Pernikahan Karena Hutang Budi

Pernikahan Karena Hutang Budi
Bab 37


__ADS_3

Ketika sampai di tempat parkir. Lia merasa heran karena tidak ada mang Bahar di sana. Ini tidak seperti biasanya.


"Mas, dimana mang Bahar?" tanya Lia sambil melihat sekeliling.


"Mang Bahar? Mang Bahar .... " Rama terlihat berpikir dimana mang Bahar sekarang.


"Ya Tuhan ... mang Bahar sedang berada di rumah sakit, Lia."


"Lho, bagaimana caranya mang Bahar di rumah sakit sedangkan mobil di sini mas?"


"Itu ... itu karena, aku yang bawa mobilnya dan melupakan mang Bahar."


"Jadi, mas Rama nyetir sendiri kesini?" tanya Lia tak percaya dengan apa yang ia dengar.


"Iya."


"Berarti, kamu udah bisa bawa mobil sendiri mas."


"Sekarang gak bisa Lia. Aku gak sanggup buat nyetir lagi."

__ADS_1


"Lho, bukannya tadi mas Rama yang bawa mobil sendiri kesini."


"Iya, tapi untuk bawa mobil pulang, aku gak bisa lagi."


"Terus gimana dong mas?" tanya Lia bingung.


"Kita harus nunggu mang Bahar kesini, baru bisa pulang."


Lia hanya bisa menarik napas dalam-dalam saja ketika melihat tingkah Rama yang aneh. Ia bisa bawa mobil datang ke rumah sakit ini, tapi ia tidak bisa bawa mobil untuk pulang.


Beberapa menit kemudian, mang Bahar sampai dengan naik ojek. Mang Bahar tersenyum melihat wajah Rama yang serba salah. Ia merasa lucu dengan tingkah Rama yang aneh.


"Gimana sih mas, bawa pergi bisa, tapi bawa pulang gak bisa," kata mang Bahar sambil senyum menggoda.


"Iya mas. Mang Bahar ngerti," kata mang Bahar sambil senyum menggoda Rama.


Rama merasa malu ketika mang Bahar menggodanya. Ia tahu apa yang ia lakukan memang sangat berlebihan. Terlalu cemas sehingga lupa akan segalanya. Lain halnya dengan Lia. Ia merasa bahagia dengan apa yang Rama lakukan untuknya.


***

__ADS_1


Siang ini, Lia diminta bunda untuk datang ke rumah. Karena, bunda kangen dengan Lia. Ia juga ingin ngobrol dengan anaknya. Karena sejak kejadian itu, Lia belum pernah datang ke rumah bunda. Rama sedikit takut jika Lia keluar rumah sendirian. Ia takut terjadi apa-apa pada istrinya.


Tapi karena bunda yang meminta untuk datang. Rama tidak bisa menolak permintaan bunda. Ia juga tidak bisa menemani Lia untuk pergi ke rumah bunda. Karena Rama bilang, ia punya banyak pekerjaan di rumah sakit.


Lia datang bersama mang Bahar ke rumah bunda. Bunda banyak bercerita dan ngobrol dengan Lia. Termasuk, ngobrol tentang aliran sesat yang katanya sedang marak. Aliran sesat yang menjebak pengikutnya untuk mengikuti ajaran suatu agama dengan membawa lilin di tengah kegelapan.


Kata bunda, itu sangat bahaya. Karena mereka akan memaksa setiap pengikutnya untuk tunduk dan mengikuti ajaran mereka. Jika tidak mau, maka akan di bunuh.


Lia merasa ngeri saat mendengar cerita bunda. Ia pun memutuskan untuk pulang sebelum maghrib tiba. Tapi pada kenyataanya, Lia pulang malam, karena mobil yang mang Bahar bawa mogok di tengah jalan. Butuh waktu berjam-jam untuk memperbaiki mobil itu, barulah mereka bisa melanjutkan perjalanan pulang ke rumah.


Sampai di rumah, tidak ada cahaya sedikitpun yang terlihat menyala. Lia menjadi cemas dengan keadaan rumah yang gelap. Apa yang bunda ceritakan masih terngiang-ngiang di telinga Lia.


"Mang Bahar, ada apa ini? Kenapa rumah begitu gelap, tidak ada cahaya sama sekali. Dimana bik Asih? dimana mas Rama?" Lia menghujani mang Bahar dengan banyak pertanyaan saat mobil telah sampai di halaman rumah.


"Yah, non. Mana mang Bahar tahu non. Mang Bahar kan bersama non Lia tadi. Jadi gak tahu apa yang terjadi," kata mang Bahar ikut cemas.


"Aduh ... kenapa nomor mas Rama gak aktif segala sih? Nomor rumah juga gak ada yang jawab," kata Lia sambil sibuk mengutak-atik ponselnya.


"Non, apa ada hal buruk yang udah terjadi di rumah ini? Tidak biasanya seperti ini, bukan?" kata mang Bahar semakin membuat Lia merasa cemas dan takut.

__ADS_1


"Mang Bahar gimana sih? Kenapa malah membuat aku merasa semakin takut?"


"Maaf non, bukan maksud mang Bahar bikin non Lia merasa takut. Itu hanya firasat mang Bahar saja."


__ADS_2