
Pada akhirnya, Rama membatalkan niatnya untuk menghubungi Lia. Egonya terlalu tinggi hanya untuk menanyakan keberadaan Lia.
Sampai jam makan malam, Lia belum kunjung pulang. Saat Rama turun untuk makan malam, ia masih tidak menemukan Lia ada di mana-mana. Yang ada hanya bik Asih yang sibuk dengan pekerjaannya.
"Lia masih belum pulang, Bik?"
"Belum mas. Kata non Lia, ia masih di jalan saat ini."
"Oh."
Rama tidak melanjutkan niatnya untuk makan. Tiba-tiba, selera makannya jadi hilang. Ia memutuskan untuk kembali ke kamarnya lagi.
"Lho, mas Rama gak makan?"
"Nanti aja bik."
"Ya sudah, bibik akan panaskan makanannya mas."
Rama hanya mengangguk pelan saja sambil berlalu meninggalkan meja makan.
*
__ADS_1
Lia pulang saat jam menunjukkan pukul delapan malam. Ia bergegas masuk kedalam rumah. Saat ia mengira kalau bik Asih yang membuka pintu untuknya. Lia dikagetkan oleh orang yang berbeda. Yang membuka pintu untuknya tak lain adalah Rama.
Rama menatap dingin wajah Lia. Tatapan dingin yang tak pernah Lia rasakan sebelumnya.
"Dari mana kamu?"
"Aku dari rumah kak Bram, mas."
"Kenapa pulang malam?"
"Lia terjebak macet di jalan. Tadi ada kecelakaan mobil soalnya," kata Lia menjelaskan.
"Jangan bertindak sesuka hati di rumah ini. Kamu sedang berada di rumahku. Kamu adalah tanggung jawabku," kata Rama dengan nada yang sangat kaku.
"Maafkan aku mas. Tidak akan ada lain kali," ucap Lia sambil tertunduk.
Rama berlalu meninggalkan Lia yang masih terdiam di ruang tamu. Ia tidak menanggapi apa yang Lia katakan lagi. Rama memang laki-laki yang sangat sulit untuk di mengerti. Tekad Lia untuk menenangkan pikiran, malah berubah menjadi tambah masalah untuk dirinya sendiri.
Lia membaringkan tubuhnya di atas kasur sambil memikirkan kejadian yang telah ia lewati hari ini. Kejadian yang begitu beragam dan membuat kepalanya makin pusing saja. Niat keluar rumah untuk menenangkan hati, eh malah jadi menambah masalah.
Belum lagi, ia bertemu dengan orang yang pernah memikat hatinya sebelum berangkat. Masih tergambar jelas diingatan Lia, bagaimana senyum manis Adit saat bertemu dengannya. Tapi, senyum manis itu harus berakhir dengan air mata yang mengalir karena kecewa.
__ADS_1
"Ya Tuhan, kenapa semuanya begitu rumit. Beri aku jalan yang bisa membawa aku kepada kebahagiaan Tuhan," kata Lia merintih dalam baringnya.
Keesokan harinya, Lia bertekad ingin minta maaf pada Rama dengan menyiapkan sarapan pagi untuk Rama. Tapi, saat ia bangun dan melihat kamar Rama. Tidak ada cahaya yang menyala di kamar itu. Lia melihat kamar itu dengan tatapan penasaran. Biasanya, kamar Rama tidak pernah mati lampu. Apalagi saat Lia bangun saat subuh, setelah menyelesaikan sholat subuh nya.
"Apa mungkin mas Rama masih tidur ya," ucap Lia sambil berjalan menuju anak tangga.
"Non Lia mau kemana?" tanya bik Asih yang tiba-tiba menggangetkan Lia.
"Eh, bik Asih. Bikin kaget Lia aja deh. Lia mau lihat kamar mas Rama aja bik. Gak biasanya lampu kamar mas Rama mati jam segini," ucap Lia dengan jujur.
"Mas Rama gak ada di rumah non Lia. Dia udah ke rumah sakit dari tengah malam tadi. Katanya, ada pasien yang gawat, yang memerlukan bantuannya segera."
"Oh, pantas lampu kamarnya gak nyala."
Wajah Lia terlihat murung ketika ia mengatakan hal itu. Ia telah memikirkan, kalau ia akan menyediakan sarapan pagi sebagai permintaan maafnya pada Rama. Tapi sayangnya, ternyata Rama tidak ada di rumah. Rama tidak pamit padanya sebelum berangkat. Itu hal kedua yang membuat wajahnya murung.
"Siapa kamu Lia? Kenapa kamu berharap Rama pamit padamu sebelum berangkat kemana-mana," ucap Lia dalam hati.
"Non Lia, sebenarnya mas Rama ingin bilang sama Non Lia sebelum berangkat, tapi gak enak untuk membangunkan non Lia. Jadinya, mas Rama bilang sama bibik."
Seakan tahu apa yang ada dalam pikiran Lia. Bik Asih langsung mengatakan hal itu. Hal yang mampu membuat Lia merasa sedikit dihargai sebagai seorang istri. Yah, walaupun hanya sebatas istri di atas kertas. Tapi bagaimanapun, Lia adalah seorang wanita. Wanita yang selalu ingin di hargai oleh setiap laki-laki.
__ADS_1
Wajah murung Lia kini berubah cerah kembali. Seperti layaknya hari yang awalnya mendung, kini kembali cerah karena munculnya sang mentari. Lia bergegas menuju dapur. Dalam pikirannya teringat akan sesuatu. Jika Rama tidak sarapan di rumah. Maka ia akan menyiapkan makanan untuk di antar kan ke rumah sakit.
"Non Lia yakin tidak ingin mengantarkan sarapannya langsung pada mas Rama?" tanya bik Asih saat Lia sudah siap dengan sarapan di tangannya.