
"Lia Lia Lia. Apa yang kamu pikirkan saat ini, hah? Jangan banyak berpikir tentang dia. Meskipun dia itu suami kamu yang sah, tapi dia itu sudah punya orang yang ia cintai. Jangan kecewakan hatimu dengan hal yang tidak bisa kamu miliki," kata Lia mengingatkan dirinya sendiri.
Lia kembali memutar tubuhnya. Ia kembali membelakangi Rama yang sedang tertidur manis di atas sofa. Ia berusaha untuk tidak memikirkan apapun tentang Rama. Ia berusaha untuk tidak mengangumi Rama. Walaupun itu tidak mungkin baginya.
Bayangan wajah Rama masih saja gentayangan di benak Lia. Walau Lia sudah membalikkan badannya. Tapi, wajah tampan itu terus saja mengikuti kemana matanya di alihkan.
"Tuhan ... aku ingin tidur dengan nyenyak. Buat aku tidak membayangi wajahnya lagi. Aku tidak bisa tidur dengan bayang-bayang ini," kata Lia sambil memeluk guling.
Lia seperti orang yang sedang berjauhan dengan kekasihnya saja saat ini. Resah karena menahan rindu. Sampai harus di bayang-bayangi karena sangat merindukan sang kekasih. Tapi pada kenyataannya, tidak seperti itu. Laki-laki yang membuatnya hatinya resah dan matanya tidak bisa tidur saat ini, hanya berjarak beberapa langkah dari tempat ia baring.
***
Karena sulit untuk tidur, dan tidurnya kemalaman. Lia bangun sedikit kesiangan. Ia tidak sempat untuk melaksanakan sholat subuh karena hari sudah pagi.
__ADS_1
Saat Lia bangun, ia langsung melihat sofa. Tempat dimana Rama tidur dengan nyenyak tadi malam. Lia masih berharap kalau Rama ada di sana, walaupun tidak mungkin lagi. Karena Rama pasti sudah bangun sebelum adzan subuh berkumandang.
Benar saja, ketika ia melihat kearah sofa. Rama sudah tidak ada di sana. Bukan hanya Rama nya yang tidak ada. Selimutnya juga sudah tidak ada lagi di atas sofa.
Lia bangun dengan wajah yang terlihat kusut akibat kurang tidur. Ia berjalan pelan menuju dapur untuk mengambil segelas air. Saat Lia sampai di meja makan, dua piring sarapan sudah tersedia di sana.
"Sarapannya masih belum disentuh sedikitpun. Apa mas Rama belum sarapan sama sekali? Apa dia juga masih ada di rumah saat ini?" tanya Lia dalam hati.
"Lia. Udah bangun kamu?" tanya Rama sekedar basa basi saat melihat Lia tertegun menatapnya.
"Ayo duduk, sarapan dulu kita," kata Rama lagi sambil menarik kursi untuk Lia.
"Non Lia. Sarapan pagi ini istimewa lho non. Mas Rama sendiri yang masak sarapan paginya," kata bik Asih yang baru muncul dari arah belakang.
__ADS_1
Lia duduk di kursi yang telah Rama siapkan. Ia begitu merasakan kebingungan yang teramat. Bagaimana tidak, ini perlakuan Rama yang lainnya, yang selama ini tidak pernah ia tunjukkan pada Lia.
"Ayo Lia, dimakan sarapannya, jangan hanya di liatin aja," kata Rama.
"Iya non Lia. Cobain rasa masakan mas Rama. Pasti rasanya sangat enak. Mas Rama kan masaknya dengan hati. Iya gak mas?"
"Iya dong bik," ucap Rama menjawab pertanyaan bik Asih sambil tersenyum.
Lia semakin bingung dengan perubahan Rama. Di tambah lagi, laki-laki itu sekarang sangat mudah tersenyum dan bersikap begitu hangat. Ini hal yang tidak pernah ia bayangkan selama ini. Lia sempat berpikir, mungkinkah ia telah berhasil mengubah sikap dingin laki-laki itu sekarang? Kalau begitu, sangat bagus untuknya. Berarti, ia bisa juga balas budi pada keluarga Rama ini.
Lia mencoba memasukkan sesendok nasi goreng kedalam mulutnya. Benar yang bik Asih katakan, masakan Rama memang enak. Tak kalah dengan masakan yang biasa ia masak. Lia tidak menyangka, kalau laki-laki ini ternyata juga bisa masak. Mungkin karena masaknya dengan hati, itu yang membuat masakan Rama terasa lezat di tenggorokan Lia.
Lia menghabiskan sarapannya tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Sekarang seperti kebalikannya, Rama berubah ramah, sedangkan Lia menjadi pendiam.
__ADS_1