
Rey terlihat mengenaskan. Daripada mengenaskan, ia lebih terlihat menakutkan.
Matanya memerah, meskipun tidak setajam saat ia melihat Yudha, tapi mata itu menunjukkan kemarahan. Ia melangkah perlahan mendekati Steva.
Steva mundur perlahan ke belakang.
"R.. Reyy..."
"Berani sekali kau masuk kesini"
Rey membanting botol miras yang di bawanya.
Steva terkejut dan mulai gemetar. Ia bingung harus apa sekarang. Ia mencoba mencari celah untuk pergi. Tapi Rey seperti ada dimana mana dimatanya. Ia terus mundur sampai tidak ada jalan lagi.
"Beraninya kau masuk kesini!!"
"Mm..maaf Rey, Aku tidak bermaksud menyelinap. Aku... aku hanya"
"DIAM" Rey memukulkan tangannya ke tembok. Steva semakin ciut.
"Mm.. Maaf Rey..." Steva terjatuh dan meringkuk di bawah Rey. Ia takut Rey akan menyiksanya lagi. Bahkan ia lebih baik mati dari pada disiksa terus menerus seperti ini.
__ADS_1
"Heei,, heii... Jangan takut baby... aku disini... aku akan melindungimu dari orang orang gila itu."
Rey jongkok dan membelai rambut Steva. Aroma alkohol sangat kuat menusuk hidung Steva.
Steva mengangkat kepalanya.
"Kau mabuk Rey..."
"Tidak baby, aku tidak mabuk. Kau lihat aku masih sangat sadar. Aku masih sangat jelas melihatmu baby, kau sangat cantik. Lihat!! Bahkan foto foto itu tak sebanding dengan dirimu." Rey menatap Steva dengan tatapan menakutkan.
Steva mulai menangis
"Kumohon Rey... Biarkan aku pergi, kau sedang mabuk sekarang... Aku takut"
Steva semakin ketakutan. Ia hanya meringkuk dan menenggelamkan wajahnya lagi.
"Jangan takut baby, Selama kau patuh padaku, aku tidak akan melukaimu. Kau hanya perlu diam dan tidak membangkang padaku."
Steva masih menenggelamkan wajahnya. Ia gemetar dan bingung
Rey mulai berdiri.
__ADS_1
"Tahukah kau?? Aku tidak pernah berhenti mencintaimu. Kapanpun itu. Bahkan saat kau mencintai orang lain, aku masih mencintaimu. Aku bahkan menikahimu karena aku tidak mau kehilanganmu. Tapi kau??" Rey berbalik dan membungkuk lagi.
"Kau bahkan mengkhianatiku dan ingin lari dariku. Kau menuliskan hal hal yang membuatku sakit. Kau baik padaku bukan karena cinta, tapi karena kau ingin pergi dari sini."
"Rreeyy.."
"Ssttt... Kau membuatku sakit baby, Kau mengkhianatiku. Kau mengkhianatiku !!" Tiba tiba Rey kehilangan kendali.
Ia mulai menjambak rambut Steva dan melemparkannya sampai ia terpental.
Steva yang sadar akan bahaya, mulai berlari keluar. tapi Rey menarik tangannya dan menjatuhkannya ke Lantai. Ateva berusaha bangkit. Ia mulai berdiri dan berlari. Tapi Rey dengan cepat mencekiknya. Merapatkannya ke dinding. Sampai tidak ada celah untuk lari. Jangankan berlari, bernafas saja ia susah.
Steva menggunakan kakinya untuk menendang kejantanan Rey, Rey yang kesakitan langsung terduduk. Steva berlari setelah nafasnya mulai normal. Ia bergegas ke kamarnya dan mengunci pintu.
Tak lama terdengar pintunya di gedor gedor
"KELUAR SAYANGG... AKU TIDAK AKAN MENYAKITIMU !!"
Steva duduk di kasurnya dengan obat yang masih setia ia pompa. Mungkin saja kalau ia tidak lari, ia sudah jadi mayat sekarang.
Beberapa menit kemudian gedoran pintu itu berhenti. Steva tak berani keluar kamar sama sekali. Ia masih terbayang wajah murka Rey padanya.
__ADS_1
...----------------...
Sekertaris Galang membawa Rey pergi dari depan kamar Steva, Ia membawa Rey ke ruang kerjanya dan memberikannya obat. Sekertaris Galang tiba disana karena di telepon bi Ina, yang tidak sengaja mendengar pertengkaran di ruang kerja tuannya.