
Pagi ini, Rama tidak turun sarapan dengan baju seperti biasa. Ia turun sarapan dengan baju rumahan. Lia mengira, hari ini Rama mungkin tidak pergi ke rumah sakit seperti hari yang telah lalu.
"Dokter Rama gak kerja?" tanya Lia dengan berat hati.
Sejujurnya, Lia takut untuk bertanya hal itu. Karena ia takut diabaikan oleh Rama seperti waktu yang telah lalu.
"Gak," jawab Rama singkat.
"Oh, dokter Rama libur hari ini?"
Rama tidak menjawab. Ia hanya memberikan sebuah tatapan pada Lia. Tatapan yang susah untuk Lia artikan. Karena setiap Rama menatap Lia, bukan nyilu dan takut yang Lia rasakan. Melainkan rasa belas kasihan. Karena saat melihat mata Rama, Lia selalu merasakan, mata itu menyimpan kesedihan dan kehilangan.
Rama menyelesaikan sarapannya dengan cepat. Kemudian, ia meninggalkan meja makan menuju kamarnya. Meninggalkan Lia tanpa sepatah katapun.
Lia mengira, kalau Rama tidak ke rumah sakit, ia akan punya teman untuk bicara hati. Tapi kenyataannya, sama aja. Lia tetap sendirian karena Rama tidak keluar sekalipun setelah ia sarapan tadi pagi.
Bel rumah berbunyi. Lia yang duduk di ruang tamu bangun dengan cepat untuk membuka pintu.
"Biar aku aja bik yang bukain pintu," kata Lia saat melihat bik Asih berjalan dengan cepat dati arah dapur.
"Baik non."
Pintu terbuka lebar. Di luar sedang berdiri wanita yang tidak asing lagi bagi Lia. Siapa lagi kalau bukan mama mertuanya.
"Selamat pagi sayang," sapa mama Dewi dengan ramah saat melihat Lia yang membukakan pintu untuknya.
"Selamat pagi ma. Ayo silahkan masuk."
"Makasih sayang," ucap mama Dewi sambil masuk kedalam.
"Di mana Rama?"
"Dokter Rama sedang di kamarnya ma," ucap Lia dengan jujur.
__ADS_1
"Dokter Rama? Di kamarnya?" tanya mama Dewi sambil menatap Lia dengan tatapan tajam.
Lia yang mendapat tatapan tajam itu merasa ngeri. Apalagi tatapan itu dari seorang mertua. Bertambah lah rasa ngeri di hati Lia.
"Maksud Lia, dokter Rama sedang di kamar ma. Mama duduk dulu ya, biar Lia panggilin sebentar," ucap Lia sambil bergegas meninggalkan mama mertuanya.
Beberapa saat kemudian, Rama datang keruang tamu disusul Lia di belakangnya.
"Ma." Rama memanggil mamanya dengan lembut.
"Rama. Kapan sih kamu itu ada di luar jika mama berkunjung ke rumah kamu?"
Mama Dewi langsung menyerang Rama dengan pertanyaan. Pertanyaan yang bernada kesal untuk Rama. Karena setiap ia datang, Rama tidak pernah berada di luar. Ia pasti sedang di kamar. Menunggu orang memanggilnya baru ia keluar dari peraduannya.
"Mmm ... ma, Lia bikinin minum dulu ya," kata Lia dengan gugup.
Ia ingin memberikan waktu berdua untuk ibu dan anak itu bicara. Tidak enak kalau ia menjadi patung pendengar saat Rama dan mamanya sedang bicara.
"Iy iya ma," ucap Lia semakin tidak enak.
Lia duduk di salah satu sofa yang berjauhan dengan Rama. Mama Dewi melihat hal itu dengan tatapan tajam.
"Kenapa kamu duduk di situ Lia? Apa gak bisa duduk di samping Rama aja? Bukankah di samping Rama masih ada tempat untuk duduk."
"Ma, sudahlah. Kenapa mama datang kesini?" tanya Rama yang tidak tahan lagi dengan ocehan dan celotehan mamanya.
"Lho, kenapa mama tidak boleh datang ke rumah anak sendiri? Apa kamu tidak senang jika mama kunjungi?"
"Bukan begitu ma. Rama gak bilang kalau mama gak boleh datang ke rumah Rama. Rama juga senang kalau mama datang. Yang Rama maksudkan itu, kenapa mama datang tanpa kasih tahu Rama terlebih dahulu."
Untuk pertama kalinya, Lia mendengarkan Rama bicara panjang lebar. Biasanya, Rama tidak pernah bicara sepanjang itu dengan bibik, atau pak sopir, apalagi dengan dirinya. Yah, walaupun Rama bicara masih tanpa sedikitpun senyum atau keceriaan. Raut wajahnya masih sama, yaitu raut wajah sedih.
Rama dan mamanya terus bicara. Sedangkan Lia, ia hanya menjadi pendengar perdebatan mama dan Rama saja. Lia menikmati menjadi pendengar di sini. Karena saat ini, Rama tidak sayang untuk mengeluarkan suara emasnya saat mama bertanya atau menyalahkannya.
__ADS_1
"Oh ya Lia. Mama ingin tanya satu hal sama kamu. Apa kamu dan Rama tidur di kamar yang terpisah?"
Lia terdiam. Kini ia tidak menyangka kalau mama mertuanya akan menanyakan pertanyaan seperti itu. Ia tidak tahu apa yang harus ia jawab. Apakah Rama akan marah jika ia menjawab iya? Ataukah ia harus berbohong pada mama mertuanya agar suaminya kena omelan sang mama.
"Lia, jawab apa yang mama tanyakan dengan jujur," ucap mama Dewi mendesak.
"Ma, mama sudah tahu apa jawabannya kan? Kenapa harus mama tanyakan lagi?"
"Rama!"
"Rama butuh waktu ma. Mama tahu apa yang Rama rasakan selama ini."
"Apa tiga tahun tidak cukup Rama?"
"Tidak ma. Tiga tahun tidak cukup. Mungkin seumur hidup juga tidak akan cukup ma," kata Rama sambil bangun dari duduknya lalu meninggalkan ruang tamu.
"Rama!"
"Ma, maaf. Bukan maksud Lia ingin ikut campur. Tapi biarkanlah dokter Rama sendiri dulu sekarang," kata Lia sambil duduk di samping mama Dewi.
"Dia sudah lama sendiri, Lia. Dia tidak perlu waktu sendiri lagi sekarang."
"Ma, kasihan dokter Rama jika mama paksakan. Bukan maksud Lia untuk menggurui mama. Tapi mungkin, dokter Rama memang butuh waktu lama untuk mengobati lukanya."
"Mama gak kuat Lia. Mama gak kuat jika melihat Rama tersiksa seperti ini terus menerus. Apa dia tidak sadar kalau hidup ini harus tetap ia lanjutkan."
Mama Dewi terlihat sangat sedih. Matanya mengeluarkan buliran cair bening. Wajah sedih bercampur kecewa itu terlihat sangat jelas.
"Mama tenang ya ma. Mungkin suatu saat nanti, dokter Rama pasti akan mengerti kalau dia tidak sendiri."
"Lia, berjanjilah pada mama, kalau kamu bisa mengubah anak mama lagi. Berjanjilah Lia," kata mama Dewi sambil memegang kedua tangan Lia erat-erat.
Lia yang tidak yakin dengan dirinya saat ini, terpaksa menganggukkan kepalanya tanda iya. Ketidak yakinnya mampu di kalahkan oleh rasa iba dan kasihan pada seorang mama yang ingin anaknya bahagia.
__ADS_1