
Steva di bawa ke rumah sakit psikolog yang sedikit terpencil. Meskipun semua psikiater terbaik ada di RS itu, tapi Dr.Zain sedikit heran. Mengapa tuan muda sekaya itu malah menyembunyikan istrinya? Padahal istrinya sangat cantik, periang, dan wanita hebat. Atau jangan jangan tuan muda itu punya wanita lain diluar sana? Atau dijodohkan oleh orang tuanya?
Pikiran Dr.Zain berkelana kesana kemari. Ia tak mau Steva terus tersiksa di tangan tuan muda arogan itu. Ia memutuskan untuk menemui orang tua tuan muda itu.
"Siapa anda? Ada perlu apa kemari?" Ucap Tuan Diranta tegas dan sedikit menyorot.
"Saya Dokter Zain, tuan"
"Ada hal yang perlu saya bicarakan dengan tuan"
...............
"Ahhahahahah.... Sudah ku duga Rey pasti hanya bermain main dengan wanita itu"
Dr.Zain terkejut, bermain main? Selama ini penyiksaan yang ia dengar dari Dr.Mia itu permainan bagi tuan muda itu? Kurang ajar sekali dia.
"Maaf tuan, apa saya boleh meminta bantuan anda?"
"Katakan !"
"Maaf, tuan. Saya hanya menginginkan nona Steva. Tidak lebih, dan tidak kurang. Bisakah anda membantu saya agar tuan muda tidak menginginkan nona lagi?"
"Hahaha... itu mudah. Cukup kau lakukan setiap kata kataku dan kau akan memiliki wanita itu dengan mudah"
"Baik, tuan. Saya permisi"
'Kena kau, wanita sialan. Habis kau kali ini' Ayah Rey tersenyum licik
__ADS_1
"Tadi itu siapa sayang?" Ibu Rey datang membawa kopi.
"Keberuntungan kita" ayah Rey tersenyum girang.
"Sayang, jangan mengganggu Rey lagi, biarkan saja dia bahagia dengan pilihannya. Selama ini kau terlalu keras padanya"
"Kalau aku tidak keras, dia tidak akan jadi seperti sekarang. Sukses dia itu karena aku." Tuan Diranta berteriak marah
“Baiklah, sudahlah. Jangan marah marah lagi. Terserah kau saja”
...----------------...
Pemulihan Steva dilakukan dengan baik... Dr.Zain juga menjadi semakin dekat dengan Steva. Kadang kadang Dr.Zain akan memotret Steva diam diam saat Steva sedang sendiri di taman yang ada di Rumah Sakit itu.
Saat sedang memotret Steva, ponsel Dr.Zain bergetar
"Iya, Tuan"
............
"Ya, kami masih berada di sini"
............
"Baik, Tuan. Saya akan kondisikan"
Dr.Zain menutup Teleponnya.
__ADS_1
'Nona, aku tidak akan membiarkanmu menderita. Aku akan memberikan yang terbaik untukmu.'
Tanpa tahu apa apa, Dr. Zain berfikiran seenaknya. Ia mengabaikan hati Steva, mengabaikan karirnya, yang jelas jelas kalau ia ketahuan berkhianat pada tuan muda itu, tamat riwayatnya.
Dr. Zain masih terus berinisiatif mendekati Steva
"Halo, Nona"
"Oh, hai Dokter" Steva melirik sekilas lalu kembali pada bunga di taman itu
"Bagaimana perasaanmu?"
"Aku baik, aku hanya belum berani saja bertemu lelaki itu. Tapi dokter Jun bilang aku sudah 80% pulih."
Dr. Jun adalah dokter spesialis yang didatangkan Rey dari Amerika, khusus untuk memantau perkembangan Steva.
"Semangat!! kamu pasti bisa"
"Hehe, terimakasih ya dokter, sudah membantuku menghadapi jiwaku ini"
"Hei, jangan lupakan dokter tampan ini kalau sudah bebas dari sini yaa"
Mereka Saling tersenyum. Sementara di belakang mereka terasa aura panas membara.
'Kau selalu tersenyum seperti itu kepada laki laki lain. Kenapa kau tak pernah memberikan senyum itu padaku?'
Rey, dengan mata membaranya ingin menghampiri mereka. Tapi tangan Dr. Mia menariknya. Ia menggeleng, seolah berkata 'jangan kesana. Ingat ! dia masih takut padamu' Rey yang mengerti langsung melengang pergi dari sana.
__ADS_1