Pernikahan Karena Hutang Budi

Pernikahan Karena Hutang Budi
Bab 23


__ADS_3

Sedikit demi sedikit, Rama memasukkan apa yang Lia katakan dalam hati dan pikirannya. Walaupun ia tidak langsung bisa menerima apa yang Lia katakan. Tapi perkataan Lia terus saja memutar bagai rekaman yang mengulang lagi dan lagi apa yang Lia katakan.


Rama masuk kedalam kamarnya setelah merawat Lia. Ia tidak masuk kerja hari ini, karena Rama ingin merawat Lia di rumah. Ia hanya mengirimkan sopirnya ke rumah sakit untuk mengambil obat untuk Lia.


Rama membaringkan tubuhnya di atas kasur yang bersepreikan warna biru tua itu. Matanya menatap langit-langit kamar yang berwarna putih kusam.


"Tuhan ... aku tahu apa yang Lia katakan itu benar adanya. Tapi bagaimana caranya agar aku bisa keluar dari rasa bersalah yang aku rasakan selama ini. Tuhan ... hanya engkau yang maha kuasa atas apa yang terjadi. Tolonglah aku untuk menjalani hidup ini dengan kehidupan yang layak," kata Rama merintih sambil memeluk guling.


Sekali lagi, air mata mengalir dari mata Rama. Rasanya sungguh sangat berat untuk ia melupakan apa yang telah terjadi pada istri yang sangat ia cintai. Bagaimana ia harus kehilangan istri yang baru ia nikahi. Hal itu membuat napasnya terasa sesak dan tertahan di dadanya.


"Melati." Panggil Rama dengan nada lirih dan serak. Sehingga hampir tidak terdengar suara Rama itu.


"Maafkan aku Melati, maafkan aku. Aku tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama lagi. Aku tidak ingin merasakan kehilangan untuk yang kedua kalinya."


Rama bangun dari baringnya. Ia menatap foto Melati yang terpanjang di setiap tembok kamarnya. Ia tersenyum ketika melihat wajah cantik Melati dengan berbagai pose foto yang memperlihatkan kebahagiaan.

__ADS_1


"Aku yakin, kamu pasti bisa mengerti dengan keputusan yang akan aku ambil. Kamu akan selalu hidup dalam hatiku Melati ku sayang. Aku akan mencintaimu sampai napas ini tidak berhembus lagi."


Rama bergegas keluar dari kamar setelah ia bicara dan memeluk foto Melati yang ada di sampingnya. Seperti telah mendapatkan semangat baru, ia merasakan sebuah kehangatan hidup dalam hatinya. Tujuan Rama tidak lain adalah kamar Lia. Ia ingin melihat wanita ini.


Sampai di depan pintu kamar Lia, Rama langsung membuka pintunya perlahan. Di sana, ia melihat seorang wanita cantik yang sedang terlelap. Wajah Lia yang terlelap itu menambah rasa hangat dalam hati Rama. Entah mengapa, ia merasakan hal yang berbeda datang dari Lia.


Rama duduk di samping Lia yang masih tertidur. Ia sentuh kening Lia dengan lembut. Berharap, kalau Lia tidak akan merasakan sentuhannya. Tapi sayangnya, Lia terbangun karena sentuhan tangan Rama. Walaupun Rama menyentuhnya sangat pelan. Tapi tetap saja Lia bisa merasakan.


"Mas Rama." Panggil Lia sedikit kaget.


"Lia. Maaf, aku pikir tidak akan membangunkan mu. Aku hanya ingin merasa suhu tubuh kamu. Apakah masih panas atau sudah baik-baik saja," kata Rama berkilah.


"Baguslah kalau begitu."


Rama melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.

__ADS_1


"Lia, sudah waktunya kamu makan siang sekarang."


"Tapi aku tidak ingin makan, mas. Aku tidak punya selera untuk makan."


"Jika kamu tidak makan, maka kamu tidak akan sembuh-sembuh Lia. Kamu harus makan walaupun sedikit."


"Tunggu di sini, aku akan ambilkan makanan untukmu," kata Rama sambil bangun dari duduknya.


"Tapi mas .... "


"Tidak ada tapi-tapinya Lia. Kamu harus makan, kemudian minum obatnya."


Lia sebenarnya sangat bingung dengan perubahan yang sedang Rama tunjukkan. Rama yang sangat irit bicara dan sayang sekali untuk mengeluarkan suara emasnya, kini berubah jadi laki-laki yang super perhatian dan hangat. Lia mengira, kalau perubahan Rama itu di karenakan, Rama merasa bersalah akibat ia sakit karena kehujanan. Dan Rama bersikap begitu perhatian, karena ia adalah seorang dokter.


Rama kembali dengan sepiring nasi yang lengkap dengan lauk dan sayur. Ia membawa piring itu kembali duduk di samping Lia yang masih terbaring.

__ADS_1


"Sekarang, waktunya kamu makan siang Lia," kata Rama sambil membantu Lia untuk bersandar.


Rama siap untuk menyuapi Lia. Lia masih menatap Rama dengan tatapan tak percaya. Tak percaya akan perubahan Rama yang berubah jauh berbanding terbalik dari yang biasanya.


__ADS_2