
Lia terlelap di pangkuan Rama. Sedangkan Rama, ia pun ikut terlelap sambil bersandarkan tembok. Tubuhnya memang sangat lelah akibat banyak pasien yang harus ia urus di rumah sakit. Ia memang butuh istirahat cukup malam ini. Tapi karena Lia yang tidak ingin meninggalkan jasad ayahnya, Rama terpaksa menemani Lia untuk tetap berada di ruang tamu.
Bunda yang melihat anak dan menantunya tertidur, dengan cepat mengambil selimut. Bunda hanya bisa menyelimuti Lia saja. Karena Lia sedang berbaring di pangkuan Rama, membuat bunda tidak bisa memberikan selimut buat Rama. Bram yang baru saja keluar dari kamar mandi, melihat apa yang bundanya lakukan.
"Ada apa bunda? Apa yang bunda lakukan?" tanya Bram penuh penasaran.
Bunda menjauh dari Rama dan Lia sebelum ia bicara.
"Bunda memberikan selimut buat Lia. Bunda kasihan melihat Rama. Sepertinya dia sedang kecapean."
"Kenapa mereka tidur di sana?"
"Lia tidak ingin jauh dari jasad ayah. Makanya ia tidak ingin ke kamar. Rama juga jadi ikut-ikutan apa yang Lia mau."
__ADS_1
"Bunda, apa mereka sama seperti yang kita lihat sekarang?"
"Maksud kamu?" tanya bunda sambil memandang Bram.
"Apa hubungan rumah tangga Lia dan Rama itu sama seperti yang kita lihat saat ini. Bukankah bunda tahu bagaimana mereka menikah. Dan bunda juga tahu kan, bagaimana kehidupan Rama dahulu."
"Bram. Bunda tidak tahu bagaimana kehidupan rumah tangga adikmu. Yang bunda tahu, saat ini, Rama yang ada di sini sangat berbeda dari yang sebelumnya. Dan bunda berharap, kehidupan mereka sama dengan yang kita lihat saat ini."
Bram tidak menjawab. Ia hanya menganggukkan kepalanya membenarkan apa yang bunda katakan. Ia kembali ingat sesaat setelah ia menelfon Lia. Saat itu, ada suara Rama di sekitar Lia. Tidak mungkin mereka masih berada di luar jika sudah semalam itu. Pastilah Rama dan Lia berada satu kamar saat ia menelfon Lia.
Mereka terbangun saat adzan subuh berkumandang. Bram yang bertugas menjaga jasad ayah, tidak tidur sedikitpun malam itu. Ia yang di temani beberapa warga, terus saja mengaji di sekitar jasad ayah.
Lia dan Rama yang sangking capeknya, tidak menghiraukan warga yang sibuk mengaji berganti gantian di ruang tamu itu. Saat adzan, barulah Lia sadar kalau ia sedang berada di rumah orang tuanya.
__ADS_1
***
Lia tetap saja harus berjalan sambil dipapah Rama, saat mereka mengantarkan jasad ayah menuju peristirahatannya yang terakhir. Air mata yang tumpah sudah tidak bisa di hitung lagi berapa banyaknya. Mata Lia terlihat bengkak akibat kebanyakan menangis.
Usai pemakaman, bunda meminta Lia untuk tetap tinggal di rumahnya selama beberapa hari. Rama mengizinkan Lia untuk tetap berada di sana. Ia juga tahu bagaimana perasaan bunda saat ini. Bunda pasti merasa kesepian.
Sedangkan Rama, ia punya tugas sebagai dokter yang tidak bisa ia tinggalkan lama-lama. Ia harus kembali secepatnya ke rumah dan segera kembali bekerja seperti biasa. Sehari ia ambil cuti, itu pun harus di ganti dengan temannya yang lain. Tidak mungkin ia minta bantuan temannya lama-lama menggantikan tugas merawat pasien yang sudah ditugaskan padanya untuk dirawat.
Sebelum Rama pulang, bunda menyerahkan sebuah amplop abu-abu padanya. Entah apa isi di dalam amplop abu-abu yang tertutup rapat ini. Tapi yang pasti, ini adalah wasiat dari ayah, kata bunda.
Bukan hanya Rama yang dapat amplop abu-abu, Lia dan Bram juga mendapatkan amplop yang sama. Semuanya tidak tahu apa isi dari amplop abu-abu itu. Tapi yang jelas, itu adalah kata-kata terakhir ayah untuk anak-anak dan menantunya.
Ayah meninggal dua hari setelah ia mengatakan pada bunda, kalau ia tiada, ia ingin bunda memberikan amplop abu-abu pada nama-nama yang telah tertera di atas amplop itu.
__ADS_1
Ayah meninggal karena sakit jantung yang ia derita. Ia tidak mau di bawa ke rumah sakit lagi, karena ayah sudah tahu, kalau ia tidak bisa bertahan walau di bawa ke rumah sakit.