Pernikahan Menyiksa

Pernikahan Menyiksa
APA BENAR TIDAK SAKIT?


__ADS_3

Hari berlalu seperti biasa. Akhir" ini Steva menjadi penurut. Ia makan dan istirahat dengan teratur. Bukan karena Steva takut, tapi ia ingin menagih janji Rey yang akan membawanya bertemu ibunya saat ia sembuh nanti.


#DIRUANG MAKAN


"Aku sudah sembuh"


Rey diam berpura pura tuli. Ia meneruskan sarapannya.


"Aku sudah sembuh"


"Kau belum pandai"


'Apa?? apa hubungannya ia sembuh dengan pandai?'


"Apa maksudmu?"


"Kita akan menemui ibumu saat kau sudah pandai. Cobalah malam ini."


"Hei... Kau pikir aku apa?? Pelac*r? Kau bilang kalau kau akan membawaku saat aku sembuh" Steva membanting sendok yang ia pegang.

__ADS_1


"Turuti saja perintahku". Rey sedikit menekankan suaranya. Makanannya habis dan ia mulai berdiri.


" Aku ada urusan baby. Kita ketemu lagi nanti malam. Semakin kau pandai, semakin cepat kau bertemu ibu mertuaku." Rey menjilat daun telinga Steva dan beranjak pergi.


Muka Steva merah padam. Sedang ada bodyguard dan pelayan yang melihat mereka. Bisa bisanya ia melakukan hal menjijikkan seperti itu.


#


Steva mondar mandir dikamarnya, memikirkan cara menghindari Rey. Pernikahan ini saja masih belum bisa ia terima, bagaimana mungkin ia harus menyerahkan diri lagi padanya? Oh tuhan, memikirkannya membuatnya frustasi. Steva mengambil obatnya dan menyemprotnya perlahan. Ia memang tidak sedang kambuh, tapi dadanya seperti sesak. Pikirannya melenceng jauh entah kemana.


Jam menunjukkan pukul 02.00 dini hari. Tapi Steva masih berkecamuk dalam pikirannya. Ia takut tiba tiba Rey datang dan melakukannya. Ia ingin menangis, tapi air matanya tak mau keluar. Rey masih setia melihat gerak gerik Steva dari laptopnya. Beberapa kali ia tersenyum kecil.


Saat Rey berpikir sendiri, Ia melihat Steva tertidur di lantai dengan posisi duduk dan memegang erat selimutnya. Rey sampai terheran melihatnya. Apalagi sebelumnya ia melihat Steva mengenakan baju tidur yang super tebal🤣.


Rey mengambil kunci mobil nya dan mulai tancap gass ke Villa-nya. Lebih tepatnya, ke Steva-nya.


Rey membopong tubuh steva ke atas kasur dan memeluknya. Ia juga lelah hari ini. Tak lupa otak jahilnya memanggilnya untuk menjahili Steva.


'Haha, mari kita lihat ekspressimu besok pagi'

__ADS_1


#Pagi#


Steva membuka matanya. Ia merasa seperti tertindih sesuatu. Benar saja, tangan Rey sedang melingkar mendekapnya erat. Tapi, ia merasa sesuatu yang berbeda. Dan ketika ia membuka selimutnya.....


"Aaaaaaa...."


"Berisik, bodoh" Rey menutup mulut Steva tapi langsung di tepis oleh Steva.


"Kaaau.... benar benar melakukannya?" Steva menatap Rey dengan mata berkaca kaca dan tubuh gemetaran. Ia ingat semalam berpakaian tebal bahkan berselimut juga. Bagaimana bisa ia bangun hanya menggunakan bikini?


Rey menahan senyum. Sejujurnya ia ingin tertawa keras sekarang. Melihat ekspresi Steva yang menurutnya sangat menggemaskan.


"Apa kau tidak merasakannya?"


Steva berlari ke kamar mandi. Mengunci pintunya. Pikirannya kacau lagi. Ia bingung harus apa. Ia meraba area sensitifnya. Tak terasa apapun. Apa kalau sudah melakukannya itu tidak sakit? bahkan tak terasa apapun? apa benar begitu??


Oh tuhan,, bagaimana ini? Apa yang harus ia lakukan?? ia benar benar bingung sekarang.


Rey yang melihatnya langsung tertawa. Tentu saja ia tak mengeluarkan suara tawanya. Ia merasa kali ini ia menang telak😅.

__ADS_1


"Hai, Readers.... bantu like yaa.... 1 bantuan like dari kalian sangat membantu untuk mimin. Terimakasih😁😘😘😘"


__ADS_2