
Walaupun Lia merasa aneh dengan alasan yang Rama utarakan, tapi Lia tetap menerima Rama untuk tidur satu kamar dengannya. Toh, Lia sudah merasa nyaman ada Rama di sekitarnya. Ya walaupun Rama tidurnya masih di sofa. Tapi Lia masih bisa melihat wajah tampan laki-laki itu sesaat sebelum terlelap.
Lia baru saja ingin memejamkan matanya, saat ponsel miliknya berdering dengan nada yang lumayan keras. Lia bangun dengan cepat untuk melihat alat komunikasi itu. Di layar ponselnya tertera nama kak Bram masih memanggil. Hatinya menebak, apakah yang ingin kakaknya bicarakan saat malam seperti ini. Tanpa membuang waktu lagi, Lia mengangkat panggilan itu.
Dari seberang sana terdengar suara yang lumayan sibuk. Ada suara isak tangis yang cukup jelas terdengar di telinga Lia. Hatinya bergetar hebat ketika kakaknya berbicara dengan suara yang tidak biasa.
"Ada apa kak Bram? Apa yang terjadi di sana?" tanya Lia dengan nada panik dan takut.
"Lia ... Lia, ayah Lia." Suara itu hampir tidak terdengar karena sangat kecil dan bergetar lemah.
"Iya kak Bram. Ayah kenapa? Bicara dengan jelas kak agar aku tidak cemas. Katakan padaku kalau ayah baik-baik saja saat ini, kak Bram."
__ADS_1
Bram yang ada di seberang sana terdiam. Tapi ia terdengar sedang mengisak dan berusaha mengumpulkan suaranya agar kuat bicara. Rama yang baring di sofa, kini bangun dan duduk di atas ranjang Lia. Ia juga merasa penasaran dengan apa yang ingin kakak iparnya katakan.
"Kak, jangan bikin Lia cemas dan penasaran. Ayo katakan ada apa sebenarnya di sana? Kak Bram sedang berada di mana? Kenapa ada suara tangisan di sana?"
"Lia, ayah sudah tiada sekarang. Kakak mohon kamu kuat dek. Kakak sedang berada di rumah ayah saat ini. Ayah telah meninggal Lia."
Ucapan dengan tangisan itu sangat menyayat hati Lia. Meskipun perkataannya di barengi dengan tangisan dan hampir tidak terdengar karena Bram bicara sambil menangis. Tapi Lia dengan jelas mendengarkan apa yang kakaknya katakan.
Tubuh Lia seakan tidak mampu bertahan. Dunianya seketika gelap karena kabar yang sangat menyayat hati. Kabar duka itu membuat ia tidak bisa mengontrol diri. Tubuh Lia terhuyung begitu saja.
"Halo Bram. Ini aku, Rama. Jika memang memungkinkan untuk datang malam ini, maka aku akan bawa Lia untuk pergi secepatnya ke sana. Aku harus melihat kondisi Lia dulu sekarang," kata Rama bicara dengan cepat sambil terus memeluk Lia.
__ADS_1
Meskipun merasa aneh dengan suara Rama yang ada di sekitar Lia. Tapi Bram tidak ingin memikirkan hal itu. Yang ada dalam pikirannya saat ini hanyalah kesedihan dan kesedihan. Ia tidak bisa memikirkan yang lain saat ini, selain rasa sedih karena kehilangan ayahnya.
"Lia, tenangkan dirimu Lia. Aku tahu kamu adalah wanita yang sangat kuat," kata Rama sambil mengusap pucuk kepala Lia.
Lia memang tidak pingsan karena kabar itu. Tapi syok yang ia rasakan, lebih dari pingsan baginya. Kabar kepergian sang ayah, seperti membawa pergi separuh nyawa dari tubuhnya.
Rama mencoba membuat Lia tenang dengan pelukan hangat dan kata-kata semangat. Kini, Lia menangis sejadi-jadinya dalam pelukan Rama. Dada bidang milik Rama, seakan tempat yang sangat nyaman untuk Lia menumpahkan semua kesedihan yang ia miliki. Baju tidur yang Rama kenakan, kini berubah warna di bagian dada. Kerena Lia menumpahkan air matanya.
"Lia, apa kamu ingin kita berangkat ke rumah orang tuamu malam ini?" tanya Rama dengan sangat lembut sambil terus membelai Lia.
Lia bangun dari pelukan Rama. Ia melihat wajah laki-laki itu yang menatapnya dengan penuh iba.
__ADS_1
"Inikah yang kamu rasakan selama ini, mas? Kamu memendam rasa kehilangan orang yang kamu sayang. Kini aku mengerti bagaimana rasanya mas," kata Lia dalam hati sambil melihat wajah Rama.
"Lia, aku tahu kamu sangat sedih sekarang. Jika kamu ingin pergi ke rumah orang tuamu sekarang. Aku akan pergi bersamamu," kata Rama sambil menghapus air mata yang jatuh ke pipi Lia.