
Bik Asih memberikan dress itu pada Lia.
"Ini ... punya siapa bik?" tanya Lia dengan nada penuh penasaran.
"Ini awalnya milik mbak Melati. Tapi karena sobek, ia ingin membuangnya. Namun, bibik sayang sama dress itu. Jadi ... bibi perbaiki," kata bik Asih menjelaskan dengan nada ragu-ragu.
Lia melihat dress itu dengan tatapan ragu-ragu. Ia ragu untuk memakai dress itu, karena dress itu milik Melati.
"Apa gak papa kalo Lia pakai dress ini bik? Maksud Lia, apa gak marah mas Rama nantinya?"
"Gak papa non. Masa iya mas Rama marah sama non Lia hanya karena dress ini. Lagian kan, dress ini datangnya dari kamar bibik, bukan bibik ambil dari kamar mas Rama."
Lia berpikir apa yang bik Asih katakan ada benarnya. Kenapa juga Rama harus marah padanya. Bukankah dress itu datang dari kamar bik Asih. Dan dress itu awalnya juga sudah mau di buang oleh pemiliknya. Lagian, kalau ia tidak menerima dress itu, ia tidak punya apa-apa lagi untuk di pakai malam ini.
Lia menerima dress itu. Sungguh di luar dugaan bik Asih, dress itu sangat cocok dan pas sekali di tubuh Lia. Baju itu seperti memang milik Lia. Karena begitu pas saat Lia kenakan.
"Non Lia, bajunya sangat cocok sama non Lia," kata bik Asih seakan tak percaya.
"Iya bik. Awalnya Lia pikir gak muat sama Lia. Eh ternyata, pas banget malahan."
__ADS_1
Bik Asih melihat Lia yang sedang sibuk membaca majalah di ruang tamu. Ia teringat akan Melati saat memakai baju itu. Itu adalah baju kesukaan Melati. Hanya saja, baju itu sobek sedikit di bagian sampingnya. Tidak tahu ntah kenapa bisa baju itu sobek.
Tapi karena sobek itu, Melati tidak menyukainya lagi. Ia menyuruh bik Asih membuang baju itu. Tapi bik Asih sayang dengan baju yang masih terlihat baru itu. Akhirnya, bik Asih memutuskan untuk memperbaikinya saja.
Beberapa menit kemudian, Rama pulang dari rumah sakit. Ia kaget bukan kepalang saat melihat Lia yang berdiri di hadapannya. Saat pertama kali ia melihat, bukan Lia yang terlihat di matanya, melainkan, Melati.
"Melati."
"Mas Rama." Panggil Lia untuk menyadarkan Rama, kalau dia bukan Melati.
"Thalia!"
Seketika, wajah Rama berubah. Ia baru saja salah lihat orang, karena baju yang Lia pakai. Rama terlihat berbeda saat tahu itu bukan Melati. Ia tidak pernah menyebut nama Lia dengan nama lengkapnya. Jangankan nama lengkap, nama pendeknya saja susah keluar dari mulut Rama.
"Ap-apa maksud kamu mas?" tanya Lia tak mengerti.
"Kenapa berani-beraninya kamu memakai baju yang bukan milikmu? Siapa yang mengizinkan kamu memakai baju Melati, hah!"
Rama begitu kesal. Ia selama ini tidak pernah mengeluarkan suara keras pada Lia. Apalagi sampai mencengkram bahu Lia. Itu tidak pernah ia lakukan sama sekali selama ini.
__ADS_1
Tatapan Rama saat ini lurus menatap Lia. Matanya tidak memperlihatkan kesedihan lagi kali ini. Mata itu menatap Lia penuh amarah. Lia merasa sangat takut ketika Rama tiba-tiba mencengkram bahunya dengan kuat.
"Mas ... sakit tahu gak," ucap Lia sambil berusaha lepas.
"Aku tanya sama kamu, kenapa kamu berani-beraninya pakai baju itu!"
"Mas, ini baju .... "
"Lepaskan baju itu! Lepaskan sekarang juga!"
"Mas, aku gak punya baju lagi. Apa salahnya aku pinjam. Lagian, ini hanya sebuah baju kan?"
"Thalia!"
Seiringan suara Rama yang menggelegar memanggil nama Thalia. Tangan Rama juga ringan sekali terangkat dan ingin menampar wajah Lia. Sontak, Lia menutup mata sambil menangis. Hatinya terasa begitu perih saat ini. Ia sudah pasrah, jika memang tangan itu menyentuh wajahnya, maka biarkan laki-laki itu melakukannya.
Tapi ternyata, tangan itu tidak sampai menyentuh wajah Lia. Tangan itu tertahan dengan sendirinya di sana. Ia melepaskan tubuh Lia yang ia cengkram perlahan.
"Lepaskan baju itu dari tubuhmu. Aku tidak ingin melihat kamu mengenakannya lagi," kata Rama sambil meninggalkan Lia yang sedang terisak sedih.
__ADS_1
Lia segera berlari menuju kamar. Ia ingin segera membuka baju ini dari tubuhnya, dan ia serahkan pada Rama. Saat ini, hatinya benar-benar sangat remuk, seremuk-remuknya.
Lia tidak menyangka, kalau Rama mampu memperlakukan dia sekasar itu hanya karena satu baju yang telah Melati buang. Baju yang sudah tidak diinginkan oleh Melati lagi.