
Steva mulai berpikir. Kalau ia selesai makan, apa Rey akan menghukumnya dengan berat?
Tapi selama ini Rey tak pernah melakukan sesuatu di luar batas. Yaah,,, meskipun pernah toh lebih banyak baiknya. Ia mulai memikirkan saat saat dimana ia sangat bahagia bersama Rey dulu.
Saat sekolah, Rey bahkan pernah bekerja hanya karena ingin terlihat miskin olehnya. Tak bisa di pungkiri bahwa hal itu melunakkan hati Steva. Banyak hal yang Rey korbankan. Bahkan, Steva pernah mendengar bahwa Rey dan orang tuanya bertengkar karena dirinya.
Ia memang mencintai Yudha, ia merasa Yudha adalah laki laki yang baik. Selama ini Yudha yang selalu membantunya saat ia dalam masa sulit.
Steva ragu. Apa benar ini cinta? Atau hanya sekedar rasa terima kasih?
Mungkin, ini saatnya ia menerima Rey sebagai suaminya. Menerima Rey yang tetap akan menjadi imamnya sampai kelak.
Setelah melalui proses pemikiran yang panjang, Steva akhirnya mulai memantapkan keputusannya.
Disaat bersamaan, Rey keluar dari kamar mandi.
...----------------...
"Sedang apa?"
"Rey, bisakah aku bicara padamu?"
Rey melirik sekilas. Menaikkan sebelah alisnya Sambil memegang handphonenya.
"Hmm.."
__ADS_1
Steva merebut hp Rey dan mambuangnya di kasur. Ia menatap mata Rey, tanpa berkata sepatah katapun.
"Apa?" Rey yang masih setia dengan ekspressi dinginnya.
Steva mendudukkan dirinya di kasur sambil menghela nafas berat. Ia sudah susah payah mengumpulkan keberanian ini.
"Rey... Aku tak tahu apa ini keputusan yang benar saat ini. Aku mungkin banyak berhutang padamu. Aku juga hampir melakukan pernikahan dengan mas Yudha. Tapi kau.."
"Kalau kau hanya ingin berbicara tentang orang lain, aku tak punya waktu" Ia melengang pergi.
Tapi Steva yang tergopoh menarik handuk di pinggang Rey, hingga....
Sreettt.... "Aaaahhh...." Steva menutup kedua matanya. "maa... maaf Rey. Aku... tidak bermaksud"
"Hei," Rey yang hendak marah karena malu, seketika muncul pikiran jahil di otaknya.
"Tii... tidak"
'Duh, bicara apa aku ini. aku kan sedang berusaha menerima dia, kenapa malah berkata begini? Ini mungkin kelihatan tidak serius untuknya'
"Emm... Maksudku iya"
'Apa aku seperti wanita murahan sekarang?'
"Emm... tidak tidak"
__ADS_1
'Ah entahlah. jawab saja dulu. Bisa gila aku'
"Hahahaha... baiklahh... kau benar benar lucu sekarang. Jadi kau diam diam berpikiran mesum padaku ya?"
"Bukan Rey... aaaahh"
Steva yang membuka matanya tersigap menutupnya lagi, karena Rey ternyata belum meakai handuknya.
"Pakai dong handukmu"
"Kenapa? Toh kau pernah merasakannya juga. pernah melihat dan menikmatinya"
"Akuu..." Sial, Steva benar benar kehabisan kata kata sekarang.
Rey perlahan membuka tangan yang menutupi mata Steva. Mendongakkan kepalanya dan mencium lembut keningnya. Steva bingung harus apa. Jantungnya berdetak kencang dan posisi mereka benar benar dekat. Hidung mereka saling bersentuhan. Perlahan Rey menempelkan kedua bibirnya pada bibir Steva. Steva tak menolak.
Melihat Rey yang mulai memejamkan matanya, Steva melakukan hal yang sama. Ciuman itu benar benar berbeda dengan ciuman yang Rey berikan pada malam pertamanya dulu. Lebih tepatnya malam pertama untuk adik kecilnya.
Steva ingin melepas ciuman itu karena ia tidak tahu cara berciuman dan merasa sekarang seperti kehabisan nafas. Tapi tangan Rey dengan cepat menahan tengkuk Steva sambil berkata
"Bernafaslah seperti biasa. Nikmati saja. Kau tak perlu membalasku. Cukup aku yang memainkannya"
Steva menganggukkan kepalanya perlahan, dan mulai bernafas dengan normal.
Jangan lupa Like dan komen kekurangan Author yaa... Satu like kalian sangat membantu author untuk bersemangat menulis.
__ADS_1
Terimakasih
PENASARAN YAAA...🤣🤣🤣✌✌✌