Pernikahan Menyiksa

Pernikahan Menyiksa
KELEPASAN


__ADS_3

Steva mulai membuka matanya. Tubuhnya terlalu lemah untuk bangkit. Matanya memutar mengelilingi ruangan. Ia berada di villa lagi?? Tapi ia pikir ia sudah berlari jauh. Ia coba mengingat ingat apa yang terjadi. Di tangannya terdapat infus dan dihidungnya terdapat selang oksigen. Ia mencoba bangkit meskipun seluruh tubuhnya berasa ngilu.


"Sudah bangun?"


Suara berat itu, suara yang ia yakini akan bisa lepas darinya. Steva menoleh kearah sumber suara


"R.. Rey?"


"Apa kau lupa apa yang ku bilang padamu? Rupanya kau hanya menyayangi tubuhmu sendiri tanpa memperdulikan ibumu"


Degg... Jantung Steva seakan berhenti mendengar kata kata Rey.


"Kau tidak menyentuhnya kan Rey???" Steva melepas selang oksigen dan infusnya secara paksa


"Kumohon jangan sentuh ibuku." Ia berlari ke arah Rey, tapi karena luka di kakinya serta kondisnya yang lemah, ia terjatuh dalam pelukan Rey.


"Kau merayuku, baby?"


"Tidak, aku bahkan tak sudi bersentuhan denganmu".


Steva mundur yang membuatnya terjatuh.

__ADS_1


Rey jongkok dan memegang dagu Steva " Apa hukuman yang pantas untuk mulutmu ini? Dan hukuman yang pantas untuk tubuh yang lari dariku ini?"


Steva mulai ketakutan saat tangan Rey menyentuh bagian dadanya dengan ibu jarinya.


Plaakk... Steva refleks menampar Rey. Membuat emosi Rey memuncak seketika. Ia menjambak Rambut Steva hingga Steva meringis kesakitan.


"Kau tidak akan pernah bisa lari dari sini. Aku mengasihanimu bukan mencintaimu. Jadi jangan pernah berpikir kalau kau bisa berlaku seenaknya padaku."


Rey melepas jambakannya dan mulai mengangkat Steva lalu melemparnya ke tempat tidur. Belum sempat Steva mengeluh, Rey menindihnya dengan tubuh kekarnya. menangkap kedua tangan Steva dengan satu tangannya dan menariknya keatas kepala Steva.


"Mau apa kau??" Steva memberontak.


Tanpa menunggu jawaban Steva, Rey langsung mencium bibir Steva. Steva hanya bisa memberontak dengan menggeleng gelengkan kepalanya dan meliuk liukkan tubuhnya. Rey memegang kepala Steva dan mencoba memasukkan lidahnya. Tapi mulut Steva terkunci rapat dengan lelehan bening yang menguasai matanya.


"Buka mulutmu"


Steva masih menangis dalam diam dan tetap merapatkan bibirnya. Rey yang mulai gemas akan hal itu sontak langsung menyambar bibirnya lagi dan tanganyya mulai masuk ke baju Steva. Sontak saja Steva membuka mulutnya ingin berteriak.


Dan Rey tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. ia menelisik seluruh bagian dalam mulut Steva yang sudah lama ia nantikan.


Ia belum pernah menyentuh Steva dan ini yang pertama kalinya.

__ADS_1


Steva menangis sejadi jadinya. Tangan Rey mulai membuka satu persatu kancing kemeja Steva dan mulai mencumbunya.


"Pergi,dasar bajingan. Jangan menyentuhku... hiks hiks"


Rey tidak memperdulikan ocehan Steva. Tapi tiba tiba...


Plak.. plakk... Steva menampar dirinya sendiri. Tangannya memang sudah dilepaskan oleh Rey sejak ia membuka kancing baju Steva tadi. Rey yang terkejut menghentikan aksinya.


Ia segera bangkit dari atas tubuh Steva dan berdiri.


"Cih murahan, pakai bajumu dan jangan coba coba menggodaku dengan tubuhmu itu."


Ia lalu keluar dengan perasaan tak karuan. Lagi lagi ia kelepasan. Ia memang tak bisa menahan apapun kalau berhubungan dengan Steva


'Maafkan aku sayang, aku melukaimu lagi'


Steva segera mengancingkan bajunya dan menarik selimutnya menutupi seluruh wajahnya.


'Rey,kau berubah. Kau benar benar kejam padaku. Berkali kali menghinaku dengan kekuasaanmu'


Ia menangis dalam selimut itu hingga matanya terpejam.

__ADS_1


__ADS_2