Pernikahan Karena Hutang Budi

Pernikahan Karena Hutang Budi
Bab 36


__ADS_3

Akhirnya, Rama selesai juga mengobati Lia. Butuh waktu agak lama untuk Rama menyelesaikan pengobatan luka lecet di lutut dan siku Lia. Karena ia lakukan dengan sangat lambat sambil ditiup-tiup.


"Apakah masih ada yang sakit lagi Lia?" tanya Rama setelah selesai mengobati dan membalut luka Lia.


"Sudah, sudah tidak ada lagi mas. Hanya itu saja yang sakit, tidak ada yang lain."


"Apa tidak sebaiknya kita cek lagi Lia. Takutnya


ada bagian dalam yang luka."


"Gak perlu mas, gak ada yang sakit-sakit lagi kok. Aku hanya tersenggol motor aja," kata Lia sambil memegang kedua tangan Rama.


"Ya sudah. Kalau memang kamu merasa tidak ada yang sakit lagi sekarang. Ayo kita pulang, kamu butuh istirahat."


"Oh ya satu lagi. Jika kamu ada merasa bagian tubuhmu tiba-tiba sakit, kamu harus cepat kasih tahu aku," kata Rama lagi.


"Iya mas. Aku akan bilang jika masih ada bagian lain yang sakit."


"Harus janji kamu langsung bilang padaku. Jangan sampai kamu sembunyi-sembunyikan," kata Rama dengan tatapan mengancam.


"iya-iya, aku janji akan katakan secepatnya jika ada yang sakit mas."

__ADS_1


Rama terlihat terlalu berlebihan menanggapi Lia yang hanya luka lecet sedikit ini. Ia begitu cemas, bagaikan orang yang sedang overdosis minum obat. Bagi orang lain, mungkin Rama terlalu lebai sekarang. Tapi bagi Lia yang tahu bagaimana hidup yang Rama lalui. Ia mengerti dengan apa yang Rama rasakan saat ini.


**


Di luar kamar. Bik Imah dan Dicky sedang menunggu Lia keluar. Mereka menunggu lama untuk tahu bagaimana kabar Lia sekarang.


"Bibi, siapa dokter yang menerobos masuk tadi itu?" tanya Dicky begitu penasaran.


"Itu adalah dokter Rama. Suami non Lia."


"Suami--suami Lia, bik?" tanya Dicky agak kaget.


"Iya, mas. Dia itu suami non Lia."


"Iya mas, iya. Yang bibi tahu, kalau sudah punya suami ya sudah menikah. Masa orang punya suami tapi belum menikah. Kan belum ada ceritanya seperti itu, mas. Mas Dicky ini gimana sih?"


Dicky terdiam tanpa bicara. Ia awalnya mengira kalau Lia itu masih gadis dan belum ada yang punya. Eh ternyata, Lia itu sudah ada yang punya, sudah menikah pula. Dan, suaminya dokter lagi.


Ada sedikit rasa kecewa yang menyusup dalam hati Dicky. Harapannya kini telah punah. Ia tidak mungkin mendekati istri orang. Emangnya gak ada wanita lain apa di muka bumi ini. Masa istri orang mau di gaet sih. Kan sangat miris jadinya. Kayak orang gak laku sama gadis aja.


Lia yang dibantu Rama, keluar dari ruangan itu. Jalannya memang sedikit berbeda. Karena lututnya masih terasa agak nyeri walaupun telah diberi obat. Tapi tetap saja, rasa sakit itu pasti masih ada. Inikan bukan sihir, yang bisa menyembuhkan dalam sekali baca mantra. Dicky pun tersadar dari lamunannya. Ia segera bangun dan menghampiri Rama dan Lia.

__ADS_1


"Bagaimana Lia? Apa kamu sudah selesai diobati?" tanya Dicky.


"Udah kok. Aku baik-baik saja."


"Syukur deh kalau gitu. Sekali lagi, aku minta maaf atas apa yang telah terjadi. Aku benar-benar gak sengaja."


"Itu bukan salah kamu, itu hanya karena kelalaian aku saat menyebrang jalan."


"Oh ya, ini suamiku, mas Rama. Mas, ini Dicky, orang yang gak sengaja menyenggol aku tadi," kata Lia sambil melihat wajah Rama yang terlihat tidak suka.


"Dicky," kata Dicky sambil mengulur tangannya.


"Rama," ucap Rama singkat sambil menyambut uluran tangan Dicky. Namun kemudian melepasnya dengan cepat.


"Lia, kita harus pulang sekarang. Kamu harus banyak istirahat agar cepat sembuh," kata Rama dengan cepat.


"Iya mas."


"Maaf Dicky, aku udah merepotkan kamu. Aku pulang dulu," ucap Lia sebelum ia beranjak meninggalkan Dicky.


Dicky tidak punya kata-kata terakhir untuk ia bicarakan pada Lia. Ia hanya bisa menganggukkan kepalanya saat Lia pamit pulang. Awalnya, ia berharap bisa mendapatkan nomor ponsel Lia. Tapi setelah melihat Rama yang sepertinya tidak akan membiarkan Lia lama-lama bicara dengannya. Dicky jadi tahu, kalau Rama sedang ada rasa cemburu.

__ADS_1


"Wajar sih kalau dia ada rasa cemburu. Diakan laki-laki yang punya hati. Kalau tidak ada rasa cemburu, berarti gak sayang dong," kata Dicky bicara sendiri sambil tersenyum, lalu menggelengkan kepalanya.


__ADS_2