
Tubuh Lia masih terbungkus selimut. Sehingga jika ia berjalan, maka ranjang putih kamar hotel itu akan memperlihatkan semua bentuknya. Ketika ia melihat tempat tidur itu, matanya tertuju pada noda merah yang terlihat sangat jelas di atas seprei putih.
Lia merasa malu dengan bercak darah yang ada di atas ranjang itu. Ia melihat kearah Rama yang juga melihat bercak merah itu. Tidak mungkin kalau ia menutupi bercak merah itu. Karena Rama sudah melihatnya.
"Ma--mas .... "
Rama adalah laki-laki yang sangat peka akan apa yang Lia rasakan. Ia tahu apa maksud dari Lia yang bicara dengan gelagapan itu.
"Udah sayang. Jangan di pikirkan hal itu. Kamu mandi sekarang, karena hari sudah semakin malam. Biar aku yang urus semua itu ya."
Walaupun berat hati, Lia terpaksa menuruti apa yang Rama katakan. Ia masuk ke kamar mandi sambil membawa baju yang telah Rama sediakan. Tubuhnya memang agak lemes saat ini. Selain ia baru pertama kali melakukan hal itu, ia juga merasakan kelaparan sekarang.
Ketika ia keluar dari kamar mandi, dengan baju yang sudah lengkap. Ia melihat Rama yang duduk manis di atas sofa sambil memainkan ponselnya. Lia dengan cepat mengalihkan pandangannya keatas ranjang. Sudah tidak ada bercak merah sama sekali di sana.
"Udah selesai sayang?" tanya Rama saat menyadari kehadiran Lia.
__ADS_1
"Udah. Mas, seprei nya?" tanya Lia sambil melihat ranjang.
"Udah di ganti sayang. Kamu gak perlu cemas soal itu."
"Di ganti? Artinya mereka telah menukar yang itu dengan lain. Mereka .... "
"Sayang, seprei nya aku yang ganti. Mereka tidak akan tahu apa-apa tentang bercak itu. Dan juga, aku telah beli seprei nya untuk kita bawa pulang. Nanti kita cuci sendiri di rumah."
Wajah cemas Lia seketika menghilang. Ia sekarang bisa bernapas lega setelah mendengarkan apa yang Rama katakan. Ternyata, tanpa ia jelaskan, Rama mengerti apa yang ia khawatirkan.
"Sholat aja dulu mas. Tapi ... mukenanya gak ada."
"Ada sayang. Itu di atas meja ada mukena."
Lia tertegun. Sebenarnya, yang punya ide ini dia atau Rama sih? Masa Rama begitu teliti sedangkan dia tidak sama sekali. Tapi, pantas kalau Rama teliti, karena ia adalah seorang dokter. Sedikit membanggakan jabatan yang suaminya miliki. Lia tersenyum lebar.
__ADS_1
Selesai melaksanakan sholat isya. Mereka makan di kamar itu. Rama sengaja memesan makanan untuk di makan di dalam kamar saja. Ia tahu, Lia pasti masih merasa capek dan pegal.
*
Mereka menginap selama dua malam di hotel itu. Karena memang Rama sedang libur selama dua hari, makanya mereka bisa bersantai di hotel itu. Mereka menganggap memang sedang bulan madu saat ini. Walaupun masih di dalam kota yang sama.
Rama tidak melakukan apa-apa setelah sore itu di malam pertama. Tapi untuk malam kedua, mereka bermain berkali-kali. Sampai hari menjelang pagi, mereka masih saja mengulang apa yang mereka lakukan. Walau ada jeda waktu antara melakukan pertama hingga seterusnya.
Awalnya Lia takut untuk mencoba lagi. Tapi Rama adalah laki-laki yang sudah berpengalaman dalam hal itu. Ia punya jurus ampuh yang tidak bisa Lia tolak. Akhirnya, setelah melakukan yang kedua kali, Lia merasakan hal yang berbeda dari yang pertama.
Hal itulah membuat Lia terus mencoba dan mencoba. Hingga akhirnya, ia merasa suka dengan hal itu. Hal yang luar biasa bagi Lia yang tidak pernah melakukannya selama ini. Apalagi saat ia sama-sama mencapai puncak. Hal itu yang terus Lia inginkan, lagi dan lagi.
Tanpa Lia sadari, Rama menciptakan banyak cap merah di tubuhnya. Ia baru sadar saat ia mandi pagi ini. Cap merah itu bukan hanya di tempat tertutup, Rama juga menciptakan di sekitar leher Lia. Membuat Lia merasa malu untuk keluar kamar hotel. Ia terpaksa mengenakan syel untuk menutupi tanda merah itu.
Yang masalahnya bukan di hotel, tapi di rumah nanti. Tidak mungkin ia harus terus menggunakan syel saat di rumah. Hal itu akan menimbulkan keanehan saat bik Asih melihatnya nanti.
__ADS_1