Pernikahan Karena Hutang Budi

Pernikahan Karena Hutang Budi
Bab 19


__ADS_3

"Non Lia kok masih duduk di sini sih non. Inikan udah mau sore sekarang," kata bik Asih sambil duduk di samping Lia.


"Lia sedang mencari udara segar bik. Bentar lagi juga akan masuk ke rumah."


"Non Lia gak lapar ya? Non Lia gak makan udah dari tadi malam. Nanti masuk angin lho non. Apalagi sekarang cuaca gak bersahabat seperti ini."


"Lia gak lapar bik. Nanti kalau sudah lapar, pasti makan."


"Non Lia ... bik Asih minta maaf ya. Semua ini kesalahan bibi non."


"Gak papa bik. Ini bukan kesalahan bibi. Lia yang salah. Harusnya, Lia tahu diri tinggal disini."


"Non Lia .... "


"Bik ... Lia minta maaf sama bibi, karena Lia tidak bisa membantu bibi mengembalikan mas Rama seperti dahulu. Lia nyerah sekarang bik. Lia sudah berusaha, tapi nyatanya, Lia tidak mampu," kata Lia dengan wajah sedihnya.


"Non Lia .... "


Perkataan bik Asih harus terhenti untuk yang kedua kalinya. Karena saat ia ingin bicara, klakson mobil Rama menghentikan pembicaraan mereka. Bik Asih dengan cepat meninggalkan Lia. Ia harus segera masuk untuk membukakan pintu buat Rama.

__ADS_1


Sedangkan Lia, ia masih tetap duduk di bangku taman sambil melihat dedaunan yang sesekali bergoyang ditiup angin.


Lia tidak ikut makan malam. Setelah sholat isya, ia kembali duduk di taman belakang rumah. Di taman itu, hatinya merasakan ketenangan. Makanya, dia terus duduk di sana seharian ini. Udara dingin yang bertiup di musim hujan pun tidak ia hiraukan sekarang.


Bik Asih telah datang untuk meminta ia masuk kedalam. Tapi ia tidak menghiraukan apa yang bik Asih katakan. Ia memiliki banyak alasan yang tidak bisa membuat bik Asih memaksakannya untuk masuk kedalam.


Satu-satunya cara yang bik Asih punya saat ini adalah, meminta Rama membujuk Lia untuk masuk kedalam rumah. Tapi hal itu sama sulitnya dengan bik Asih meminta Lia untuk masuk. Karena Rama dan Lia sama-sama punya sifat keras kepala dan ego yang tinggi.


Tapi bagaimanapun, bik Asih tidak punya cara lain selain meminta Rama membujuk Lia. Walaupun ia tahu, kalau ia akan mendapat penolakan lagi. Sama seperti saat ia meminta Rama untuk membujuk Lia buat makan. Rama menolaknya mentah-mentah.


Bik Asih mengetuk pintu kamar Rama yang tertutup rapat.


"Mas Rama, itu non Lia masih tidak mau masuk juga. Bagaimana ini mas?"


"Bik, Lia itu bukan anak kecil lagi. Dia tahu apa yang ia lakukan. Nanti juga dia akan masuk kedalam kalau sudah bosan."


"Tapi cuaca sedang tidak bersahabat mas. Bagaimana kalau non Lia masuk angin?"


"Bik, dia sendiri yang mau kan?"

__ADS_1


Bik Asih tidak punya cara lagi. Antara Rama dan Lia memang punya kesamaan yang jelas. Susah sekali untuk di bilangin. Bik Asih kembali kebawah dengan harapan hampa. Kini ia tidak tahu harus berbuat apa lagi.


Ia hanya mampu berdoa saja, supaya kedua majikannya ini cepat akur dan saling jatuh cinta. Walaupun itu terlihat sangat mustahil. Tapi tidak ada yang mustahil bagi yang maha kuasa. Jika ia menginginkan kedua makhluknya jatuh cinta, maka akan terjadi.


Gerimis mulai turun perlahan. Angin bertiup sepoi-sepoi, menambah hawa dingin di kegelapan malam. Lia masih duduk di sana. Menikmati gerimis yang perlahan berubah menjadi hujan.


Hati wanita itu menangis ketika ingat apa yang telah terjadi. Hanya sebuah dress yang ia kenakan, Rama bisa bersikap seperti orang kesetanan padanya.


Lia tersenyum saat hujan membasahi tubuhnya. Ketika hujan turun, itu adalah saat yang paling ia tunggu-tunggu. Karena saat itulah, ia bisa menangis tanpa ada yang tahu. Menangis di kegelapan malam membuat hatinya tenang.


Hujan turun sangat deras. Bik Asih segera melihat kearah bangku taman. Ia kaget ketika matanya melihat Lia yang masih duduk di sana, di bawah hujan deras. Ia bergegas mengambil payung, lalu mendekati Lia.


"Non Lia, ayo masuk non. Hujannya deras banget, nanti non Lia bisa sakit."


"Nanti Lia masuk bik. Kalau sudah dingin. Lia masih ingin main hujan."


"Non Lia, ini malam non. Jangan coba-coba main hujan, nanti sakit."


Lia tetap menolak ajakan bik Asih untuk masuk kedalam rumah. Rama yang melihat semua itu sejak tadi, ia tidak bisa tinggal diam. Walau bagaimanapun, ia masih punya hati.

__ADS_1


__ADS_2