
Tok tok... pintu kamar Steva diketuk seseorang. Tapi, Steva enggan membukanya.
"Bukalah nona, ini saya Galang"
Steva masih diam di tempatnya. Yang ia tahu Galang adalah teman baik Rey yang selalu mengkintilinya kemana mana.
"Kalau anda tidak mau membukanya, Mungkin Tuan muda akan terus seperti ini."
Steva mendekat ke arah pintu.
"Biacaralah, aku akan mendengarkanmu" katanya tanpa membuka pintu.
"Hh... baiklah. Nona, saya mohon maaf atas kelakuan lancang saya menemui nona. Tapi, nona harus tahu apa yang terjadi sebenarnya. Tuan muda sangat mencintai anda, nona. Ia melakukan apapun demi anda. Ia memutuskan hubungannya dengan keluarganya hanya untuk bersama anda. Sebenarnya saya bukan teman tuan muda, saya adalah bawahannya. Apapun yang ia lakukan saat ini demi kebaikan nona"
"Demi kebaikanku? Termasuk menyiksaku?"
"Nona, Tuan muda bukan orang yang bisa mengekspresikan dirinya. Hal ini terjadi karena tuan muda sedang mabuk."
Ceklek... Steva membuka pintu dan melihat Galang dengan tatapan sendu.
"Apa kau tahu, dia selalu menyiksaku disini? Dia bahkan mengancam ibuku. Entah bagaimana keadaanya sekarang. Rey itu gila. Dia memalsukan pernikahan Mas Yudha demi menjalankan rencananya. Mencintaiku?? Huh,itu mimpi"
__ADS_1
Galang sudah tidak bisa berkata kata lagi. Bagaimana ia menjelaskan tentang ibu Steva? Hanya Rey yang berhak mengatakan itu.
"Tahukah kamu galang, aku sudah berusaha menerima pernikahan ini. Aku sudah berusaha menjadi istri yang baik untuk Rey, tapi Rey terus menyiksaku seperti ini. Apa kau tahu aku hampir mati hari ini? Itu cinta?? Pantaskah itu disebut cinta?" Steva mulai menangis.
"Nona, banyak hal yang belum anda ketahui tentang tuan muda. Mulailah mengenalnya nona, mulailah memahaminya, ia terlampau cemburu pada mantan kekasih nona. Ia hilang kendali karena hal itu"
"Cukup. Pergilah. Aku ingin sendiri"
"Baik. Setidaknya pikirkan lagi nona, saya permisi"
Steva masuk ke kamarnya. Ia bingung mencerna semua ini. Apa yang harus ia lakukan?? Tubuh dan hatinya sakit, badannya ngilu bahkan ia mencoba bertahan. Tapi balasannya seakan tak setimpal untuknya.
...----------------...
Steva terkejut dan seger berdiri.
"M.. mau apa kau?? Apa kau ingin membunuhku sekarang?"
Steva mengambil sebuah hiasan kamar dan menodongkannya pada Rey. Rey duduk dan mencoba menenangkan Steva.
"Tenanglah, aku tidak akan menyentuhmu"
__ADS_1
"Bahkan, kau mengatakan itu saat ingin membunuhku semalam"
Rey menunduk. Kali ini ia kalah telak.
"Maafkan aku, aku tidak bermaksud menyakitimu."
Steva bergetar menahan tangis. Hiasan yang ia pegang kini terjatuh sudah. Ia mulai terduduk lunglai di lantai.
"Rey.. aku mulai mencoba untuk menerimamu. Menerima pernikahan kita. Aku mencoba menjadi istri yang baik untukmu. Kau bukan mendukungku malah menyiksaku seperti ini. Sebenarnya apa salahku padamu Rey? Untuk apa kau menikahiku? Kau sudah menghinaku, menginjak injak harga diriku waktu itu. Apa itu masih belum cukup Rey?"
Rey mendekati Steva dan merengkuhnya.
"Sayang, maafkan aku. Aku hanya ingin bersamamu. Aku terlalu cemburu padanya. Kau memperhatikannya. Sedangkan aku tidak pernah ada di matamu."
Rey membuka pelukannya dan memegang wajah Steva.
"Mari kita mulai dari awal lagi. Kalau kau tidak bisa mencintaiku dalam waktu satu bulan, kau boleh meninggalkan tempat ini. Aku tak akan menghentikanmu."
Steva menatap Rey.
"Kali ini kau harus menepati janjimu. Aku juga akan menjadi istri yang baik untukmu. Sampai saat itu tiba, dan aku masih belum bisa menerimamu kembali, mari kita berpisah"
__ADS_1
"Baiklah, terserah padamu saja"
Rey kembali memeluk Steva, dan Steva juga membalasnya dengan hangat.