Pernikahan Karena Hutang Budi

Pernikahan Karena Hutang Budi
Bab 15


__ADS_3

Lia tersenyum saat mendengarkan pertanyaan bik Asih yang sepertinya berharap ia sendiri yang datang ke rumah sakit.


"Biar di antar sama gojek aja bik. Lia gak mau ganggu kerjaan mas Rama nantinya."


"Yakin nih, non Lia gak mau lihat mas Rama saat ia bekerja?"


"Yah bibik. Lia itu sudah sering lihat mas Rama kerja. Namanya juga dokter yang merawat ayah."


Lia keluar rumah untuk menemui mas gojek yang ia pesan barusan. Tak lupa ia bawa sarapan yang sudah ia bungkus rapi-rapi tadi. Saat melihat garasi rumahnya, ia kaget melihat mobil hitam milik Rama ada di sana. Mobil itu terparkir rapi di tempatnya.


"Bik Asih. Bisa kesini sebentar gak?"


"Iya non," ucap bik Asih sambil berjalan cepat keluar dari rumah.


"Ada apa non?" tanya bik Asih saat sampai.


"Itu, mobil mas Rama kok ada di garasi sih bik?"


"Yah, non Lia lupa ya? Mang Bahar kan lagi cuti non. Mang Bahar ambil cuti pulang kamu tiga hari. Apa non Lia gak ingat?"


"Lah, iya bik, Lia ingat kok kalau mang Bahar sedang cuti. Mas Rama emangnya gak bawa mobil apa ke rumah sakit?"

__ADS_1


"Mas Rama gak pernah nyetir lagi non, sejak kecelakaan itu. Ia tidak pernah mau mengendarai mobil sendiri lagi," ucap bik Asih dengan wajah yang tiba-tiba berubah sedih.


"Oh. Pantesan Lia gak pernah lihat mas Rama bawa mobil."


Rasa penasaran Lia terjawab sudah. Ia tidak pernah melihat Rama keluar bawa mobil sendiri. Sedekat apapun ia pergi, Rama pasti pergi bersama mang Bahar.


Awalnya, Lia mengira kalau Rama itu manja. Masa pergi ketempat dekat pun harus dengan sopirnya. Tapi kini ia tahu apa alasannya. Itu karena Rama masih trauma untuk mengendarai mobil sendirian.


*


Rama duduk terdiam sambil bersandar di kursi kebesaran miliknya. Tiba-tiba, pintu ruangan itu di ketuk oleh salah satu suster.


"Masuk!" ucap Rama tanpa beranjak dari duduknya.


"Pesanan? Pesanan apa? Saya gak ada pesan apa-apa."


"Maaf dokter. Ini titipan dari gadis cantik yang bernama Lia, untuk dokter Rama," kata gojek itu ikut menjelaskan.


"Lia?"


"Iya Dok. Ini alamatnya," ucap gojek itu sambil menunjukkan alamat rumah pada Rama.

__ADS_1


"Oh, terima kasih," ucap Rama sambil menerima makanan dari gojek.


Rama membuka sarapan yang terbungkus dengan rapi. Ada rasa yang berbeda menyusup kedalam hatinya. Tiba-tiba, hatinya merasakan sebuah kehangatan yang telah lama menghilang. Jantungnya yang telah lama membeku, seakan mencair dan berfungsi kembali.


Sebungkus makanan mampu membuka pintu hati yang telah lama tertutup rapat. Tanpa ia inginkan, dan tidak ia sadari. Ia telah merasakan hal itu dari Lia.


"Ya Tuhan, apa yang aku pikirkan?" tanya Rama pada dirinya sendiri.


Dengan cepat, ia tutup kembali makanan itu, saat ia ingat akan wajah istrinya yang telah tiada karena kesalahannya. Rama menjauhkan makanan itu darinya. Ia tidak berniat untuk memakan makanan itu.


Tapi tidak. Ada hati kecil lainnya yang sangat menginginkan ia memakan makanan itu. Rama ambil kembali makanan itu. Lalu, tanpa pikir panjang, ia melahap nasi goreng kampung yang sangat ia sukai.


Rama tertegun saat ia pertama memakan nasi goreng itu. Rasanya persis nasi goreng yang pernah Melati buat untuknya. Tapi bedanya, ini lebih enak dan lebih berasa setiap bumbu dari nasi goreng itu.


Rasanya sungguh pas dan sangat enak di lidah. Entah ia sedang kelaparan saat ini, atau memang nasi goreng itu enak. Tanpa terasa, Rama menghabiskan nasi goreng itu dengan cepat, tanpa sisa.


*


Musim penghujan telah tiba. Cuaca selalu mendung dan aura dingin di mana-mana. Jika musim hujan seperti ini, menikmati makanan hangat adalah pilihan yang paling sempurna.


Itulah yang selalu Lia rasakan. Ia selalu ingin makan makanan yang panas-panas, seperti bakso dan lain sebagainya.

__ADS_1


Kebetulan, pada siang itu, Adit lewat dengan gerobak baksonya. Ini bukan yang pertama kali sebenarnya. Adit akan selalu lewat di jalan itu, karena ia punya banyak langganan di sana. Ia tidak mungkin menghindari Lia, hanya karena Lia sudah menikah dan tinggal di sana.


Adit dan Lia sudah sepakat untuk tidak mengungkit masa lalu. Mereka juga sepakat untuk berteman saja sekarang. Lia juga sekarang jadi langganan baksonya Adit. Apalagi saat musim penghujan seperti ini.


__ADS_2