Pernikahan Karena Hutang Budi

Pernikahan Karena Hutang Budi
Bab 43


__ADS_3

Air mata turun dengan cepat dari pelupuk mata Lia. Lia tidak bisa menahan derasnya air mata yang ingin terjun bebas. Ia ingat betul saat ia mengunjungi rumah orang tuanya yang terakhir kali saat ayah masih ada. Ayah sedang merajut pakaian bayi dengan sangat tekun dan teliti sekali.


Sampai-sampai, ia tidak menyadari kehadiran Lia di sampingnya. Ayah memang sangat mahir dalam merajut pakaian. Saat Lia bayi dulu, ayah juga merajut baju untuk Lia. Hal itulah yang membuat mata Lia berkaca-kaca saat melihat isi dari kado bunda untuk yang pertama kalinya.


"Sayang .... " Rama langsung membawa tubuh Lia kedalam pelukannya. Ia berusaha memberikan pelukan hangat untuk istrinya yang sedang sedih.


"Sayang, aku yakin kamu adalah wanitaku yang paling tangguh. Kamu yang mengajarkan aku untuk kuat. Karena kamu aku bisa keluar dari hitamnya masa lalu yang membuat aku terpenjara di sana selama bertahun-tahun. Aku yakin, kamu bisa bangkit dan tetap tegar dalam menghadapi segala cobaan." Rama menghapus air mata dengan tangannya yang lembut.


"Kamu benar mas. Kamu benar dengan apa yang kamu katakan dulu. Jika kita tidak merasakan, maka kita tidak tahu bagaimana rasanya kehilangan. Jika orang itu tidak berada diposisi kita, maka ia tidak tahu apa yang kita rasakan."


"Itulah gunanya saling mengingatkan sayang. Kamu terlupa, aku yang mengingatkan. Aku terlupa, kamu yang mengingatkan."

__ADS_1


"Udah ya, ayo kita tidur sekarang. Aku yakin, kamu pasti capek banget sekarang."


Rama menyeliputi Lia. Mereka sekarang sudah tidur satu ranjang. Meskipun belum melakukan hubungan suami istri pada umumnya. Tapi tak jarang, mereka tidur saling berpelukan atau bahkan Lia tak jarang tidur dengan berbantalkan lengan Rama saat ia tidur.


Sebelum tidur, Rama selalu menghadiahkan sebuah kecupan manis buat Lia. Sambil mengelus pucuk kepala Lia, ia mengucapkan selamat malam. Lia selalu menyambutnya dengan senyuman manis, ketika Rama melakukan Ritual itu sebelum tidur.


Entah sejak kapan, Rama memulai ritual mencium Lia sebelum tidur ini. Lia juga sudah tidak ingat, kapan pertama kali Rama melakukan hal itu. Tapi yang jelas, sekarang ia sudah terbiasa dengan ritual kecil sebelum tidur.


***


Lia resah menantikan kepulangan Rama di ruang tamu. Bukan Rama yang pulang telat, hanya saja, Lia memang sedang menunggu kepulangan Rama ke rumah. Ada sesuatu yang menyebabkan ia menunggu Rama pulang. Rencana kejutan yang telah ia siapkan selama dua hari ini. Membuat ia resah sekarang. Lia takut kalau Rama pulang telat karena banyak kerjaan yang harus ia selesaikan.

__ADS_1


Tapi untunglah, jadwal Rama saat ini sedang tidak terlalu banyak. Pasien yang harus ia rawat pun tidak banyak. Rama masih bisa pulang cepat ke rumah. Lia awalnya takut-takut untuk bertanya pada Rama melalui pesan singkat lewat WA.


Lia takut, kalau-kalau Rama bilang tidak bisa pulang cepat sore ini. Karena besok dan lusa adalah hari liburnya. Tapi apa yang Lia takutkan ternyata tidak benar adanya. Rama membalas pesan singkat Lia dengan jawaban yang Lia harapkan.


Satu jam lamanya Lia munda-mandir di ruang tamu. Menantikan kepulangan Rama ke rumah. Akhirnya, mobil hitam milik Rama memasuki halaman rumah juga. Dan bel rumah berbunyi dengan nyaring.


Dengan cepat, Lia berjalan menuju pintu untuk menyambut kepulangan Rama ke rumah. Rama tersenyum saat Lia yang membuka pintu untuk menyambutnya pulang.


"Tumben kamu tanya aku soal kapan pulang, Lia. Ada apa nih?" tanya Rama saat melihat wajah yang tidak biasa dari Lia.


"Itu ... apa mas Rama bisa ajak aku keluar sore ini?"

__ADS_1


Rama tersenyum sambil menatap Lia. Pertanyaan yang tidak pernah Lia tanyakan padanya. Apalagi saat ia baru saja pulang kerja. Biasanya, Lia yang bilang kalau Rama sebaiknya istirahat sekarang. Atau, Lia akan bilang, mandi setelah capeknya hilang. Tapi kali ini, Lia malah menanyakan Rama soal keluar, sore-sore malahan.


__ADS_2