
Malam itu, Rama tidak keluar untuk makan malam. Ia hanya berdiam diri di kamarnya dari sore hingga makan malam tiba. Bik Asih sudah memanggil Rama untuk turun makan. Tapi Rama malah meminta bik Asih mengantarkan makan malamnya ke kamar saja.
Lia benar-benar merasa tidak enak dengan apa yang Rama lakukan. Mau minta maaf, tapi orangnya malah tidak menunjukkan batang hidungnya sama sekali.
***
Paginya, Lia bertekad untuk meminta maaf saat mereka sarapan pagi. Ia menunggu Rama di meja makan. Tapi saat turun, Rama malah tidak ikut sarapan dengannya. Ia malah berjalan dengan cepat melewati meja makan menuju pintu.
Lia merasa benar-benar di abaikan. Hatinya tidak kuat menerima perlakuan ini. Ia ingin berteriak dan mengatakan, kalau ia menyerah. Ia menyerah tinggal di rumah ini. Tapi itu tidak bisa ia lakukan. Bagaimanapun, ia harus tetap memaksakan hati untuk tetap kuat.
"Non Lia gak sarapan?" tanya bik Asih saat melihat Lia hanya memainkan nasi dalam piringnya.
"Gak selera bik."
"Non Lia sedang marahan ya sama Mas Rama?"
"Gak juga bik."
"Oh ya bik. Aku izin keluar sebentar ya nanti. Aku ingin berkunjung ke rumah kakak ku."
"Apa sudah bilang sama mas Rama, non?"
"Belum bik. Mas Rama nya sibuk terus. Bibik aja yang bilang ya sama mas Rama."
__ADS_1
"Iya deh non. Nanti bibik bilang sama mas Rama."
"Oh ya bik, tolong kasihkan amplop yang ada di kamar Lia sama mas Rama ya. Soalnya, Lia mungkin pulangnya agak malaman dari rumah kak Bram."
"Iy-iya non. Akan bibik laksanakan," ucap bik Asih dengan hati penasaran.
"Ya udah, Lia berangkat dulu bik."
"Hati-hati non."
Lia keluar dari rumah. Ia menunggu taksi yang ia pesan di depan pagar rumahnya. Tak jauh dari sana, ada seorang penjual bakso yang sedang mangkal. Saat itulah, Lia ingat kalau kakaknya sangat suka dengan bakso keliling. Ia memanggil abang tukang bakso dengan lambaian tangan. Tukang bakso itu berjalan sambil mendorong gerobaknya.
"Mau berapa porsi neng?" tanya abang bakso itu dengan lembut.
"Dua aja mas. Gak pakai cabe ya yang satunya," kata Lia sambil sibuk dengan ponselnya.
"Neng Lia?"
Seketika, Lia tersentak kaget saat abang bakso itu tahu namanya. Dengan cepat, ia mengalihkan pandangannya.
"Kang Adit!"
"Neng Lia. Akang kangen sekali sama neng. Apa kabarnya neng Lia sekarang?"
__ADS_1
"Aku--aku baik-baik saja kang. Kemana kamu selama ini? Kenapa tidak pernah menghubungi Lia?"
"Neng Lia, sejak ponsel akang hilang. Akang tidak bisa menghubungi neng Lia lagi. Akang tetap selalu datang ketempat biasa setelah akang kembali dari kampung. Tapi sayangnya, neng Lia tidak pernah datang ketempat itu lagi. Akang mencoba mencari tahu kemana neng Lia. Tapi ada yang bilang, katanya neng Lia sudah menikah dengan orang kaya, yang punya jabatan tinggi dan terkenal."
Lia terdiam. Seketika, kebahagiaannya lenyap bagai di telan alam. Ia lupa, kalau saat ini statusnya sudah bukan gadis lagi. Ia adalah istri dari Rama Syahputra sang dokter dingin yang terkenal.
"Neng Lia. Kenapa neng Lia melamun? Apa akang ada salah ngomong barusan neng?"
"Tidak, tidak ada kang," ucap Lia dengan nada sedih.
"Neng Lia, apa benar yang orang katakan, kalau saat ini neng Lia sudah menikah dengan orang kaya? Katakan sama akang kalau apa yang mereka bilang itu bohong neng. Neng Lia sudah janjikan sama akang, mau nunggu akang sukses baru kita akan punya hubungan."
Lia tidak tahu harus bilang apa pada laki-laki yang ada di hadapnya saat ini. Dahulu, ia memang berteman baik dengan Adit. Mereka bertemu saat Lia mengejar bakso karena sang kakak yang sedang sakit sangat menginginkannya. Sejak saat itu, Adit tertarik dengan paras cantik nan lemah lembut dari Lia.
Adit tidak pernah menyatakan cintanya pada Lia. Hanya saja, ia berjanji pada Lia, kalau ia sukses nanti, Lia adalah orang yang akan menemaninya seumur hidup. Tapi Lia tidak menganggap janji itu sebuah ungkapan cinta. Walau ia suka pada Adit. Tapi ia tidak ingin berharap terlalu banyak pada laki-laki itu. Karena laki-laki itu tidak pernah mengungkapkan secara langsung, kalau ia mencintai Lia.
Hingga pada akhirnya, nomer ponsel Adit yang Lia miliki, tidak bisa ia hubungi lagi. Dan Adit juga tidak pernah datang untuk berjualan lagi. Dua bulan lamanya Lia selalu mengunjungi tempat itu. Bahkan, ia sering menanyakan tentang Adit pada pelanggan setia Adit. Tapi tidak ada yang tahu di mana Adit. Ia menghilang begitu saja tanpa kabar berita.
Penantian Lia pun harus berujung saat ayah menginginkan ia menikah dengan Rama. Pernikahan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Tapi demi orang tuanya, Lia akan melakukan apa saja. Termasuk melupakan Adit, dan menikah dengan Rama. Dan kini, Adit datang lagi dengan wajah dan profesi yang sama. Yaitu, sebagai penjual bakso keliling.
"Neng Lia, kenapa melamun lagi atuh neng? Jawab atuh apa yang akang tanyakan."
"Maaf kang."
__ADS_1
"Maaf untuk apa neng? Katakan dengan jelas apa yang ingin neng Lia katakan."
"Apa yang orang-orang katakan itu benar kang. Lia sudah bukan Lia yang dulu lagi. Lia sudah menikah sekarang," ucap Lia dengan berat hati.