Pernikahan Karena Hutang Budi

Pernikahan Karena Hutang Budi
Bab 21


__ADS_3

"Bagaimana mas Rama? Apa suhu tubuhnya non Lia sudah normal?"


"Masih belum normal bik. Tapi panasnya sudah turun. Semoga saja tidak akan naik lagi," kata Rama sambil terus memegang tangan Lia dengan lembut.


Bik Asih tahu apa yang harus ia lakukan. Kalau pun Rama dan Lia tidak tidur satu ranjang. Tapi setidaknya, ini bisa mendekatkan mereka berdua.


"Baguslah kalau begitu, semoga saja panasnya tidak naik lagi. Oh ya, kalau gitu bibi kembali ke kamar bibi ya mas."


"Iya bik."


Rama memegang tangan Lia dengan lembut. Rasa cemas di hatinya tadi memang telah berkurang saat ini. Tapi rasa takut akan kehilangan masih saja tidak bisa ia hilangkan. Entah mengapa, Rama tiba-tiba saja merasa takut kehilangan Lia. Rasa itu muncul tanpa ia tahu apa sebabnya.


Rama menatap lembut wajah Lia. Wajah yang sedang terlelap akibat kedinginan itu terlihat sangat pucat. Ditambah lagi, Lia sudah sehari semalam tidak makan. Semakin terlihatlah wajah pucat Lia.


Rama membelai lembut wajah Lia. Hatinya tiba-tiba merasa bersalah akan apa yang telah terjadi pada Lia saat ini.

__ADS_1


"Ya Tuhan, jangan ulangi lagi kesalahan yang sama dalam hidupku. Aku sungguh tidak sanggup jika harus merasakan kehilangan untuk yang kedua kalinya," ucap Rama dengan nada lirih yang hampir tidak terdengar.


"Maafkan aku Lia. Kamu tidak harus menderita seperti ini karena aku. Mungkin mama benar, aku adalah manusia yang paling egois yang pernah hidup di dunia ini," kata Rama lagi sambil terus membelai tangan Lia.


Tanpa terasa, buliran bening itu jatuh perlahan dari mata Rama. Ia membiarkan air matanya jatuh melintasi pipi. Rama terus memegang tangan Lia, sedangkan matanya terus menatap wajah Lia. Perlahan namun pasti, Rama mencium tangan Lia dengan lembut.


"Maafkan aku," kata Rama lagi.


Entah berapa kali kata maaf yang sudah Rama ucapkan pada Lia yang masih lelap di alam bawah sadarnya. Rama tahu, kalau wanita itu tidak bisa mendengarkan perkataannya. Tapi ia tetap mengatakan permintaan maafnya pada Lia. Karena dengan mengatakan kata maaf, hati Rama bisa sedikit tenang. Rasa takut akan kehilangan juga bisa ia atasi saat mengatakan kata maaf.


Semalaman, Rama tidur dengan posisi duduk. Saat adzan subuh berkumandang, ia segera terbangun dari tidurnya. Dengan cepat, Rama merasa suhu tubuh Lia. Ia tempelkan tangannya ke dahi Lia.


"Syukurlah, suhu tubuhnya sudah normal sekarang," kata Rama masih bicara sendiri.


Meskipun begitu, Lia masih belum bangun. Rama meninggalkan Lia di kamarnya untuk membuat bubur di dapur. Ia ingat kalau Lia belum makan hampir dua hari sekarang.

__ADS_1


Sebenarnya, Lia sudah bangun sebelum adzan subuh terdengar. Hanya saja, ia pura-pura terlelap saat Rama bangun. Lia masih belum siap untuk bicara dengan Rama. Karena apa yang Rama lakukan, masih membekas di hatinya.


Satu jam kemudian, saat matahari sudah mulai menampakkan dirinya. Rama kembali ke kamar Lia sambil membawa semangkok bubur dan segelas susu hangat.


Saat melihat Rama datang, Lia mencoba untuk kembali menutup matanya. Ia ingin pura-pura tidur lagi. Tapi sayangnya, Rama sudah melihat kalau Lia sudah bangun. Rama tersenyum ketika melihat tingkah Lia yang ingin menghindar darinya.


"Jangan pura-pura lagi Lia. Aku tahu kalau kamu sudah bangun," ucap Rama sambil tersenyum kecil.


Lia membuka matanya dengan malas. Saat itu, ia melihat Rama yang tersenyum padanya. Itu adalah pertama kali Lia melihat kalau Rama tersenyum. Dan mungkin juga, kalau senyum itu adalah senyum pertama Rama sejak kecelakaan dan kehilangan istrinya.


Lia takjub dengan senyum Rama yang ternyata sangat manis. Walaupun itu hanya sebuah senyum tipis dan singkat. Namun, senyum itu mampu terukir dalam ingatan Lia.


"Ada apa Lia? Apa ada yang tidak enak yang kamu rasakan saat ini?"


"Tidak-tidak ada," ucap Lia hampir tergagap.

__ADS_1


"Baguslah kalau tidak ada. Sekarang kamu harus makan dulu biar cepat sembuh."


__ADS_2