
"Tuan, nyonya dan Tuan Besar meminta anda untuk kembali ke mansion"
"Aku sedang sibuk"
"Tapi ini tentang perusahaan Bakti tuan"
Rey menghentikan tangannya yang mengetik beberapa dokumen. Beberapa hari ini ia berkerja dari villa, dan Sekretaris Galang yang menghandle semuanya. Ia ingat, itu adalah perusahaan pesaing cintanya, Yudha. Ia ingin mengakuisisi perusahaan itu karena kebutaannya pada Steva. "Baik, kita pergi sekarang. Kau berjaga disini."
"Maaf tuan,tapi nyonya meminta semua kembali"
Rey mulai berpikir. Steva sudah mau menurutinya tanpa membuat keributan selama ini. jika ia meninggalkannya sebentar saja ia rasa tidak akan ada masalah.
"Baiklah, kita pulang sekarang."
Rey berpesan pada bi Ina untuk selalu mengawasi Steva saat ia keluar dari kamarnya. Dan saat beberapa menit keluar dari villanya ia mendapat telfon yang mengatakan bahwa Steva ingin main hujan. Rey tersenyum, ia ingat betul saat mereka masih menjalin kasih dulu, Steva selalu mengajaknya bermain hujan. Meskipun Rey tak menyukainya, ia mengikutinya hanya untuk melihat senyum Steva. Tapi ia paling benci saat melihat Steva sakit setelah hujan sialan itu. "Katakan padanya asal dia tidak sakit saja. Dan, tidak boleh lebih dari gerbang"
Sepanjang jalan Rey hanya tersenyum mengenang kembali kisahnya. Meski kini Steva membencinya, Rey merasa sudah cukup puas menjeratnya dengan ikatan pernikahan yang tak akan pernah Rey putuskan.
#
1 jam kemudian, telfonnya kembali berdering
"Tuu... tuaan... nona tidak ada di villa"
__ADS_1
Jendaarrr !!! Bagaikan tersambar petir Rey mendengarnya. Ia melupakan fakta bahwa Steva tidak mengakui pernikahan ini.
"Cari dia. Kalau tidak ketemu kalian tahu akibatnya !"
tuutt... tuttt...
"Putar balik"
"Tapi tuan, kita tidak bisa lewat jalan ini lagi. kita harus memutar untuk kembali ke villa"
"Lakukan. Asal cepat sampai"
"Baik tuan"
Rey merapatkan giginya. 'Sebegitu bencinya kah Steva padanya? Sebegitu inginnyakah Steva meninggalkannya? Bagaimana bisa Steva tidak menyadari cintanya yang begitu besar'
Perjalanan putar balik itu membutuhkan waktu lebih lama daripada saat mereka berangkat. Karena hujan lebat, banyak jalan 2 arah ditutup hingga membuat mereka berputar" hanya untuk menuju satu arah saja.
Ketika baru memasuki hutan, Rey melihat Steva berjalan sempoyongan dengan kondisi yang buruk.
"Stop"
Rey tak langsung turun dari mobil. Ia melihat Steva dari jauh. Steva terduduk di pinggir jalan dan mengeluarkan obatnya.
__ADS_1
'Bahkan kau sampai membawa obatmu hanya untuk lari dariku'
Ia terus mengamati Steva yang sangat gigih memencet mencet obatnya yang sudah habis. Akhirnya Steva terbaring di tanah dengan nafas yang masih terengah engah. Rey mulai turun dari mobilnya dan mendekati Steva. Steva melambai padanya dengan mata setengah tertutup. Rey segera mengangkat Steva dan membawanya kembali ke villa.
"Telfon dokter Mia"
Bi ina membantu Steva mengganti pakaiannya
#
Dokter Mia sudah sampai dan memeriksa keadaan Steva.
Ia memberi infus dan oksigen tambahan pada Steva. Tak lupa ia membersihkan dan mengobati luka yang ada di tubuh Steva.
"Bagaimana?"
"Setelah menghabiskan oksigen dan infus itu nona ini akan membaik. Saya juga sudah memberi obat pereda demam pada nona ini. Jangan perbolehkan dia melakukan hal hak berat."
"Panggil dia nona muda"
"Ini istri tuan?" Dokter Mia terkejut karena ia terbilang dekat dengan Rey tapi ia tak tahu kalau Rey sudah menikah.
"Hmm"
__ADS_1
"Baiklah tuan, ini obat nona muda. Saya sudah menuliskan jadwal minumnya.Saya permisi"
Meskipun Dr.Mia dekat dengan keluarga Rey, ia tidak mau terlalu ikut campur dalam urusan rumah tangga mereka. Ia hanya berpikir untuk menjalankan kewajibannya saja. Selebihnya ia tidak pernah bertanya.