Pernikahan Karena Hutang Budi

Pernikahan Karena Hutang Budi
Bab 9


__ADS_3

"Apakah kamu tidak tahu apa yang aku katakan. Aku tidak ingin berteman dengan siapapun."


"Tapi aku butuh teman. Apa salahnya kita berteman. Tidak akan merugikan dokter juga kan?"


Rama menatap wajah Lia yang tetap bersikeras dengan ajakannya berteman.


Lia terlihat sangat kukuh dengan pendiriannya kali ini. Ia tidak akan menyerah sebelum ia mendapatkan apa yang ia mau.


"Kau tahu, aku tidak butuh teman. Kenapa kamu masih bersikeras ingin kita berteman?"


"Aku tidak ingin sendirian di rumah ini dokter."


"Kamu tidak sendirian. Kamu bisa bicara dengan bik Asih atau keluar kemana kamu mau, jika kamu bosan di rumah."


"Dokter Rama tidak mengerti apa yang aku rasakan saat ini. Aku hanya ingin kita punya hubungan sebagai teman. Yang bisa saling berbagi dan tidak canggung saat bertemu."

__ADS_1


"Aku belum siap punya teman. Dan tidak akan pernah siap untuk berteman."


"Dokter Rama. Aku tidak memaksakan kamu untuk mengaggap aku sebagai istrimu. Karena aku tahu, itu tidak mungkin kamu lakukan. Tapi setidaknya, hubungan sebagai teman seharusnya tidak akan merugikan kamu dan aku."


Rama melihat Lia dengan tatapan sendunya. Mungkin yang Lia katakan ada benarnya. Hubungan sebagai teman seharusnya tidak masalah. Ia tidak perlu menyakiti siapapun dengan hubungan sebagai teman dengan Lia.


"Baiklah. Aku terima permintaan untuk berteman denganku. Tapi tidak lebih dari teman."


Lia tersenyum bahagia. Kini ia berhasil mencairkan batu es yang begitu keras. Walau es itu tidak sepenuhnya cair, tapi setidaknya bisa meleleh sedikit saja sudah lumayan.


"Baiklah. Mulai sekarang kita adalah teman. Dan sebagai seorang teman, aku akan mengubah panggilanku pada dokter Rama. Aku akan memanggil dokter Rama dengan panggilan kakak."


Tubuh Lia sedikit kaget akibat bentakan kata jangan yang tiba-tiba Rama ucapkan. Lia mengelus dadanya akibat kaget.


"Ya Tuhan, kuatkan aku tuhan. Jangan biarkan dokter Rama bersikap kasar padaku," ucap Lia dalam hatinya.

__ADS_1


"Maaf. Jangan panggil aku dengan sebutan itu," kata Rama dengan nada sedikit menyesal.


Mungkin Rama tidak sengaja membentak Lia. Terlihat jelas kalau dia menyesal melakukan hal itu. Dari nada suaranya saja, sudah bisa Lia tebak. Kalau Rama membentaknya secara tidak sengaja.


"Gak papa. Kalau begitu, aku akan panggil dokter Rama dengan panggilan Mas Rama saja. Bagaimana?"


"Terserah kamu saja."


"Baiklah, aku ingin istirahat. Aku tinggal dulu," ucap Rama lagi sambil menutup pintu kamarnya.


Lia melepaskan napas berat. Rama menutup pintu kamar tanpa menunggu jawaban darinya terlebih dahulu. Tapi tidak apa-apa, ini adalah awal baru baginya. Ia sudah berhasil bicara banyak dengan Rama hari ini. Meskipun untuk bicara hari ini, ia sudah mengorbankan separuh napas dan seluruh egonya. Tapi hasilnya tidak sia-sia. Hasilnya lumayan memuaskan hati Lia.


"Ayo Lia, semangat terus. Usaha tidak akan pernah mengkhianati hasil," kata Lia pada dirinya sendiri sambil turun kebawah.


Sampai di kamarnya, Lia merenungi sikapnya yang barusan ia tunjukkan pada Rama. Sungguh memalukan apa yang ia lakukan barusan. Lebih mirip orang yang tidak punya harga diri di hadapan seorang laki-laki. Tapi saat ia ingat wajah mama mertuanya yang begitu sedih dan berharap padanya. Lia jadi kuat kembali. Tekadnya untuk melakukan apa saja untuk membantu mama mertua, kembali tumbuh, bahkan mekar dalam hatinya.

__ADS_1


....


Lia terus saja mencari kesempatan untuk bicara dengan Rama. Baik saat makan malam, sarapan pagi, atau kapan saja ada kesempatan untuk bicara. Kesempatan ngobrol dengan Rama selalu ia cari. Yah, walaupun hasilnya kadang diabaikan, kadang dijawab seadanya. Tapi Lia tidak akan pernah menyerah.


__ADS_2