
Lia menghapus air mata yang jatuh dari pelupuk matanya. Ternyata, ayah selalu memikirkan kebahagiannya. Ia peluk kertas itu sambil terus menangis haru dengan apa yang ayah tulis untuknya. Ia mengira, kalau ayahnya menikahkan dia hanya karena merasa punya hutang budi yang besar pada Rama dan keluarganya. Tapi pada kenyataannya, ayah punya pertimbangan yang lain selain karena hutang budi.
Tangan Bram menyentuh bahu Lia dengan lembut. Membuat Lia tersadar kalau ia tidak sedang sendirian sekarang. Lia dengan cepat menghapus air matanya.
"Apa kamu sudah baca surat dari ayah untukmu, Lia?" tanya Bram memulai pembicaraan.
"Sudah kak. Apa kak Bram juga sudah baca punya kakak?"
"Sudah. Kakak juga sudah membacanya."
"Lia. Ada yang ingin kakak tanyakan padamu. Kakak harap kamu jawab dengan jujur pertanyaan kakak ya."
"Mau tanya apa kak? Tanyakan saja apa yang mau kakak ketahui dari aku. Insyaallah aku akan jawab dengan jujur apa yang kak Bram tanyakan," kata Lia sambil melihat kakaknya yang sedang bersandar di tembok ruang keluarga.
"Bagaimana hubungan kamu dengan dokter Rama itu?"
Lia menatap kakaknya, bibirnya belum bisa menjawab apa yang Bram tanyakan. Mungkin ia berusaha mencerna pertanyaan kakaknya ini.
__ADS_1
"Maafkan kakak jika pertanyaan kakak membuat kamu tidak nyaman. Jika kamu tidak ingin menjawabnya, kakak tidak akan memaksakan keinginan kakak. Itu hak kamu mau jawab atau tidak. Karena itu adalah hal pribadi rumah tangga kamu."
"Tidak. Aku akan jawab pertanyaan kak Bram."
"Hubungan aku dan mas Rama baik-baik saja kak. Sama seperti yang kak Bram lihat saat ini."
"Apa benar seperti yang kakak lihat saat ini Lia? Apa kamu merasakan kehangatan dan kebahagiaan dalam pernikahanmu ini?"
"Pernikahan ini awalnya memang tidak mudah kak Bram. Tapi pada kenyataan yang Lia rasakan saat ini, Lia merasakan sebuah kenyamanan saat bersama mas Rama. Apalagi sekarang, mas Rama sudah banyak berubah."
"Berubah? Berubah seperti apa?"
"Bagus deh kalau baik-baik saja. Kakak turun bahagia jika rumah tanggamu bahagia, Lia. Mungkin ayah ada benarnya, semua butuh waktu. Dan pilihan ayah adalah pilihan yang terbaik," kata Bram dengan nada sedih.
"Iya. Lia yakin kalau apa yang ayah pilih adalah yang terbaik buat kita. Sekarang, Lia baru sadar kalau naluri orang tua tidak pernah mengecewakan," kata Lia sambil tersenyum bangga saat ingat bagaimana perlakuan Rama saat ia butuh tempat untuk bersandar.
"Kamu benar Lia. Kamu beruntung telah mendengarkan dan mengikuti perkataan ayah. Walau pada awalnya kamu tidak nyaman, tapi akhirnya kamu merasa bahagia. Tidak seperti kakak."
__ADS_1
"Maksud kak Bram?" tanya Lia sambil menatap lekat wajah sedih kakaknya.
"Yah, jika saja kakak menuruti perkataan ayah untuk menikahi Mirna, mungkin tidak akan seperti saat ini kehidupan kakak. Ternyata ayah benar, Mirna adalah wanita yang baik dan anggun," kata Bram dengan nada sedih.
"Kakak tahu dari mana kalau Mirna itu baik dan anggun?"
"Kakak sering melihat Mirna sekarang. Ia punya toko tak jauh dari tempat kakak bekerja. Kakak sering melihat ia bicara dengan orang-orang jalanan. Ia juga berhati lembut, dan suka berbagi dengan orang jalanan yang membutuhkan. Tuturnya begitu menyejukkan hati, Lia."
"Sudahlah kak. Jangan sesali apa yang terjadi. Anggap saja kalau Mirna itu adalah cobaan buat kakak sekarang. Cobaan untuk kak Bram jadi laki-laki yang lebih baik dan kuat lagi."
"Iya, kamu benar Lia. Adik kecil ternyata sudah dewasa sekarang ya," kata Bram sambil mengacak-acak rambut Lia.
"Hei ... aku bukan adik kecil lagi kak Bram. Kamu lupa kalau aku sudah hampir dua puluh satu tahun. Itu satu bulan lagi tahu gak?" Lia berkata sambil cemberut pada Bram yang seakan tidak peduli dengan omelan adiknya.
"Bagi kakak, kamu itu masih tetap adik kecil kakak yang imut."
"Imut apaan, udah tua gini juga."
__ADS_1
Bunda yang sejak tadi menjadi pendengar pembicaraan kedua anaknya, kini ikut merasakan kehangatan yang telah lama hilang dari rumah mereka. Ia sudah lama tidak mendengarkan canda tawa yang menghangatkan rumahnya.
Sejak Bram menikah dengan wanita yang ia pilih, dan memilih untuk keluar dari rumah ini. Semuanya seakan menghilang terbawa oleh Bram. Ditambah lagi dengan pernikahan Lia, yang mengharuskan ia juga pergi ikut pindah ke rumah suaminya. Semakin sepi rumah bunda. Dan kini, bunda juga sebentar lagi akan merasakan kesepian yang berlipat ganda. Jika Lia dan Bram kembali ke rumah mereka, maka hanya tinggal bunda sendirian lah di rumah ini.