
Yudha dan Steva sampai di pelataran villa.
Tapi tidak mendapati siapapun ada di dalam villa padahal, mobil Rey terpampang jelas di depan villa. Itu berarti kedua bodyguard Rey sudah kembali. Steva naik ke kamarnya. Kosong.
Ia juga pergi ke kamar para pelayan. Tapi kosong semua. Kemana mereka pergi??
Steva mencoba meneliti keadaan luar villa dari balkon kamarnya. Ia melihat pintu yang terhubung dengan ruang bawah tanah terbuka.
'Tumben,biasanya selalu tertutup'
Steva bergegas menuju ruangan itu. Yudha hanya mengekor dibelakang. Meski dari tadi ia bertanya pada Steva, tak satupun dari pertanyaannya yang terjawab. Pikirannya dan pikiran Steva mengalir ke arah yang berbeda. Entah apa itu, Yudha tidak bisa menebak pikiran Steva.
Saat mereka sampai di ruang bawah tanah, Steva berhenti sejenak. Ia mengatur nafas. Ini kali kedua ia datang ke tempat ini. Tapi tetap saja, menakutkan baginya berada disini terlalu lama.
"Steva, ruang apa ini?"
"Sstttt..."
Steva berjalan perlahan menuruni tangga terakhir. Alangkah terkejutnya ia, Para pelayan sudah diikat dan disiksa sampai terkapar lemah. Bahkan untuk berteriak saja mereka tidak mampu.
Yudha menutup mata Steva.
"Rey" Panggil Yudha
Rey menoleh. Ia melihat Steva yang berdiri dengan mata tertutup tangan Yudha. Tangannya mengepal geram. Steva sudah gemetaran. Ia pernah menyaksikan kejadian ini beberapa bulan lalu. Dan sekarang, ia harus menyaksikannya lagi untuk yang kedua kalinya. Bahkan, menurutnya lebih parah karena para pelayan itu ia lihat setiap hari. Melihat wajah wajah yang di kenalinya babak belur, ia tentu tak bisa menyembunyikan rasa kalutnya.
__ADS_1
"Kenapa kau membawanya kembali? Apa kau tahu aku bisa menghabisinya kalau aku melihatnya lagi" Kata itu tertuju pada Steva.
Steva diam saja. Badannya masih gemetaran. Yudha yang memperhatikan Steva menggenggam tangannya.
"Tenanglah. Dia tidak akan melukaimu"
"Rey, kami...."
Belum sempat Yudha menjelaskan, Rey sudah menarik Steva ke pelukannya. Ia murka tangan kekasih halalnya itu dipegang lelaki lain.
Saat Steva terhenyak ke pelukannya, Rey baru menyadari kalau Steva masih belum terbiasa dengan pemandangan ini. Rey melihat mata Steva berkaca kaca, tubuhnya mengeluarkan keringat dingin.
Rey dengan sigap menggendongnya dan membawanya keluar.
...----------------...
"Bagaimana keadaan Steva?"
"Kau tak perlu tahu"
"Hhh... Kau tak perlu ketus begitu padaku. Aku sudah merelakannya. Asal kau tak membuatnya terluka."
"Aku tidak akan pernah melukainya"
"Hari ini Steva mengetahui fakta tentang ibunya"
__ADS_1
Rey menoleh
"Kau memberitahunya?"
"Yaa.. Dan dia berhak tau tentang itu."
"Harusnya kubunuh saja orangmu yang selalu mengekor mertuaku kemana mana itu"
Yudha terkejut.
"Kau tahu aku membuntutimu?"
"Hah, aku bahkan hafal seluruh wajah bodyguardku. Jangankan seekor lalat sepertimu, aku bahkan bisa tahu orang suruhan orang tua ku"
"Bukankah orang tuamu menentang hubunganmu dengan Steva?"
"Kau tidak perlu tahu dan ikut campur"
"Hhh.... Kau benar benar keras kepala Rey. Kau tahu kan kalau sudah menyangkut orang tuamu, Steva dalam bahaya. Kau harusnya memperhatikan itu."
"Cukup. Aku lebih tahu apa yang harus kulakukan"
Yudha tahu Rey tidak bisa terbantahkan. Ia mulai mencari tahu tentang Rey saak ia bersama Steva dulu. Jadi, ia memahami karakter Rey.
"Baiklah. Tapi kau harus ingat satu hal, mungkin sekarang kau masih bisa menjaganya, tapi cepat atau lambat mereka akan membuat Steva menderita. Bukan hanya kau. Tapi Steva!! Kalau kau atau orang tuamu sampai menyentuhnya, aku tidak akan tinggal diam"
__ADS_1
Rey diam saja. Ia tahu yang Yudha katakan benar. Ia juga tahu Steva dalam bahaya, makanya Rey membawanya ke sini. Villa ini hanya di kenal sebagai pusat penyiksaan mata mata saja oleh keluarganya. Dan sebelum ada Steva, Rey lebih sering tinggal disini daripada di mansionnya.