia, kini menyadari kalau istrinya butuh tempat untuk bersandar lagi. Ia membawa Lia kedalam dekapannya. Lia tidak menolak sedikitpun. Ia dengan senang hati menyadarkan kepalanya di dada bidang yang ia anggap sanggup membuat tubuhnya terasa nyaman.
"Nak Rama, mungkin sebaiknya Lia di bawa ke kamarnya saja," kata bunda ketika melihat kondisi Lia.
"Tidak mau bunda. Lia mau di sini saja. Lia mau terus berada di dekat ayah," kata Lia sambil berlinangan air mata.
"Tapi Lia, kamu kelihatannya sedang tidak baik nak."
"Lia baik-baik saja bunda. Lia baik-baik saja." Lia bicara sambil menangis sekarang.
"Bunda, sepertinya kita harus mengikuti apa yang Lia mau sekarang. Bunda gak usah cemas, ada Rama di sini yang menjaga Lia."
"Nak Rama, nak Rama juga kan butuh istirahat."
"Gak papa bunda, Rama juga pernah tidak tidur satu malam penuh. Ini sudah biasa buat Rama."
__ADS_1
Akhirnya, bunda mengalah dan membiarkan menantu dan anaknya tetap berada di samping jasad ayah. Sebenarnya, bunda kasihan melihat Rama yang terlihat sangat kecapean. Ia tahu bagaimana tugas Rama sebagai dokter di rumah sakit. Pasti tidak mudah untuk merawat pasiennya. Sekarang, ia harus menjaga Lia semalaman tanpa istirahat.