
Lia mengantarkan mama mertuanya sampai depan pintu rumah. Mama banyak bercerita tentang kehidupan Rama sebelum dan sesudah kecelakaan itu terjadi. Ceritanya sama persis dengan yang bibik ceritakan pada Lia. Kalau sebelum kecelakaan itu terjadi, Rama adalah orang yang paling mengasikkan.
"Oh ya sayang, mama juga mau minta satu hal lagi sama kamu, boleh gak?" tanya mama Dewi saat ia baru saja ingin keluar dari pintu.
"Boleh ma. Apa itu?"
"Mama ingin kamu panggil Rama dengan sebutan yang lebih akrab lagi. Jangan panggil Rama dengan sebutan dokter Rama lagi ya. Kamu inikan bukan pasiennya, melainkan istrinya."
Lia hanya bisa tersenyum kaku saja saat mama mertuanya mengomentari panggilannya untuk sang suami. Rasanya terlalu canggung untuk Lia memanggil Rama dengan sebutan yang lain. Karena bagaimanapun, ia hanya akrab dengan panggilan dokter Rama saja.
"Eh kok malah senyum lagi kamu Lia. Mama serius ini. Mama gak suka kamu panggil Rama dengan sebutan dokter Rama. Gak enak didengar."
"Iya ma. Nanti Lia ganti panggilan Lia untuk dokter Rama."
"Ya sudah. Lain kali mama gak mau dengar kamu panggil suamimu dengan panggilan dokter lagi. Mama akan sering-sering datang kesini untuk menjenguk kalian."
"Iya ma."
Mama Dewi pun pamit pada menantunya. Ia meninggalkan rumah setelah banyak bicara dengan menantunya.
Sepeninggalan sang mertua, Lia jadi semakin tidak karuan. Ia merasa punya hutang yang besar sekarang. Bukan hanya pada satu orang, melainkan pada dua orang. Yaitu hutang janji untuk mengubah Rama yang dingin menjadi hangat kembali.
Lia merasa berat dengan hutang janji ini. Karena yang namanya hutang, mau tidak mau, sanggup tidak sanggul, ia harus melunasi. Hutang itu urusannya bukan hanya di dunia, melainkan sampai mati di minta pertangungjawaban.
Masalahnya bukan itu, ia merasa sangat tidak mungkin untuknya mengubah Rama yang dingin menjadi Rama yang hangat seperti yang ada di masa lalu. Karena kehilangan orang yang tersayang, itu sangat sulit untuk siapapun. Apalagi karena kesalahan yang kita perbuat.
Lia menaiki anak tangga dengan langkah berat. Diketuknya pintu kamar Rama yang tertutup dengan rapat. Ia sangat berharap, kalau Rama itu mau bicara dengannya.
Tiga kali Lia mengetuk pintu kamar itu. Namun belum ada tanda-tanda kalau pintu itu akan di buka oleh pemiliknya. Lia tidak ingin memaksakan keinginan hatinya. Ia memutuskan untuk kembali kebawah dan meninggalkan kamar Rama.
__ADS_1
Tapi saat Lia membalikkan badannya untuk turun. Pintu kamar Rama terbuka secara perlahan. Memunculkan seorang laki-laki dengan wajah kesedihan yang tak pernah berujung.
"Ada apa?" tanya Rama dengan suara parau.
"Dokter Rama, bisakah kita bicara?"
"Tidak," ucap Rama singkat.
Ia ingin menutup pintu kamarnya, namun dengan cepat, Lia menahan pintu itu dengan tangannya.
"Dokter Rama, please."
Lia mencoba bertingkah seperti orang yang kehilangan malu sekarang. Ia sudah berjanji ingin membantu mama mertuanya untuk mengubah Rama. Maka apapun caranya, ia akan coba. Termasuk mengorbankan ego dan harga dirinya. Demi orang tua, apapun akan ia lakukan. Karena ia adalah anak yang paling sayang pada orang tuanya. Ia menikah dengan Rama, juga karena orang tuanya.
Rama melihat Lia dengan tatapan tajam. Mau tidak mau, ia mengalah dengan Lia kali ini.
"Aku ingin bicara banyak dengan dokter Rama. Bisakah kita duduk?"
"Tidak."
"Lho, kok tidak sih. Kakiku tidak terlalu kuat jika berdiri terlalu lama. Jadi, kita harus duduk," ucap Lia sambil senyum.
"Jika kamu tidak ingin bicara. Aku akan tutup pintu ini."
"Eh, jangan gitu dong. Aku kan sudah bilang pada dokter, kalau aku ingin bicara."
"Bicaralah!"
"Baiklah, baiklah," ucap Lia dengan nada yang lemah.
__ADS_1
"Dokter Rama, bisakah kita berteman?"
"Tidak."
"Kok gak sih dokter. Aku itu ingin berteman dengan dokter. Bisa ya," kata Lia dengan nada memaksa.
"Ya Tuhan, ini bukan aku. Sangat sulit untuk bertingkah gila seperti ini," kata Lia dalam hati.
"Aku tidak butuh teman."
"Tapi aku butuh teman, Dok."
"Kamu bisa cari orang lain untuk berteman."
"Sangat aneh jika aku mencari teman. Karena statusku sudah berbeda dengan yang dulu. Lagian, aku sekarang tinggal di rumah dokter."
Rama tidak menjawab. Ia hanya menatap aneh pada Lia. Ia seakan tak percaya, kalau di hadapannya saat ini adalah wanita yang sama dengan yang ia temui setiap harinya. Yang tidak banyak bicara dan takut untuk diabaikan jika bicara.
"Apa yang mamaku katakan padamu sebelum ia pulang?" tanya Rama dengan tatapan tajam.
"Lho, kok jadi mamanya dokter sih. Kenapa jadi mama Dewi yang dibawa-bawa?"
"Kamu sudah selesai bicarakan. Sekarang, pergi dari kamarku karena aku ingin istirahat," kata Rama tanpa menjawab apa yang Lia tanyakan.
"Dokter Rama belum menjawab permintaan ku. Mana boleh mengusir aku sebelum menjawab permintaan aku."
"Aku sudah menjawabnya. Aku tidak ingin berteman dengan kamu atau siapapun. Karena aku tidak butuh teman."
"Aku tidak akan pergi dari sini sebelum dokter mau berteman dengan ku," kata Lia sambil terus menahan pintu kamar Rama.
__ADS_1