Pernikahan Karena Hutang Budi

Pernikahan Karena Hutang Budi
Bab 42


__ADS_3

Anak dan menantu kami tersayang. Mama dan papa hanya bisa memberikan dua tiket bulan madu ini untuk kalian berdua. Besar harapan mama dan papa pada kalian berdua agar segera berangkat bulan madu. Karena papa dan mama sudah tidak sabar lagi untuk menimang cucu. Umur kami semakin tua nak. Kami harap kalian berdua tidak mengecewakan kami orang tua yang sangat berharap ini.


Lia dan Rama hanya bisa saling tatap setelah membaca pesan singkat dari mama dan papa Rama. Tidak ada kata yang bisa mereka ucapkan saat ini. Rama yang awalnya bahagia dengan permintaan mama, kini tiba-tiba berubah murung sambil melihat kedua tiket itu.


"Ada apa mas? Apa ada yang salah dengan kata-kata mama dan papa?"


"Apa kamu ingin pergi liburan Lia?" Rama malah bertanya balik pada Lia.


"Maksud mas Rama?"


"Awalnya aku bahagia saat mama dan papa memberikan sepasang tiket untuk bulan madu. Tapi aku ingat tugasku di rumah sakit. Aku punya tangung jawab atas pasien-pasien yang aku rawat saat ini. Jika kita pergi keluar negeri, itu tidak akan cukup menghabiskan waktu selama dua atau tiga hari. Paling tidak, kita butuh waktu lima atau bahkan satu minggu diluar negeri, Lia." Rama terlihat sedih ketika membicarakan hal itu.


"Mas Rama, tolong jangan sedih seperti itu. Aku tahu kamu punya tangung jawab besar sebagai dokter. Aku juga tidak ingin berlibur keluar negeri saat ini."


"Lia, mungkin kamu adalah wanita yang paling tidak beruntung saat kamu menikah denganku. Aku tidak bisa membawa kamu jalan-jalan keluar negeri seperti suami orang pada umumnya."


"Mas Rama ngomong apa sih? Aku itu malah merasa wanita yang paling beruntung saat menikah dengan kamu mas. Kamu adalah laki-laki yang sangat bertanggung jawab atas tugas yang kamu miliki. Aku bangga pada," kata Lia sambil menjatuhkan kepalanya kedalam pelukan Rama.

__ADS_1


"Maafkan aku. Aku bisa meminta yang lain menggantikan tugasku di rumah sakit. Tapi aku merasa tidak bisa melakukan itu. Karena pasien yang aku rawat adalah tangung jawabku. Aku tidak bisa lepas tangan dari mereka," kata Rama melanjutkan ocehannya sambil membelai lembut pucuk kepala Lia.


"Mas Rama. Kamu adalah yang terbaik."


"Jangan terus puji aku. Kamu ini ya." Rama mencubit hidung Lia.


"Auh, sakit tahu." Lia memasang wajah cemberut yang dibuat-buat.


"Biar aja. Itu hukuman untuk istri yang suka muji-muji suami terus menerus. Mana di depan orangnya lagi kamu muji. Kan akunya jadi gak enak hati, dapat pujian terus menerus dari kamu."


"Ye ... dimana-mana itu orang senang kalo dipuji. Lah, mas Rama malah kebalikannya."


"Ya juga ya mas. Kamu memang beda dari yang lain."


"Sayang ... jelaslah aku beda. Aku ini Rama Syahputra suami kamu. Lah orang lain aku gak tahu suami siapa," kata Rama sambil memeluk Lia dari samping.


"Ih, mas Rama bikin kesal aja deh."

__ADS_1


Rama tersenyum sambil mencubit pipi putih mulus Lia.


"Ayo tidur sekarang, udah capek banget nih."


"Eh, tunggu dulu dong. Masih ada satu lagi nih, punya bunda yang belum kita buka."


"Oh iya yah, lupa kalau punya bunda belum. Ya udah, ayo buka!"


Lia membuka kado terakhir. Kado dari bunda yang terbungkus kertas kado berwarna hijau muda terang. Lia melihat isi kado itu dengan mata berkaca-kaca. Didalam kado itu juga ada selembar kertas kecil yang terlipat rapi.


"Apa isinya sayang?" tanya Rama penasaran saat melihat wajah istrinya yang hampir menjatuhkan air mata.


"Isinya .... ini mas," kata Lia sambil mengeluarkan sepasang baju bayi rajutan tangan yang sangat indah.


"Rajutan?"


Lia mengganguk pelan sambil membuka kertas yang ada di dalam kado itu.

__ADS_1


Thalia sayang. Ulang tahun yang kedua puluh satu ini, bunda sengaja tidak kasih kado apa-apa pada kamu. Bunda hanya memberikan wasiat ayah saja padamu. Kamu pasti ingatkan Thalia, kalau ayah pernah merajut baju bayi saat kamu datang ke rumah. Ayah punya harapan besar padamu sebagai seorang istri. Ayah ingin kamu memberikannya seorang cucu. Ayah ingin kamu jadi ibu dan istri yang baik buat keluargamu nak.


__ADS_2