Pernikahan Karena Hutang Budi

Pernikahan Karena Hutang Budi
Bab 48 (End)


__ADS_3

Perayaan ulang tahun pernikahan mereka berubah menjadi perayaan atas kehamilan Lia. Raut wajah bahagia bukan hanya terlihat di wajah Rama dan Lia. Tapi di wajah semuanya. Mama dan papa sangat antusias atas berita yang sangat membahagiakan ini. Mereka tak henti-hentinya tertawa bahagia.


Malam ini adalah malam yang penuh kebahagiaan bagi mereka semua. Papa tak henti-hentinya berpesan pada Rama untuk menjaga Lia dan calon cucunya baik-baik. Malam ini, Mama dan papa juga memutuskan untuk nginap di rumah Rama. Tidak ada yang pulang ke rumah, kecuali Bram yang tidak membawa anak dan istrinya.


***


Sejak malam itu, mama dan papa jadi sering nginap di rumah anak menantu mereka. Bukan hanya mama dan papa, bunda juga sama. Ia jadi sering berkunjung dan menginap di rumah Lia.


Mereka akan berebut untuk mencari apa yang Lia inginkan. Mereka juga berebut dalam menyajikan makanan untuk Lia. Mereka ibu-ibu yang sangat aktif dalam menjaga Lia yang sedang hamil.


Bukan hanya itu, mereka selalu mengawasi Rama. Rama tidak boleh ini, tidak boleh itu, jika mereka ada. Rama hanya bisa mengikuti apa kata dua orang tua yang begitu ketat menjaga istrinya.


Lia juga tidak bisa banyak berkutik. Dua ibu-ibu ini sangat overdosis dalam menjaganya. Saat ia inginkan sesuatu, mereka akan mendapatkan dengan cepat. Mama dan bunda saling berkerja sama dalam hal itu. Lia merasa sangat beruntung di jaga oleh dua orang tua yang sudah berpengalaman seperti mama dan bundanya. Di tambah suaminya yang selalu sigap saat ia butuhkan. Saat ia lemah dan butuh tempat bersandar, Rama akan selalu ada. Untuk merawat juga menjadi penyemangat bagi Lia.


*


Kehamilan Lia sudah mencapai waktu melahirkan. Hanya tinggal menunggu hari saja. Semakin dekat waktu melahirkan, semakin sigap dua ibu itu menjaganya. Mereka bahkan sudah tinggal di rumah Lia sejak satu bulan yang lalu.


Saat Lia masuki sembilan bulan, mama dan bunda memutuskan untuk tinggal di rumah Lia, sampai Lia melahirkan. Sedangkan Rama, Ia sekarang jadi selalu sibuk menanyakan pada mama atau bunda, bagaimana kabar Lia saat ia sedang bekerja di rumah sakit.


*


Ketika Lia ingin ke kamar mandi, tiba-tiba Lia merasakan perutnya sakit. Ia merintih kesakitan. Mama yang mendengarkan rintihan itu, segera menghampiri Lia.


Bunda dengan cepat menelpon Rama untuk memberi kabar kalau Lia sudah saatnya melahirkan. Tidak menunggu Rama lagi, mereka langsung membawa Lia ke rumah sakit. Dua ibu itu memang selalu sigap dan bertindak cepat.


Lia melahirkan tanpa ada hambatan. Tidak lama sampai ke rumah sakit, bayinya langsung keluar. Lia melahirkan secara normal dengan bayi perempuan yang sangat cantik.

__ADS_1


Sekali lagi, kebahagiaan terlihat jelas pada wajah-wajah yang tadinya menanti dengan cemas. Rama terus menemani Lia hingga Lia di pindahkan keruang rawat setelah melahirkan.


Walaupun masih lemah, ia tersenyum saat semuanya memperebutkan satu bayi yang baru saja Rama khomatkan. Rama sebagai papa, tidak bisa menggendong bayinya lebih lama. Setelah selesai tugasnya mengkhomatkan anak itu, mamanya dengan cepat merebut bayi itu dari tangannya.


Suasana haru terlihat sangat jelas di wajah Lia. Apalagi saat Rama lebih mementingkan dirinya di bandingkan anak mereka. Rama tidak banyak komen saat para orang tua menanyakan nama yang cocok untuk bayi cantik itu. Ia malah sibuk menanyakan apa yang Lia mau saat ini. Apa yang Lia inginkan, dan bagaimana perasaan Lia. Ia sibuk mengurusi istrinya yang terlihat masih lemah.


Tangannya juga tidak berhenti membelai Lia.


"Ram, apa nama yang cocok untuk anak kalian ini?" tanya papa sangat penasaran.


"Biarkan istriku yang memberikannya nama pa. Karena dia yang sudah bertaruh nyawa," kata Rama tidak sedikit pun memalingkan wajahnya dari Lia.


"Kamu aja yang kasih nama mas," kata Lia dengan suara pelan.


"Jangan pikirkan itu dulu ya sayang. Nama anak kita bisa kita pikirkan belakangan."


"Ya udah. Bagaimana dengan Putri Ramela?" kata Rama setelah berpikir sejenak.


"Putri Ramela. Bagus juga namanya," kata Lia setuju.


"Bagaimana Rama, Lia?"


"Aku memberinya nama Putri Ramela, pa."


"Wuah, nama yang bagus," kata mama.


"Putri Ramela cucuku," kata papa.

__ADS_1


Mereka kembali berebut bayi itu lagi. Hingga dokter datang untuk mengambil bayi itu, barulah usai perebutan tersebut.


***


Lia sudah pulang dari rumah sakit. Mereka menyambut Lia di rumah dengan sambutan yang lumayan meriah. Ide dari bik Imah memang bagus. Mereka menyiapkan ruang tamu dengan ucapan selamat datang.


Kini, kebahagiaan Lia telah lengkap. Berawal dari permintaan ayah untuk menebus hutang budi dengan pernikahan yang tidak ia inginkan. Tapi ia terpaksa menurutinya dengan setengah hati.


Tapi, pernikahan yang tidak ia inginkan ini merubah hidupnya menjadi lebih baik. Mengubah rasa terpaksa menjadi sebuah kebahagiaan yang tidak pernah ia bayangkan. Hidup dengan suami yang sangat pengertian dan penuh kasih sayang.


Kini, ia punya seorang malaikat kecil yang menambah kehangatan keluarganya. Membuat suasana rumah yang awalnya sepi menjadi penuh canda tawa. Ia telah berhasil mengubah Rama yang dingin menjadi hangat kembali. Janjinya pada bik Asih dan mama Dewi telah ia tepati.


Ia tidak pernah merasa cemburu ketika Rama masih mempertahankan kamar lantai atas. Kamar itu masih sama sampai saat ini. Tidak ada yang berubah sedikitpun dari kamar itu. Hanya saja, Rama sudah sangat jarang masuk kedalam kamar itu.


Lia tidak pernah melarang Rama untuk masuk dan mengenang kisahnya dengan Melati. Ia tahu, kalau kenangan pasti akan tinggal di hati seseorang. Sampai kapan pun dan selama apapun.


Hal itu tidak akan membuat hatinya cemburu sama sekali. Mau Rama masuk kedalam sana dan bernostalgia, ia tidak akan melarangnya. Lia juga tidak pernah bertanya apa-apa jika Rama masuk kedalam kamar itu. Apalagi membahas untuk mengubah kamar itu, lebih tidak pernah lagi.


Baginya, Rama yang sangat perhatian dan juga mencintainya saat ini, itu sudah sangat cukup.


Kebahagiaannya sudah lengkap sekarang.


 


TAMAT


 

__ADS_1


__ADS_2