Pernikahan Karena Hutang Budi

Pernikahan Karena Hutang Budi
Bab 34


__ADS_3

Sebelum Lia pulang ke rumah, ia ingin memastikan kalau semua keperluan bunda sudah lengkap. Ia dan bik Imah pun pergi ke pasar untuk membeli semua kebutuhan rumah.


Ketika hendak menyebrang jalan, Lia tidak melihat kalau ada motor yang sedang melaju kearahnya. Pengendara motor itu panik ketika melihat Lia yang tiba-tiba saja berada di hadapannya. Sebisa mungkin, pengendara motor itu menghindari Lia.


Tapi sayangnya, walau sudah menghindar, Lia tetap juga tersenggol setang motor pengendara itu. Hasilnya, Lia jatuh tersungkur. Tangan dan lututnya lecet akibat batu jalan yang keras. Bik Imah dan pengendara itu terlihat sangat panik. Mereka menghampiri Lia dengan cepat.


"Ya Alloh non!" teriak bik Imah kaget.


"Mbak. Apa yang sakit mbak? Ayo saya antar kan mbak ke rumah sakit terdekat," ucap pengendara itu tak kalah paniknya.


"Gak papa, gak papa," kata Lia sambil meringis menahan sakit di siku dan lututnya.


"Gak papa bagaimana non? Tangan dan lutut non Lia berdarah ini," kata bik Imah.


"Iya mbak. Mbak harus segera ke rumah sakit biar bisa diobati luka-lukanya. Ayo mbak, saya bantu berdiri," kata laki-laki itu sambil membantu Lia untuk berdiri.


"Beneran, saya gak papa." Tolak Lia.


"Jangan mbak. Ini lukanya bisa infeksi jika gak segera diobati."

__ADS_1


Laki-laki itu memanggil taksi untuk membawa Lia ke rumah sakit. Kebetulan yang sangat pas, ada sebuah taksi kosong melintasi jalan itu.


"Ayo mbak, masuk!"


Lia tidak bisa menolak. Ia mengikuti apa yang laki-laki itu katakan. Lia duduk di belakang bersama laki-laki itu, sedangkan bik Imah duduk di samping sopir taksi.


"Maafkan saya mbak. Saya tidak sengaja menyenggol mbak."


"Gak papa, bukan salah kamu juga kok. Aku yang salah, karena nyebrang gak lihat-lihat."


"Oh ya, nama saya Dicky mbak. Nama mbak siapa?" tanya laki-laki itu sambil mengulurkan tangannya.


"Oh, nama yang cantik, Lia. Sama seperti orangnya," kata Dicky sambil tersenyum pada Lia.


Sebenarnya, usia Dicky sama dengan Lia. Atau mungkin lebih tua Dicky di bandingkan Lia. Hanya saja, Dicky tidak tahu mau panggil Lia apa, karena ia panik tadinya. Mana yang melintas di benak saja yang ia sebut.


Sementara mereka sibuk ngobrol. Bik Imah memberitahu Rama tentang Lia yang tersenggol motor. Mendengarkan kabar itu, Rama yang sedang duduk santai di ruangannya, menjadi sangat panik.


Dengan cepat, Rama berlari keluar menuju mobil. Tanpa pikir panjang lagi, Ia langsung saja mengemudikan mobilnya menuju alamat yang bik Imah kirim beberapa menit yang lalu, ketika taksi sampai di depan rumah sakit terdekat.

__ADS_1


Rama mengendarai mobil melintasi jalan raya dengan kecepatan yang lumayan tinggi. Ia juga tidak menghiraukan lampu merah saat semua mobil berhenti. Yang ada dalam pikiran Rama saat ini hanyalah, Lia, Lia, dan Lia.


Ia takut kalau Lia kenapa-napa. Ia tidak ingin kehilangan Lia. Ia tidak ingin masa lalunya terulang lagi. Kehilangan orang yang ia sayang karena sebuah kecelakaan. Ia benar-benar takut akan hal itu berulang. Saat ia telah sayang-sayangnya dengan orang itu, orang itu malah pergi darinya. Bahkan perginya tidak untuk kembali lagi.


Sangking takutnya Rama akan Lia yang kenapa-napa, ia bahkan lupa akan traumanya yang tidak bisa bawa mobil sejak kecelakaan itu terjadi. Ia lupa kalau dirinya sedang menyetir sendiri mobilnya. Padahal selama ini, ia tidak pernah melakukan hal itu sekalipun.


Ketika sampai di rumah sakit yang ia tuju. Tanpa pikir panjang lagi, Rama langsung menerobos masuk rumah sakit. Ia mencari kesana-kemari untuk menemukan di mana Lia.


Rama terlihat sangat panik di dalam rumah sakit itu. Sehingga salah satu suster mencoba untuk menenangkannya.


"Maaf Dok, kenapa dokter terlihat begitu panik? Apakah ada hal yang sangat darurat saat ini, Dok?" tanya suster itu ikut panik.


Dari baju yang ia pakai, baik suster ataupun orang biasa juga tahu kalau dia adalah seorang dokter. Biasanya, dokter itu akan panik saat ada kejadian darurat di rumah sakit. Makanya suster itu bertanya pada Rama dengan wajah yang ikut panik.


"Aku sedang mencari istriku," kata Rama masih dengan nada paniknya.


"Istri ...."


Perkataan suster itu terpotong oleh suara bik Imah yang telah melihat Rama. Ia langsung memanggil Rama untuk mengatakan kalau Lia sedang ada di ruangan itu untuk di periksa dan diobati lukanya.

__ADS_1


__ADS_2