Pernikahan Karena Hutang Budi

Pernikahan Karena Hutang Budi
Bab 40


__ADS_3

"Kamu gak nginap di sini, Bram?" tanya Rama.


"Iya kak, gak nginap di sini aja. Besok pagi pulang."


"Gak usah Lia, Rama. Besok, kakak harus masuk kerja pagi-pagi sekali. Jadi, kalau dari sini gak akan terkejar."


"Oh ya, hampir lupa mengingatkan sesuatu. Kamu itu harus panggil aku kakak Rama. Gak boleh panggil kamu ke aku," kata Bram mengingatkan Rama.


"Apaan sih. Umur aku itu lebih tua dari kamu tahu gak. Lebih tua dua tahun dari umur kamu malahan, Bram," kata Rama tidak ingin memanggil Bram dengan panggilan kakak.


"Tidak bisa. Mau tuaan aku atau kamu, tetap saja kamu harus panggil aku kakak. Orang kamu nikahnya sama adik aku."


"Yah, dia ngotot lagi," kata Rama tetap tidak terima.


"Ini apaan sih, masa soal panggilan aja mau di ributkan sih," kata bunda yang mendengarkan apa yang anak dan menantunya debatkan.


"Gak tahu nih bun, masa kak Bram sama mas Rama harus debat soal panggilan sih. Jatuhnya kan sama aja," kata Lia.

__ADS_1


"Gak sama dong Lia. Itu jelas sangat berbeda. Beda banget gitu lho," kata Bram tetap tak mau kalah.


"Ya udah deh. Aku yang ngalah. Aku panggil kamu kakak, kak Bram," kata Rama pada akhirnya.


"Nah, gitu baru adik ipar yang baik."


Yang mendengarkan hal itu ikut tertawa karena tingkah Bram yang lucu dan tak mau kalah. Bram pun pulang diantar oleh mang Bahar. Awalnya ia menolak untuk diantarkan, tapi karena Rama tetap memaksa, akhirnya ia mau juga.


Setelah Bram pulang, papa dan mama ikut menyusul. Mama dan papa juga tak lupa untuk memberikan hadiah pada Lia. Sedangkan bunda dan bik Imah, mereka nginap di rumah Lia. Lia tidak mengizinkan bunda pulang malam ini. Ia ingin bunda nginap walau satu malam saja.


Tawaran Lia dan Rama pun bunda terima. Setelah memberikan kado pada Lia, mereka masuk kedalam rumah untuk istirahat. Bik Imah, bik Asih dan mang Bahar juga tak mau kalah. Mereka juga telah menyerahkan kado dan ucapan pada Lia. Yang belum menyerahkan kado pada Lia hanyalah Rama. Ia tidak terlihat memberikan kado apa-apa pada Lia.


Perlakuan Rama yang hangat dan penuh kasih sayang. Perhatian yang sangat besar. Juga kehadiran Rama yang selalu ada di saat ia butuhkan. Itu sudah cukup jadi kado terindah untuk ulang tahunnya yang kedua puluh satu ini.


"Kamu gak minta kado sama aku, Lia?" tanya Rama saat ia membantu Lia membawakan kado-kado kedalam kamar.


"Mas Rama adalah kado terindah yang aku dapatkan di ulang tahunku yang kedua puluh satu. Jadi aku tidak berharap kado yang lain lagi dari mu mas," kata Lia sambil menatap lekat wajah Rama.

__ADS_1


Rama tersenyum saat Lia mengucapkan kata-kata yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.


"Jadi, kamu anggap aku ini kado ya Lia?" tanya Rama pura-pura tersinggung.


"Bukan, bukan itu yang aku maksudkan mas. Bagi aku, kamu sudah lebih dari segalanya. Jadi, kenapa aku harus minta yang lain lagi padamu. Karena kamu sudah memberikan segalanya buat aku."


"Hehehe ... aku mengerti apa yang kamu maksudkan sejak awal. Tidak perlu setakut itu juga kali wajahnya," kata Rama sambil mencubit gemes kedua pipi Lia.


"Tapi bagaimanapun, aku tidak mungkin membiarkan yang lain memberikan kamu kado, sedangkan aku enggak."


"Aku punya sesuatu untukmu istriku," kata Rama sambil mengeluarkan sesuatu dari saku celananya.


Rama menyerahkan sebuah kotak kecil yang terbungkus kertas kado berwarna hijau tua. Kotak itu juga di lengkapi pita hijau tua yang indah.


"Apa ini mas?" tanya Lia sambil menerima kotak tersebut.


"Buka dan lihat saja isinya."

__ADS_1


Dengan rasa penasaran yang kuat, Lia langsung membuka kotak kecil itu dengan sangat hati-hati. Ia tidak ingin merobek pita hijau maupun pembungkus kado itu secara sembarangan. Ia lakukan secara pelan-pelan


Saat pembungkus kado itu terlepas, Lia langsung membuka kotak itu. Ternyata, isi dari kotak itu adalah sebentuk cincin berlian yang semua berliannya berwarna hijau terang.


__ADS_2