Pernikahan Karena Hutang Budi

Pernikahan Karena Hutang Budi
Bab 11


__ADS_3

Mobil berhenti pas di depan gang. Lia turun dari mobil, lalu berjalan kaki menyusuri gang menuju rumahnya. Sedangkan Rama, ia menyuruh sopirnya menjalankan mobil menuju rumah sakit.


***


Lia pulang ke rumah Rama dengan taksi. Tidak mungkin ia ingin menunggu Rama pulang dari rumah sakit baru ia pulang ke rumah. Rama pulangnya sore, sedangkan Lia pulang setelah makan siang.


Sebelum pulang, ayah Lia menitipkan amplop pada Lia. Amplop yang isinya tentang riwayat sakit ayah. Waktu itu, Rama sebagai dokter ayah pernah meminta laporan tentang riwayat sakit jantung ayahnya. Tapi belum sempat ayah berikan. Berhubung Lia dan Rama satu rumah, ayah menitipkan amplop itu pada Lia. Dengan begitu, ayah tidak perlu datang ke rumah sakit lagi untuk mengantarkan amplop itu.


Saat sampai di rumah. Lia meletakkan amplop itu di kamarnya. Setelah Rama pulang sore itu, ia berniat akan memberikan amplop itu secepat mungkin.


Lia naik keatas menuju kamar Rama. Kamar itu ia ketuk beberapa kali, namun tidak ada jawaban sama sekali. Saat Lia bersandar di depan pintu, pintu kamar itu tanpa sengaja terbuka.


Untuk pertama kalinya, Lia melihat isi dalam kamar itu. Rasa penasaran menyeruak memenuhi hatinya untuk melihat lebih luas lagi isi kamar Rama. Ia pun memutuskan untuk masuk kedalam kamar Rama.


Dalam kamar itu semuanya berwarna biru. Mulai dari gorden, cat, bunga, stiker, seprei, hingga keset kakinya, semua berwarna biru tua. Di kamar itu juga banyak sekali foto-foto wanita yang terpajang dengan rapi. Mulai dari foto biasa, hingga foto pernikahan Rama terpajang rapi di sini.


"Inikah mbak Melati yang bik Asih katakan itu? Dia sangat cantik ternyata," ucap Lia pada dirinya sendiri.

__ADS_1


Lia melihat dari dekat, satu persatu foto dengan wajah wanita yang sama, yang terpajang berjejeran di tembok kamar itu. Ia menyentuh foto wanita itu dengan lembut.


"Pantas saja, mas Rama selalu berdiam diri di kamarnya setiap hari."


"Apa yang kamu lakukan di sini!"


Suara tinggi Rama membuat Lia kaget. Sontak, Lia langsung membalikkan badannya untuk melihat Rama yang baru saja keluar dari kamar mandinya. Ia hanya menggenakan handuk, yang hanya menutupi pusar sampai lutut.


"Keluar!" kata Rama lagi.


"Keluar aku bilang!"


Rama tidak memberikan Lia kesempatan untuk bicara. Ia terlihat sangat marah ketika melihat Lia berani masuk kedalam kamarnya tanpa izin.


"Maaf mas," ucap Lia sambil melangkah kaki meninggalkan kamar Rama.


Lia berjalan cepat meninggalkan kamar Rama. Ia ingin segera sampai ke kamarnya. Matanya sudah tidak tahan lagi untuk mengeluarkan buliran bening yang ia tahan saat Rama membentaknya tadi.

__ADS_1


Rasanya sungguh menyakitkan ketika Rama membentak ia berulang-ulang kali. Sudah hampir tiga bulan ia tinggal di rumah ini, tapi baru kali ini, Rama membentaknya dengan kasar seperti itu. Hatinya sangat terluka dan terasa sangat perih.


Lia menatap wajahnya di depan cermin kamarnya. Ia menumpahkan semua kesedihan yang ada dalam hatinya.


"Kalau seperti ini, aku tidak sanggup untuk mengubahnya. Ini terlalu berat buat aku."


Tapi saat ingat ayahnya yang begitu banyak berhutang budi pada keluarga Rama. Ia tidak punya pilihan lain selain bertahan dan memenuhi permintaan mama mertuanya.


"Ya Tuhan, kuatkan aku."


Lia menundukkan kepalanya. Air mata ia biarkan turun dengan bebas membasahi kedua pipinya.


Di sisi lain, Rama terduduk di kasurnya. Satu sisi hatinya, ia merasa jengkel dengan apa yang Lia lakukan. Sedangkan di sisi lainnya, ia merasa kasihan ketika melihat raut wajah Lia yang ketakutan saat ia bentak.


Tapi ia lebih merasa bersalah pada almarhumah istrinya di bandingkan rasa kasihan pada Lia. Ia merasa bersalah karena telah membiarkan Lia masuk kedalam kamarnya. Ia merasa menyesal karena telah bersikap lemah pada Lia. Sehingga Lia bisa bertindak sesuka hatinya di rumah ini.


"Maafkan aku sayang, aku lalai menjaga kamar kita," ucap Rama dengan penuh penyesalan.

__ADS_1


__ADS_2