
Sambil menangis, Lia membuka baju itu, lalu melipatnya dengan rapi. Bayangan wajah Rama terus terbayang olehnya. Air mata Lia semakin deras saja.
Ia keluar sambil memakai bajunya yang masih lembab. Matanya terlihat sembab dan masih terlihat bekas air mata di pelupuk mata Lia. Lia berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh lagi, saat ia berada di luar kamarnya.
Bik Asih yang baru saja pulang dari warung, melihat Lia dengan tatapan aneh. Bik Asih tidak mengerti, apa yang terjadi dengan Lia tadi. Tapi yang membuat ia penasaran, kenapa Lia harus mengganti dress Melati dengan bajunya yang masih lembab? Bukankah itu tidak bagus untuk kesehatan? Apalagi cuaca saat ini sedang dingin.
"Non Lia, kenapa bajunya harus di ganti non?"
"Bajunya gak cocok sama Lia bik."
"Tapi kan ...."
"Gak papa bik. Nanti juga bajunya akan kering saat Lia pakai," ucap Lia memotong perkataan bik Asih.
"Non Lia ...."
"Lia masuk kamar dulu bik. Ada yang harus Lia kerjakan," kata Lia sambil berlalu pergi.
__ADS_1
Bik Asih tidak tahu apa yang terjadi. Tapi ia tahu, ada yang tidak beres dengan Lia saat ini. Apa lagi saat ia melihat wajah sembab dan bekas air mata yang ada di wajah Lia. Dugaan bik Asih semakin kuat, kalau telah terjadi hal buruk saat ia tidak ada di rumah tadi.
Malam itu, saat makan malam, Lia tidak keluar dari kamarnya. Begitu juga dengan Rama, ia juga tidak keluar untuk makan malam. Bik Asih kini bisa menyimpulkan apa yang terjadi pada Lia. Sudah bisa ia tebak, kalau puncak masalahnya adalah pada dress yang ia pinjamkan pada Lia.
***
Lia masih mengurung diri di kamar saat bik Asih memanggilnya untuk sarapan pagi. Sedangkan Rama, ia memilih untuk sarapan pagi di luar saja. Ia sudah berangkat sejak pagi-pagi lagi, dengan alasan, ada pasien yang membutuhkan bantuannya lebih awal.
Melihat kedua majikannya saling menghindar. Bik Asih tidak bisa menunggu lagi. Ia merasa kalau ia harus ikut campur dalam menyelesaikan masalah yang berawal dari dirinya.
Bik Asih memutuskan untuk menemui Rama di rumah sakit. Ia ingin menjelaskan kesalahan yang telah ia buat. Bik Asih pun berangkat dengan naik ojek menuju rumah sakit.
"Permisi Dok. Ada yang mau bertemu dengan dokter Rama," kata perawat yang mengantarkan bibik.
"Suruh ia masuk," ucap Rama sambil duduk di atas kursinya yang membelakangi pintu.
"Orangnya sudah ada di sini Dok. Saya permisi dulu," ucap perawat itu dengan sopan.
__ADS_1
Rama memutar kursinya untuk melihat siapa yang ingin bertemu dia. Ia kaget saat melihat, ternyata bik Asih yang datang ke rumah sakit. Bukankah bik Asih tidak perlu repot-repot kalau ingin bertemu dengannya? Toh nanti di rumah juga akan bertemu.
"Ada apa bik?"
"Maafkan bibik mas, bibik harus datang kesini dan mengganggu waktu mas Rama. Bibi kesini hanya mau mengatakan sesuatu tentang dress biru .... "
"Cukup bik. Tidak ada yang perlu bibi katakan soal dress itu."
"Tapi mas, Mas Rama harus mendengarkan apa yang ingin bibi katakan. Semua ini salah bibi, bukan salah non Lia."
"Non Lia gak salah mas. Ia tidak tahu apa-apa soal dress itu. Non Lia tidak punya baju lagi untuk ia pakai. Bibi tidak mungkin membiarkan non Lia memakai baju lembab yang belum sempat bibi jemur karena keburu hujan."
Bik Asih terus bicara banyak untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Ia berusaha untuk membuat Rama mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Ia juga mengatakan, kalau saat ini Lia sedang sangat sedih.
Rama yang dingin hanya mendengarkan apa yang bik Asih bicarakan, tanpa berniat untuk menanggapinya. Hati kecil Rama sebenarnya menyesal dengan apa yang telah ia lakukan pada Lia. Tapi ia merasa malu untuk mengakuinya.
Selesai menjelaskan apa yang ingin ia jelaskan, bik Asih pamit pulang. Walaupun Rama tidak menanggapi apa yang ia katakan, tapi bik Asih tahu kalau Rama mendengarkan perkataannya. Ia sudah lama kenal dengan Rama. Jadi ia tahu bagaimana laki-laki itu. Ia percaya, kalau semuanya akan baik-baik saja.
__ADS_1
***
Entah sejak kapan, Lia duduk sendiri di taman. Ia hanya masuk ke rumah saat waktu sholat saja. Setelah sholat, ia kembali lagi duduk di kursi taman. Bik Asih menghampirinya sudah beberapa kali. Meminta Lia untuk makan, karena ia belum makan sejak tadi malam.